ROYALTY : Penguasa Elemen Air Yang Mulia

ROYALTY : Penguasa Elemen Air Yang Mulia
BAB EMPAT PULUH : TEORI TEKNIK PEDANG


__ADS_3

Putri Victoria tersenyum tipis sambil mengamati kotak kayu itu sebentar, kemudian menjawab seraya melirik Roni, "Hmm... pakaian yang mewah untuk calon anak angkat Ratu Andora."


Roni tersenyum senang mendengar ucapan Putri Victoria. Betapa beruntungnya calon anak angkat Ratu Andora mendapatkan hadiah yang begitu spesial.


"Wah, aku tak bisa membayangkan bagaimana bahagianya calon anak Ratu Andora saat mendapatkan hadiah ini," ucap Roni dengan senyuman ceria.


Putri Victoria sedikit tertawa, "Tentu saja, Royalty. Calon anak angkat Ratu Andora akan sangat bahagia. Dia beruntung sekali, bukan?"


"Iya, sangat beruntung. Tapi aku penasaran, siapa calon anak angkat Ratu Andora?" tanya Roni sambil menatap langit-langit koridor dan mengelus-elus dagunya seolah berpikir.


"Hahah, kau akan mengetahuinya nanti. Tenang saja," ucap Pangeran Henry sambil menatap wajah Roni.


Putri Victoria tersenyum, melirik Pangeran Henry sebentar, kemudian kembali menatap Roni. "Itu masih menjadi rahasia, Royalty. Baiklah, aku harus segera pergi ke ruangan untuk menyiapkan pesta."


"Tentu, Putri Victoria," jawab Pangeran Henry.


Kemudian Putri Victoria melangkah pergi meninggalkan Pangeran Henry dan Roni di koridor istana yang sepi.


"Roni, aku ingin mengatakan sesuatu," ucap Pangeran Henry.


"Apa itu, Pangeran?" Roni penasaran.


"Seperti yang aku ketahui, kau sudah menguasai teknik sihir elemen air dengan baik. Lalu apa kau ingin belajar teknik sihir yang lain? Mungkin elemen tanah, api, atau bahkan elemen angin?" ujar Pangeran Henry sambil menatap Roni dengan penuh harap.


Roni terdiam sejenak, tampak berpikir lalu menjawab, "Aku belum terpikirkan untuk belajar elemen lain, Pangeran. Apa aku bisa? Sedangkan kekuatan airku saja diperoleh dari jiwa Royalty, bukan dari diriku sendiri. Mungkin aku akan kesulitan berlatih teknik sihir elemen lain, selain air."


Pangeran Henry tersenyum lalu berkata dengan tenang, "Roni, kekuatan sejati datang dari ketulusan hati dan keinginan untuk belajar. Aku yakin, walaupun elemen airmu berasal dari jiwa Royalty, kau memiliki potensi untuk menguasai elemen lain. Percayalah pada dirimu sendiri, Roni."


"Tapi maaf, Pangeran. Untuk sekarang aku belum tertarik belajar ilmu sihir elemen lain, karena aku ingin benar-benar mendalami kekuatan air yang aku miliki. Mungkin suatu hari nanti, jika aku merasa siap, aku akan mempertimbangkan untuk belajar elemen lain," jawab Roni dengan tegas.


Pangeran Henry mengangguk mengerti. "Keputusanmu patut dihormati, Roni. Ingatlah, perjalanan sihirmu adalah petualangan pribadimu, dan aku akan selalu mendukung apapun pilihan yang kau ambil. Jika suatu hari kau ingin menjelajahi elemen lain, aku selalu terbuka untuk melatihmu."


Roni tersenyum menghargai. "Terima kasih, Pangeran. Aku beruntung memiliki dukunganmu." Diam sejenak, kemudian Roni bertanya, "Sekarang kita akan pergi ke mana?"


Pangeran Henry terdiam sejenak, kemudian ia berpikir ingin mengajak Roni pergi ke halaman depan kerajaan. Di sana ada beberapa prajurit baru yang sedang berlatih mengasah kemampuan bermain pedang dan bela diri mereka. Lalu ia berkata, "Ayo, kita pergi ke halaman depan kerajaan. Aku ingin memperkenalkanmu kepada para prajurit baru, dan mungkin kau bisa bertukar pengalaman dengan mereka. Latihan bersama bisa menjadi peluang bagus untuk memperkuat kemampuanmu, Roni."


Roni mengangguk setuju, merasa semangat dengan ide tersebut. Bersama-sama, mereka melangkah ke halaman depan yang penuh semangat dan kemeriahan latihan prajurit baru Kerajaan Andora.

