
Angin selatan berhembus dengan kencang, menerbangkan daun-daun kering yang berguguran. Embun pagi membuat udara di sekitar sungai semakin segar, namun juga menghalangi cahaya matahari yang seharusnya menerangi daerah di sekitar sungai.
Di dekat pepohonan cemara yang berjejer rapi di tepi sungai, Roni terlihat tidak sadarkan diri. Ia sudah terombang-ambing arus sungai selama satu malam, dan sekarang, ia terdampar di suatu tempat yang jauh dari wilayah Eldoria dan lokasinya tidak diketahui secara pasti. Tuhan sepertinya masih memberikan kesempatan kepada Roni untuk tetap hidup. Jika Tuhan berkehendak, seharusnya ia sudah tiada saat air sungai menggulung-gulung tubuhnya dan membawanya ke tempat yang jauh.
Perlahan, Roni membuka matanya lebar-lebar. Ia melenguh saat merasakan sakit di seluruh anggota tubuhnya. Saat memerhatikan sekitarnya, Roni terkejut dan segera bangkit. Dengan kaki terentang, ia duduk tegak, kemudian sekali lagi memerhatikan daerah sungai yang asing baginya. Sebelumnya, Roni sama sekali tidak mengenali tempat ini.
Sebelum kebingungan menyelimuti pikirannya, Roni samar-samar mengingat bahwa ia tenggelam dan terbawa arus sungai sebelum akhirnya terdampar di tempat ini.
Roni juga terpikirkan oleh Evelyn, Elan, dan ibunya. Ia tahu, ibunya dan kedua sahabatnya itu sekarang pasti sangat mengkhawatirkannya. Mungkin mereka sedang berusaha mencarinya ke mana-mana dan sudah pasti tidak menemukan keberadaannya. Roni sedih, khawatir, dan bingung saat ini. Perasannya campur aduk dan tidak menentu. Ia juga bingung tentang tindakan apa yang harus diambil di tempat asing ini. Akhirnya, yang dilakukan Roni hanyalah terdiam sambil mengamati air sungai yang mengalir dengan tenang.
Saat ketenangan mulai menyelimuti atmosfer di sekitarnya, tiba-tiba ranting pohon yang cukup besar jatuh ke bawah dan hampir saja mengenai Roni. Sontak Roni terkejut dan segera berdiri. Ia sekilas melihat ranting itu lalu beralih memandang ke atas pohon. Roni lagi-lagi terkejut, ternyata di atas pohon ada seekor monyet yang sedang bergelantungan sembari mengeluarkan suara khasnya. Uuk, aak, uuk, aak... Seolah mengejek Roni yang malang.
"Sial ada monyet," ujar Roni.
Monyet itu sangat nakal. Lihat saja, bahkan sekarang ia melemparkan ranting pohon yang cukup besar ke arah Roni. Sial! Roni secepatnya menghindar sebelum ranting itu mengenai tubuhnya.
"Hei, monyet sialan!" Roni menunjuk-nunjuk monyet itu dengan wajah murka. Lalu Roni mengambil ranting pohon di bawahnya dan melemparkannya ke arah si monyet. Sayangnya si monyet dapat menghindarinya dan meloncat ke ranting pohon yang lain.
Sekali lagi, monyet itu mengejek Roni sambil menjulurkan lidahnya dengan suaranya yang sangat mengganggu. Membuat Roni pusing mendengarnya. Lalu remaja laki-laki itu mengambil batu besar. Tak peduli apa pun, ia segera melemparkan batu ke arah monyet itu yang sejak tadi mengejeknya. Menjengkelkan memang.
"Ah, sial! Tidak kena!" Roni sangat kesal karena lemparannya tidak mengenai badan si monyet.
Monyet itu justru dengan santainya bergelantungan di bawah ranting pohon dan mengambil sebuah pisang dari pohon pisang yang tumbuh di sebelah pohon mangga tempatnya bergelantungan. Lalu si monyet melemparkan kulit pisang ke arah Roni sembari bersuara, uuk, aak... Dan itu sangat menjengkelkan.
Roni geram dan sangat muak. Ia kemudian memilih pergi daripada harus berurusan dengan binatang primata yang memiliki DNA hampir sama seperti manusia itu.
Sepertinya monyet itu belum puas. Ia mengikuti langkah Roni dengan bergelantungan di atas pohon. Roni tak menyadari hal tersebut karena si monyet tidak bersuara. Si monyet bergelantungan dari ranting satu ke ranting pohon yang lain sambil terus mengamati jejak Roni.
