
Hingga tiba-tiba air sungai bergelombang...
Evelyn, Elan, dan keempat prajurit tersebut refleks mengalihkan pandangannya ke arah sungai. Air sungai semakin berombak dan menimbulkan kecurigaan keempat prajurit itu yang memerhatikan air sungai dengan seksama. Evelyn dan Elan merasa khawatir terhadap Roni.
"Ya Tuhan, lindungilah Roni," ucap Evelyn dengan suara lirih.
"Airnya bergerak. Kemungkinan anak itu bersembunyi di dalam sungai!" teriak pemimpin prajurit tersebut dengan tangan kanannya yang menunjuk lurus ke arah sungai, tepat di titik air sungai yang berombak. "Cepat, salah satu dari kalian berenang ke dalam sungai dan cari anak itu!" Lanjutnya memberikan perintah dengan tegas.
Salah satu prajurit segera mengikuti perintah pemimpinnya. Ia berlari mendekati tepi sungai, lalu ia melompat masuk ke dalam air, sehingga menimbulkan riak air yang besar dan terciprat ke segala arah.
Menyaksikan itu, Evelyn serta Elan hanya bisa terdiam di tempat dan berdoa. Mereka tak bisa berbuat apa-apa selain berharap kekuasaan dari Tuhan untuk keselamatan Roni.
Sementara satu prajurit mencari keberadaan Roni di dalam air, ketiga prajurit yang lain berpencar arah di sekitar hutan dan sungai. Keempat prajurit itu saling berkerjasama untuk menemukan keberadaan Roni. Mereka tidak akan kembali ke Istana Eldoria sebelum Roni ditemukan atau mereka akan merenggut nyawa di tangan Raja Aric Shadowcaster yang kejam dan bengis.
Sementara itu di dalam sungai, Roni tampak berenang menjauh ketika ia melihat seorang prajurit yang mencari keberadaannya di dalam air. Remaja laki-laki itu berenang ke arah yang tidak menentu, yang terpenting ia harus menyelamatkan diri. Beruntunglah Roni bisa bernapas panjang di dalam air karena sudah terbiasa berenang di sungai sejak umur sepuluh tahun. Tak salah jika sekarang ia pandai mengatur napas di dalam air.
Roni menoleh ke belakang tubuhnya, samar-samar melihat prajurit itu berenang mendekatinya. Seketika panik menyerang, Roni mempercepat kayuhan kedua tangan dan kakinya supaya ia dapat berenang semakin cepat. Roni naik ke permukaan saat merasakan pernapasannya mulai menyempit. Ia mengambil napas panjang lalu kembali berenang tapi tidak menenggelamkan kepalanya. Hingga matanya tak sengaja menatap ke tepi sungai yang penuh dengan semak belukar. Kesempatan bagus, semak-semak itu dapat Roni gunakan untuk tempat persembunyian. Remaja laki-laki itu berenang semakin cepat menuju ke tepi sungai sebelum prajurit yang mengejarnya mengetahui keberadaannya.
Roni bernapas lega ketika berhasil mencapai tepi sungai, lalu ia mengusap-usap wajahnya yang basah. Tidak peduli pakaiannya yang basah kuyup, ia lantas bergegas mencari tempat persembunyian. Roni menemukan semak belukar yang sangat rimbun, kemudian ia bersembunyi di balik semak-semak tersebut. Kebetulan semak belukar itu diapit oleh dua pohon besar.
Dari tempat persembunyiannya, Roni dapat mendengar suara seorang pria sedang naik ke tepian sungai dengan napas yang tersengal-sengal. Pria itu juga sempat mengumpat seraya membuang ludah. Roni yakin, orang itu adalah prajurit yang tadi mengejarnya di dalam air.
"Brengsek di mana anak itu!?" ujar pria tersebut sambil mengamati keadaan sekitarnya. Ia menoleh ke kanan lalu ke kiri. "Cepat sekali menghilangnya." Lanjutnya.
Roni menahan napasnya saat melihat kaki pria itu yang dibungkus sepatu besi, tepat berada di depannya. Ia tak bergerak sama sekali. Jantungnya berdegup kencang. Matanya fokus menatap ke depan. Hingga kemudian Roni dapat bernapas lega saat kaki pria di hadapannya berpindah tempat.
__ADS_1
"Sialan! Di mana anak itu!?" Lagi-lagi pria itu mengumpat dan murka karena tak kunjung menemukan keberadaan targetnya. Padahal jika ia meneliti ke arah semak-semak, ia kemungkinan dapat menemukan keberadaan Roni.
Ketika suasana sedang tenang, mendadak seekor ular dari atas pohon jatuh tepat di samping Roni. Hingga membuatnya terkejut. Remaja laki-laki itu setengah berteriak seraya berdiri, bertepatan saat ular itu menjauhinya. Hal tersebut menarik perhatian prajurit yang berdiri tak jauh dari tempat Roni berada.
"Hei, kau di sana!" Prajurit itu segera mengejar Roni dengan membawa sebilah pedang.
Roni kalang kabut berlari tak tentu arah. Sesekali kakinya juga tersandung-sandung ranting pohon, tapi Roni tetap berlari, tak peduli kakinya lecet atau berdarah. Keselamatannya adalah nomor satu.
"Hei berhenti!" teriak pria itu sambil sesekali menebas semak atau ranting pohon yang menghalangi jalannya.