__ADS_1


Sesampainya di halaman depan kerajaan, Roni seketika kagum dan tercengang melihat gerakan lincah para prajurit yang sedang berlatih.


Prajurit-prajurit baru itu tampak berlatih dengan semangat dan disiplin. Matahari semakin merangkak di atas langit timur, menyorotkan cahaya kuning yang memperindah pemandangan, dan menyulutkan siluet gagah para prajurit.


Mereka semua terlihat begitu fokus pada setiap gerakan mereka, pedang berkilau dan perisai melindungi mereka dengan keahlian yang memukau. Suara langkah kaki dan suara pedang bersentuhan menghasilkan harmoni latihan yang serius dan penuh semangat.


Kapten Adrian, seorang pemimpin yang tegas namun penuh kehangatan, memberikan instruksi dengan suara lantang. Para prajurit merespons dengan disiplin tinggi sehingga dapat membangun pelatihan yang serius namun penuh kebersamaan. Roni merasa terinspirasi oleh semangat perjuangan yang terpancar dari setiap gerakan prajurit di hadapannya.


"Saudara-saudara," kata Pangeran Henry kepada prajurit, "Ini adalah Royalty, ahli sihir elemen air yang luar biasa."


Seketika para prajurit yang sedang berlatih menghentikan gerakan mereka saat mendengar suara Pangeran Henry. Mereka semua sejenak membungkuk hormat pada Pangeran Henry lalu kembali berdiri tegak.


Kapten Adrian menyambut Roni dengan ramah, "Selamat datang, Royalty. Kami senang dengan kehadiran Anda di sini. Sebelumnya perkenalkan, nama saya Adrian. Anda bisa memanggil saya Kapten Adrian."


"Salam kenal, saya Royalty," jawab Roni sedikit canggung dan tersenyum.


"Royalty, kau bisa bertanya kepada Kapten Adrian tentang ilmu bela diri atau ilmu pedang, benar begitu, Kapten?" ucap Pangeran Henry sambil menatap wajah Kapten Adrian.


"Benar, Pangeran. Saya siap memberikan penjelasan yang baik," jawab Kapten Adrian seraya mengangguk.


Roni memerhatikan para prajurit baru yang kembali berlatih setelah Pangeran Henry menginstruksi mereka untuk melanjutkan pelatihan mereka. Melihat prajurit yang sedang berlatih pedang dengan lihai dan tangkas, membuat Roni tertarik untuk bertanya mengenai ilmu pedang.


Kapten Adrian menjawab pertanyaan Roni dengan senyum. "Tentu, Royalty. Ilmu pedang melibatkan keseimbangan, kecepatan, dan ketepatan gerakan. Saya akan menunjukkan beberapa teknik dasar yang bisa kau latih bersama kami, jika kau berminat."


"Maaf, Kapten, sepertinya saya belum berminat mempraktekkan ilmu pedang secara langsung, mungkin kapten bisa memberikan penjelasan lebih detail tentang ilmu pedang kepada saya?" tanya Roni dengan hati-hati.


Kapten Adrian tersenyum lalu menjawab, "Oh tentu saja. Baiklah, saya akan menjelaskan lebih detail. Ilmu pedang melibatkan penggunaan pedang dengan teknik tertentu untuk mengoptimalkan serangan dan pertahanan. Keseimbangan tubuh sangat penting, dan kecepatan gerakan akan meningkatkan kemampuanmu. Selain itu, ketepatan dalam mengarahkan serangan adalah kunci untuk menguasai seni pedang. Ilmu pedang melibatkan perpanjangan dari tubuhmu. Keseimbangan tubuh dan fokus mental sangat penting. Ada teknik dasar seperti parry, thrust, dan slash yang harus dikuasai. Setiap gerakan memiliki kegunaannya sendiri dalam pertempuran."


Sementara Roni sedang berbincang dengan Kapten Adrian, Pangeran Henry lebih memilih untuk melatih beberapa prajurit baru yang masih belum pandai menguasai teknik pedang. Jangan salah, Pangeran Henry selain pandai menguasai teknik sihir elemen tanah, ia juga pandai menguasai seni pedang dan bela diri. Saat masih kecil Pangeran Henry sering berlatih teknik pedang bersama komandan prajurit terdahulu, sebelum akhirnya digantikan oleh Kapten Adrian.


"Terima kasih atas pengetahuannya, Kapten Adrian. Mungkin jika saya merasa sudah siap, saya akan berlatih teknik pedang bersama-sama dengan prajurit," ucap Roni dengan penuh hormat.


Kapten Adrian mengangguk menghormati, "Tentu saja, Royalty. Kapan pun kau merasa siap, kau bisa datang berlatih bersama kami."