Roni menyadari pergerakan di atas pohon, lalu ia menatap ke arah pohon. Seketika Roni terkejut saat mengetahui monyet itu berdiri tepat di ranting pohon yang berada di atas kepalanya. Sontak ia mundur ke belakang. Mendadak monyet itu melompat ke arah Roni dan seakan ingin mencengkeram kepala Roni. Refleks Roni melangkah ke belakang sekali lagi untuk menghindari monyet sialan itu.
Sebelum monyet itu benar-benar menggapai kepala Roni, tiba-tiba dari arah samping, seorang pria menendang monyet itu dengan sangat kencang. Monyet itu berteriak bersamaan dengan tubuhnya yang terpelanting jauh dan tercebur ke dalam sungai. Roni pun mengelus-elus dadanya penuh kelegaan.
__ADS_1
"Jangan khawatir. Monyet di kawasan ini memang suka mengganggu manusia," ucap pria tersebut kemudian berbalik badan dan menghadap ke arah Roni.
Sejenak, Roni terpaku saat memandangi wajah pria muda di hadapannya. Jika dilihat dari wajahnya, tampaknya pria itu masih berusia dua pulun tahun. Kulitnya putih, alisnya tebal, mata birunya menatap tajam, hidungnya mancung, bibirnya berwarna merah muda alami, dan rahangnya tegas. Pria itu sungguh tampan dengan rambut biru panjangnya yang menjuntai sebatas bahu dan pakaiannya terlihat mewah. Bahkan Roni sendiri terpesona, meskipun ia juga seorang laki-laki.
"Hei kau melamun?" Pria itu melambai-lambaikan tangannya di depan wajah Roni, membuat Roni gelagapan.
Seketika Roni melangkah mundur dan menggeleng-gelengkan kepalanya. "Tidak-tidak, saya tidak apa-apa. Tadi saya hanya terpikirkan sesuatu."
Pria tampan itu mengangguk-angguk dan berkata, "Oh baiklah. Siapa namamu?"
Roni tersenyum canggung. Ia memperkenalkan dirinya. "Nama saya Royalty, tapi panggil saja saya Roni."
Pria muda itu bertanya lagi, "Nama yang bagus. Baiklah, apa tujuanmu datang ke wilayah Andora?"
"Maksud Tuan?" Roni tak percaya saat pria di hadapannya mengatakan wilayah Andora.
"Maksudku, kau sudah memasuki wilayah Andora. Apa yang membuatmu datang kemari?" Pria itu mengulangi pertanyaannya dengan lebih lugas.
"Kenapa kau diam saja?" Pria itu menyadarkan Roni.
"Maaf, saya tadi melamun." Roni menjawab asal-asalan. Ia malu karena sikapnya tadi.
"Sepertinya kau takut saat melihatku," ujar pria tersebut sambil menelisik ekspresi wajah Roni.
Roni pun meluruskan kesalahpahaman pria tersebut. "Oh tidak. Saya justru senang bertemu dengan Tuan. Maaf, saya memang suka melamun saat bertemu orang baru."
Pria itu mengangguk-angguk, mencoba memahami sikap Roni. Kemudian, ia teringat sesuatu. "Baiklah. Kau belum menjawab pertanyaanku. Bagaimana kau bisa sampai ke wilayah Andora?"
Roni kini sudah bisa menyesuaikan diri di hadapan pria tersebut dan menjawab, "Saya terbawa arus sungai saat sedang berenang dan tiba-tiba kehilangan kesadaran. Ketika saya sadar, saya sudah berada di tempat ini. Saya tidak tahu bagaimana saya bisa sampai ke wilayah Andora."
Mendengar jawaban dari Roni, pria muda itu merasa iba terhadap Roni. Pantas saja ia melihat pakaian yang dikenakan Roni terlihat setengah kering dan ada beberapa luka di kaki Roni.
__ADS_1
Dengan penuh simpati, pria itu mengatakan, "Itu pasti pengalaman yang menakutkan. Jangan khawatir, aku akan membantumu kembali ke rumahmu. Tapi tunggu, kau tinggal di mana?"
"Saya tinggal di Kota Eldoria," jawab Roni.
"Kota Eldoria sangat jauh dari tempat ini. Bagaimana jika sementara kau ikut bersamaku? Aku tidak tega jika membiarkanmu pulang sendiri. Kau sekarang menginjakkan kaki di wilayah Andora, perbatasan ujung paling timur. Jika seandainya kau terdampar di ujung barat, kemungkinan kau masih bisa kembali ke Kota Eldoria dengan berjalan kaki." Pria itu menjelaskan panjang lebar.