Roni berlari semakin cepat dengan napas tersengal-sengal. Sesekali menoleh ke belakang untuk memastikan prajurit itu masih tertinggal jauh di belakangnya. Angin kencang menerpa wajahnya dan menerbangkan rambutnya. Sialnya, ketika Roni melewati tepian sungai, ia tak sengaja menginjak batu sungai yang licin sampai menyebabkan tubuhnya ambruk ke depan dan wajahnya mencium lumpur.
"Hahahaha, akhirnya aku menemukanmu!" Prajurit itu tertawa puas saat mengetahui Roni jatuh di atas lumpur dan tampaknya tidak bergerak. Ia berpikir Roni pingsan.
Roni terlihat pingsan, prajurit itu menggunakan kesempatan itu untuk segera menangkap Roni dan akan membawanya ke hadapan Raja Aric. Namun sebelum benar-benar menggapai tangan Roni, mendadak Roni memutar tubuhnya. Ternyata anak itu hanya pura-pura pingsan.
"Sialan!" Pria itu mengusap-usap wajahnya yang basah. Hidungnya terasa ngilu karena kemasukan air.
Roni membersihkan wajahnya dari lumpur lalu segera bangkit. Menggunakan kesempatan untuk kabur sebelum prajurit itu mengejarnya kembali.
Pria itu tampaknya sangat marah. Ia seperti hilang kendali. Tak berpikir panjang, ia melemparkan pedangnya ke arah Roni dan berharap mengenai punggung remaja itu. Menoleh ke belakang, Roni terkejut dan refleks melemparkan bola air ke arah pedang tersebut, sayangnya tak mempan, pedang itu memecahkan bola airnya dan tetap melesat ke arahnya. Membuat Roni panik ketakutan. Keadaan terdesak, Roni berguling ke samping untuk menghindari pedang itu yang seakan mengincar punggungnya.
Roni berguling dan jatuh ke dalam sungai. Ia berusaha naik ke permukaan tapi arus sungai yang sangat deras membuatnya tak bisa berenang. Tubuhnya terasa berat dan seolah ingin terbawa arus sungai. Pasrah dengan keadaannya, Roni perlahan-lahan tidak sadarkan diri, bersamaan dengan tubuhnya yang mengambang di atas permukaan air dan terbawa arus sungai menuju ke arah timur.
****
__ADS_1
Sementara itu di tempat Evelyn dan Elan. Mereka berdua tampak sangat gelisah, gundah, khawatir dan cemas menjadi satu. Mereka memikirkan Roni yang tak kunjung kembali. Sementara ketiga prajurit tadi sudah tak berada di tempat tersebut.
"Di mana Roni?" Evelyn terduduk di tepi sungai. Air matanya menetes melewati pipinya. Ia tak sanggup jika harus kehilangan Roni yang sudah dianggap seperti saudaranya.
Sementara Elan mondar-mandir di tepi sungai, meneriaki nama Roni meskipun yang dipanggil tak ada di tempat tersebut.
"Roni! Roni! Cepat kembali!! Prajurit tadi sudah pergi!!" teriak Elan ke arah sungai. Suaranya menggema ke seluruh penjuru sungai, hingga burung-burung yang bertengger di atas pohon berterbangan menjauhi tempatnya.
"Roni!! Apa kau tak ingin kembali? Evelyn dan aku tak sanggup kehilanganmu!!" teriak Elan sekali lagi. Rasanya sia-sia, tenggorokannya terasa tercekat karena sejak tadi berteriak memanggil Roni. Sayangnya yang dipanggil tak memberikan respons.
"Apa Roni terbawa arus sungai?" monolog Elan dengan suara pelan. Berpikir jika memang Roni sudah terbawa arus sungai. Mau bagaimana pun ia meneriaki nama Roni dan berharap Roni kembali, itu tak berarti apa-apa.
"Bagaimana ini Elan? Aku sangat khawatir dengannya. Aku tidak sanggup kehilangan Roni." Evelyn menangis sesenggukan di tepi sungai. Matanya menatap ke arah sungai. Berharap ada keajaiban, Roni muncul ke permukaan sungai, tapi nyatanya hanya angan semata. Roni benar-benar sudah tidak berada di sana.
Elan mendekati Evelyn. Lalu laki-laki itu mengelus-elus punggung Evelyn yang terasa gemetar. "Tenangkan dirimu Evelyn. Pasti Roni akan kembali. Mungkin sekarang Roni sedang bersembunyi di tempat lain. Apa kamu lupa. Ada salah satu prajurit yang mencari Roni di dalam air, bukan?"
Elan berubah pikiran. Kemungkinan Roni masih bersembunyi di tempat lain, begitu pikirnya.
"Mana mungkin Elan? Kita sudah menunggunya sangat lama. Tidak mungkin Roni bersembunyi di tempat lain." Evelyn tak menyetujui ucapan Elan.
Ia dan Elan sudah terlalu lama menunggu Roni. Bahkan matahari kini sudah hampir tenggelam di ujung barat. Tidak mungkin Roni terus bersembunyi di tempat lain.
Elan menatap ke arah sungai. Air sungai yang mengalir dengan tenang seakan tidak menunjukkan tanda-tanda kehidupan di dalamnya. Ia berharap Roni kembali, namun sepertinya sia-sia jika memang Roni sudah hanyut terbawa arus sungai.
Hingga akhirnya Elan menemukan secercah harapan untuk menemukan Roni.
__ADS_1
"Kita pergi ke arah timur. Kita cari Roni di sana!"