
Keesokan harinya, Roni masih terpikirkan oleh kejadian semalam. Ia bertanya-tanya, siapa sebenarnya orang yang masuk ke kamarnya? Kenapa ingin mengambil cincinnya? Pertanyaan-pertanyaan itu sampai pagi ini masih membuat Roni penasaran.
Sekarang Roni duduk di kursi, di taman istana. Angin sejuk melambai kulit wajahnya, terasa menyegarkan, tetapi seolah Roni tidak menikmatinya karena pikirannya yang bercabang dua. Bingung dengan situasi yang dialaminya semalam.
"Kenapa? Ada apa dengan cincin ini sampai ada orang yang ingin mengambilnya? Padahal cincin ini tidak mengandung sihir, semalam aku sengaja membohongi orang itu," monolog Roni sambil mengamati cincin gelombang air yang tersemat di jari manisnya dengan penuh ketelitian. Cincin itu memang sangat bagus, berwarna biru dan berkilauan, tetapi sama sekali tidak mengandung sihir atau kekuatan khusus. Lalu apa yang membuatnya menarik? Dibandingkan dengan cincin keluarga kerajaan, cincin itu tidak lebih bagus.
Pangeran Henry seperti biasa selalu mendatangi Roni. Ia kemudian duduk di sebelah Roni dan bertanya, "Apa yang membuatmu tampak bingung seperti itu?" Ia melihat ekspresi wajah Roni seperti sedang memikirkan sesuatu.
"Tentang cincin ini," jawab Roni sembari menunjukkan cincinnya.
"Cincin pemberian Putri Victoria?" tanya Henry sembari mengamati cincin itu di jari manis Roni.
"Iya. Apa cincin ini begitu spesial sampai ada orang yang ingin mengambilnya?" tanya Roni.
"Maksudmu?" tanya Pangeran Henry.
"Semalam ada seseorang yang masuk ke kamarku dan berniat mengambil cincin ini. Untung saja aku segera bangun," jawab Roni dengan gelisah.
Henry mengernyitkan kening, mencoba memahami situasi. "Mungkin ada yang menilai cincin ini memiliki nilai lebih, meski sebenarnya tidak. Atau mungkin ada alasan lain yang belum kita ketahui."
Roni memandang cincinnya dengan pertimbangan. "Sulit dipahami. Semalam, orang yang masuk ke kamarku tampaknya yakin cincin ini berharga."
Henry memandanginya serius. "Kita perlu mencari tahu siapa dia dan apa motifnya. Ini bukan hal sepele."
Roni mengangguk setuju. "Tapi bagaimana kita bisa menemukan orang itu? Dia menggunakan topeng, dan sulit dikenali."
"Kita punya sumber daya di kerajaan ini. Aku akan meminta bantuan penjaga istana, dan kita bisa menyelidiki lebih lanjut." Henry tersenyum.
Roni menghela napas lega. "Terima kasih, Pangeran Henry. Aku tidak ingin masalah ini dibiarkan begitu saja."
__ADS_1
Edward melintas di taman istana, tak sengaja mendengar pembicaraan Pangeran Henry dan Roni mengenai cincin yang akan ia ambil semalam tetapi gagal. Kemudian Edward bersembunyi di balik pohon rindang untuk mendengarkan pembicaraan Pangeran Henry dan Roni.
"Mereka sedang membicarakan cincin itu. Sial, aku gagal mengambilnya," ucap Edward dengan suara sangat pelan.
Sementara itu Henry dan Roni terus berbincang.
"Kau mengetahui ciri-ciri orang tersebut?" tanya Pangeran Henry. "Ah, maksudku dari perawakan tubuhnya, apakah seperti orang dewasa atau remaja?" Lanjutnya mengoreksi pertanyaannya yang mungkin akan membuat Roni gagal paham.
Roni memikirkan pertanyaan Henry dengan serius. "Dia tampaknya memiliki postur tubuh yang cukup tinggi dan kekar. Aku tidak tahu, apakah dewasa atau remaja karena dia menggunakan topeng dan jubah hitam yang menutupi seluruh tubuhnya."
Henry mengangguk memahami. "Paling tidak kita memiliki gambaran awal. Aku akan memberitahu penjaga istana untuk mencari orang dengan ciri-ciri tersebut."
Roni mengangguk setuju, tetapi kekhawatiran masih terpantul di wajahnya. "Aku hanya berharap kita dapat menemukannya sebelum ia kembali."
Henry meletakkan tangannya di pundak Roni dengan penuh semangat. "Kita akan mengatasi ini bersama-sama. Kau tidak sendiri, Roni."
Sementara itu, di balik pohon, Edward mengepalkan tangannya dan menggeram seperti menahan amarah saat mendengar ucapan Pangeran Henry yang seakan mendukung Roni. Kemudian Edward merenung. "Aku perlu mengubah taktik. Mungkin aku bisa memanfaatkan ketegangan Royalty untuk mengambil cincin itu, hahaha."
Tiba-tiba Pangeran Henry memanggil Edward dan membuatnya terkejut. Refleks Edward menghentikan langkahnya, dan bertingkah seolah tidak terjadi apa-apa.