Mendengar penuturan pria itu, seketika Roni terkejut. Bagaimana bisa ia terbawa arus sampai sejauh ini? Mungkin karena arus sungai yang sangat deras, sehingga ia sampai terdampar di tempat yang sangat jauh dari wilayah Eldoria. Tak lagi memikirkan hal itu, kemudian Roni memikirkan dan menimbang-nimbang ajakan pria itu untuk ikut bersamanya.
Karena Roni tak kunjung merespons perkataannya, pria itu pun kembali bicara dan mengenalkan dirinya. "Namaku Henry Alexander Frederick. Aku tinggal di Andora. Bagaimana, kau mau ikut bersamaku?"
Saat Roni akan menjawab pertanyaan pria itu yang sudah diketahui bernama Henry, tiba-tiba Henry menguak seraya menunjuk ke belakang ketika mengetahui kawanan monyet berdatangan. Sepertinya monyet-monyet itu mengamuk karena mengetahui si monyet yang tadi ditendang oleh Henry tenggelam di sungai dan sudah tidak bernyawa.
"Lihat, kawanan monyet mengamuk! Cepat ikuti aku, kita secepatnya pergi dari tempat ini!" Henry pun segera berlari, disusul oleh Roni yang kebingungan tapi ikut berlari di belakangnya.
Henry bergegas naik ke atas kudanya. Meneriaki Roni yang masih berlari mendekatinya. "Cepat, kau naik di belakangku. Monyet-monyet itu sangat ganas!"
Teriakan Henry membuat Roni semakin panik. Terlebih lagi sekarang, di belakangnya, di atasnya, dan di sekitarnya terdapat kawanan monyet yang seakan ingin mengepungnya. Ketika Roni hampir sampai di dekat kuda milik Henry, tiba-tiba segerombolan monyet jatuh di hadapannya. Sontak Roni terkejut dan melangkah mundur ke belakang.
Tidak tinggal diam, Henry segera mengusir kawanan monyet itu dengan kudanya. Beberapa monyet ketakutan dan berlari menjauh. Saat ada kesempatan, Roni berlari mendekati kuda itu, bergegas naik ke atas punggung kuda dan dibantu oleh Henry.
"Ayo aku bantu, pegangan yang kuat," ucap Henry seraya memegang tangan kanan Roni, lalu menariknya ke atas, sehingga Roni dapat dengan mudah naik ke atas punggung kudanya.
"Terimakasih." Roni masih sempat berterimakasih di tengah-tengah kepanikannya.
"Baiklah, kita harus segera pergi dari tempat ini! Ayo Jack!" Henry menarik tali kekang kudanya. Membuat kuda itu meringkik lalu berlari menjauh dari tempat tersebut.
****
"Roni, di mana kamu, Nak? Kenapa sampai sekarang kamu belum pulang?" Rosmala sudah semalaman menangis karena kehilangan anak laki-laki satu-satunya. "Maafkan Ibu, Nak. Ibu tidak sanggup kehilangan kamu." Tak terasa air matanya menetes kembali. "Ibu ingin minta maaf sama kamu, Nak. Ibu tahu, selama ini Ibu gak pernah sayang sama kamu. Ibu minta maaf, Nak."
Kabar hilangnya Roni sudah menyebar ke seluruh penduduk kampung setelah Evelyn dan Elan melaporkan kejadian tersebut kepada tetua desa. Semalam penduduk kampung juga saling membantu mencari Roni di setiap tempat di wilayah Eldoria, kecuali di pusat kota. Namun tetap saja Roni tidak dapat ditemukan. Akhirnya penduduk kampung tidak sanggup untuk melanjutkan pencarian dan Roni dinyatakan hilang.
__ADS_1
Mengetahui Roni tidak ditemukan, Rosmala sangat frustrasi. Ia menjerit di tengah hutan memanggil nama anaknya meski hanya sia-sia yang ia dapatkan. Evelyn serta Elan berusaha menenangkan ibu Roni dengan memberikan pelukan, meskipun mereka juga sangat sedih telah kehilangan sahabat terbaik mereka. Kemudian Evelyn dan Elan mengajak Rosmala pulang ke rumah. Sampai di rumah, Rosmala tetap menangis dan tidak berhenti sampai sekarang. Hatinya sakit, tidak terima, dan tidak menyangka anaknya hilang di saat ia ingin meminta maaf atas kesalahannya selama ini yang tidak pernah bersikap lembut kepada Roni. Anak laki-laki satu-satunya.