Pangeran Henry berdiri di sebelah Kapten Adrian lalu berkata, "Roni, dengan berbagi ilmu ini akan menambah kemampuanmu. Jangan ragu untuk mencoba berbagai keahlian, itu akan membuatmu semakin kuat."


Roni tersenyum, merasa didukung dan termotivasi untuk terus berkembang. "Baiklah, saya akan memikirkan untuk bergabung dalam latihan pedang suatu hari nanti. Terima kasih, Kapten Adrian dan Pangeran Henry, atas dukungannya."

__ADS_1


"Sama-sama, Royalty. Kami di sini, siap membantumu untuk mencoba kemampuan baru yang ingin kau pelajari nanti," jawab Kapten Adrian dengan ramah.


Setelah puas berbincang dan menyaksikan para prajurit baru yang sedang berlatih, Pangeran Henry mengajak Roni pergi ke kandang kuda. Ia ingin memastikan keadaan Jack, kuda kesayangannya.


Sesampainya di kandang kuda, Pangeran Henry mendekati penjaga kandang yang tengah membersihkan halaman di sekitar kandang. Lalu ia berkata, "Apakah Jack, kudaku, dalam keadaan baik, Bapak Kandang?"


Penjaga kandang mengangguk, "Ya, Pangeran Henry. Jack tampak sehat dan riang seperti biasa. Saya sudah selesai membersihkan kandangnya."


Pangeran Henry tersenyum lega. "Terima kasih atas perhatiannya terhadap Jack." Kemudian ia menatap Roni dan melanjutkan, "Roni, apa kau ingin melihat kuda itu?"


Roni antusias menjawab, "Tentu, Pangeran! Aku senang bisa melihat Jack, dia kuda yang cerdas dan unik."


Pangeran Henry membuka pintu kandang, dan mereka berdua memasuki kandang untuk menyapa Jack yang tampaknya senang mendapatkan perhatian lebih. Jack meringkik seraya mendekatkan mulutnya ke wajah Pangeran Henry dan menjulurkan lidahnya untuk menjilat pipi sang pangeran, menunjukkan kasih sayangnya.


Pangeran Henry tertawa begitu lidah Jack menyentuh pipinya. "Hahah, Jack, kau memang selalu membuat hari-hariku lebih ceria."


"Hahaha, Jack lucu sekali," tawa Roni, melihat Jack yang menjilat pipi Pangeran Henry berkali-kali sebelum kemudian menutup mulutnya.


Pangeran Henry kembali tertawa dan menyetujui. "Ya, dia memang kuda yang lucu dan penuh kasih sayang."


Puas bermain-main dengan Jack di kandang kuda, kemudian Pangeran Henry dan Roni kembali ke istana untuk berkumpul dengan keluarga istana yang sedang menyusun jalannya acara pesta ulang tahun Ratu Andora.


Saat melewati koridor menuju ruangan pesta, mereka berdua tidak sengaja berpapasan dengan Pangeran William yang sedang membawa keranjang bambu dan terisi bunga-bunga indah. Tampaknya bunga-bunga itu akan digunakan untuk menghias ruangan pesta.


"Ah, beruntung sekali kalian berdua ada di sini," ucap Pangeran William lalu berjalan mendekati Pangeran Henry.


"Ada apa, Kakak?" tanya Pangeran Henry. Sementara Roni bergeser ke samping kiri untuk memberikan ruang pada kedua pangeran itu yang sedang berbincang.


Pangeran William memberikan keranjang bunga itu kepada Pangeran Henry. "Tolong, bawakan ini ke ruangan pesta. Aku ada keperluan di luar sebentar. Terima kasih, adikku."


Pangeran Henry menerima keranjang bunga itu dengan senang hati, "Tentu saja, Kakak. Kami akan membantu menyusun bunga-bunga ini di ruangan pesta."


Roni tersenyum melihat kerjasama di antara anggota kerajaan. "Apakah aku bisa membantu dengan sesuatu?"


Pangeran William tersenyum dan menjawab, "Terima kasih, Royalty. Kau bisa membantu memilih beberapa bunga untuk disusun di sana. Aku yakin kau akan banyak membantu untuk menyusun dekorasi."


"Kalian berdua adalah penyelamatku. Terima kasih banyak." Setelah itu, Pangeran William melangkah pergi.

__ADS_1


Lalu Pangeran Henry serta Roni melanjutkan langkah mereka menuju ruangan pesta dengan membawa keranjang bunga yang indah itu. Di dalam hati, mereka merasa senang bisa ikut berkontribusi dalam persiapan pesta ulang tahun Ratu Andora.


__ADS_2