"Hei, Edward, selamat pagi," sapa Pangeran Henry kepada ponakannya tersebut.
"Selamat pagi juga, Pangeran Henry," sapa balik Edward dengan senyum palsunya. Lalu Edward berpura-pura menyapa Roni. "Hai, Royalty, selamat pagi."
Roni sejenak kebingungan karena tidak biasanya Edward menyapanya dengan ramah. Kemudian Roni cepat-cepat menjawab, "Ah ya, selamat pagi."
"Kalian tampaknya sedang membicarakan sesuatu yang serius." Edward pura-pura tidak mengetahui apa-apa dan berpura-pura akrab dengan Roni.
Pangeran Henry mengangguk dan tersenyum, lalu menjawab, "Kita sedang membahas kejadian semalam. Seseorang masuk ke kamar Royalty dengan maksud mengambil cincin yang diberikan oleh Putri Victoria."
__ADS_1
Edward memainkan perannya dengan baik, meskipun hatinya penuh intrik. "Oh, sungguh? Itu pasti kejadian yang menegangkan. Beruntungnya Royalty berhasil mencegahnya."
Roni menatap Edward dengan rasa curiga, tetapi memilih untuk tetap berbicara dengan santai. "Ya, untung saja aku terbangun tepat waktu. Tapi kita berdua masih bertanya-tanya siapa sebenarnya orang itu."
Edward berusaha menyembunyikan kekecewaannya karena kegagalan semalam. "Mungkin ini waktu yang tepat untuk meningkatkan keamanan di istana. Setuju, Pangeran Henry?"
Pangeran Henry mengangguk, "Benar, kita harus melakukan itu. Aku akan memberi perintah kepada penjaga istana untuk lebih waspada."
Edward menutupi niat aslinya dan berpura-pura prihatin. "Semoga masalah ini cepat teratasi. Kita semua ingin kerajaan ini tetap aman, bukan?"
Roni tetap waspada, merasa ada sesuatu yang tidak beres dengan sikap Edward yang begitu kooperatif. Namun, ia hanya mengangguk seolah setuju. Pangeran Henry kemudian mengajak keduanya untuk bersama-sama merancang strategi keamanan yang lebih baik, tanpa menyadari bahwa di antara mereka, ada seseorang yang menyimpan niat gelap.
"Bagaimana jika untuk sementara ada satu prajurit yang menjaga di depan kamar Royalty, sampai keadaannya benar-benar aman," saran Pangeran Henry. Menatap Edward dan Roni secara bergantian.
Edward segera memprotes karena menurutnya itu tak adil dan yang pasti akan menghalangi jalannya untuk mencelakai Roni. "Aku tidak setuju, itu tidak adil. Jika begitu, seharusnya semua kamar harus mendapatkan penjagaan satu prajurit."
"Ah, maksudku bukan seperti itu," balas Pangeran Henry kemudian melanjutkan, "Aku menyarankan ada prajurit yang khusus mengawasi kamar Royalty untuk sementara waktu, sebagai langkah awal untuk meningkatkan keamanan. Tentu saja, kita juga perlu mengoptimalkan keamanan di seluruh istana, tetapi fokus utama saat ini adalah melindungi cincin tersebut. Apa pendapatmu?"
Edward memberikan setujuan palsu. "Tentu, Pangeran Henry. Keamanan harus menjadi prioritas utama. Kita harus melindungi kehormatan kerajaan dan barang berharga seperti cincin milik Royalty." Meskipun ucapan itu terdengar kooperatif, hatinya penuh dengan intrik dan rencana gelap untuk mencapai tujuannya.
Meskipun Edward memberikan setujuan palsu, tetapi dalam hatinya, ia telah menyusun rencana baru untuk mendapatkan cincin tersebut tanpa terdeteksi. Sementara itu, Roni mengamati kedua pria di hadapannya dengan kekhawatiran yang semakin tumbuh.
Kemudian Pangeran Henry meminta pendapat dari Roni. "Bagaimana pendapatmu, Royalty? Apa kau setuju jika untuk sementara waktu kamarmu diawasi oleh satu prajurit keamanan?"
Roni merespons dengan bijaksana, "Aku setuju, Pangeran Henry. Keamanan harus diutamakan, terutama mengingat kejadian semalam. Aku bersedia berkerja sama untuk langkah awal ini demi melindungi keamanan kerajaan." Meskipun Roni mencoba menunjukkan dukungannya, tetapi kecurigaannya terhadap Edward semakin dalam.
"Baiklah, aku akan memerintahkan satu prajurit keamanan untuk mengawasi kamarmu malam ini," ucap Pangeran Henry dengan yakin.
Edward sedikit menggeram menahan diri untuk tidak marah. Ia tahu jika rencananya untuk menyingkirkan Roni akan semakin sulit. Tetapi Edward tak menyerah. Ia harus menyusun rencana baru yang lebih cermat untuk mencapai tujuannya. Dan akan terus mencari cara agar Roni tersingkirkan dari Kerajaan Andora. Bagaimana pun caranya, Royalty harus menderita! Hahaha, batinnya dengan jahat.
__ADS_1
****
Aduh, ada-ada ajalah Edward ini. Makin penasaran sama bab selanjutnya? Ikuti terus kisahnya.^^