
Pangeran Henry dan Roni melanjutkan berkeliling pasar setelah mendatangi beberapa toko.
"Kau tidak ingin membeli pakaian, Roni?" tanya Pangeran Henry.
Keduanya sekarang berjalan beriringan melewati sepanjang jalan di tengah-tengah pasar.
Roni menimbang-nimbang tawaran Pangeran Henry. Lalu menjawab, "Tidak perlu, Pangeran. Pakaianku sudah cukup di lemari."
"Ya, aku tahu, tapi pakaian itu bukan milikmu sendiri. Mungkin kau ingin mempunyai pakaian sendiri?" tanya Pangeran Henry.
Roni menjawab dengan bijak, "Pakaian bekas itu sudah cukup bagiku. Setidaknya aku mempunyai pakaian untuk menutupi tubuhku."
Pangeran Henry tersenyum mendengar jawaban Roni. "Namun, Roni, apakah kau tidak menginginkan sesuatu yang lebih dari sekedar cukup?"
Roni berhenti sejenak, melihat pakaian yang indah yang digantung di depan toko pakaian. "Mungkin suatu hari nanti, Pangeran. Saat ini, kebahagiaanku bukan tergantung pada pakaian baru."
Pangeran Henry tersenyum menghargai. "Kau sungguh rendah hati, Roni. Tapi bagaimana jika kali ini kita mencari sesuatu yang benar-benar istimewa untukmu? Sebuah pakaian yang benar-benar milikmu sendiri."
Roni berpikir sejenak, lalu setuju, "Baiklah, Pangeran. Mungkin kita bisa mencari sesuatu yang istimewa dan sederhana sekaligus."
Mereka melanjutkan perjalanan mereka di tengah pasar, mencari toko-toko yang menyediakan pakaian unik dan spesial. Suasana pasar yang ramai menjadi latar belakang petualangan mereka.
Setelah beberapa meter meninggalkan area pasar sebelumnya, Pangeran Henry berhenti sejenak saat dari kejauhan ia melihat seorang anak laki-laki kurus yang mengendap-endap di belakang seorang penjual makanan. Sepertinya anak laki-laki kecil itu ingin mencuri makanan dari penjual tersebut.
Pangeran Henry masih mengamati dan belum bertindak untuk mencegahnya. "Kau lihat Roni. Ada anak kecil yang hidupnya tidak seberuntung dirimu," ucapnya sambil sedikit menunjuk anak kecil itu yang masih memastikan keadaan sekitar dan mencari kesempatan mencuri makanan.
"Maksud, Pangeran?" tanya Roni.
"Lihat, apa kau tidak menyadari gerak-gerik anak itu?" Pangeran Henry menurunkan tangannya.
Roni baru menyadari apa yang dimaksud oleh Pangeran Henry. Kemudian remaja itu mengamati anak kecil di sana. "Iya, tampaknya dia ingin melakukan sesuatu."
"Kau mengerti maksudku?" tanya Pangeran Henry lagi.
"Aku mengerti." Roni mengangguk.
Pangeran Henry dan Roni tetap mengamati gerak-gerik anak tersebut. Anak kecil itu mengendap-endap dan sesekali menoleh ke sekitar, memastikan keadaan aman. Ketika ada kesempatan, saat pedagang makanan itu sedang lengah, anak laki-laki itu dengan gerakan cepat segera mengambil salah satu makanan di sana. Hingga tiba-tiba beberapa orang menyadarinya.
"Hei, anak itu mencuri makananmu!!" teriak salah satu orang.
__ADS_1
Anak itu sangat panik. Ekspresinya berubah menjadi ketakutan saat melihat banyak orang berbalik menatapnya. Saat ia berusaha kabur, tiba-tiba penjual makanan itu bertindak menarik pakaian anak itu dari belakang, sehingga anak itu tak dapat kabur.
"Kau ingin pergi ke mana pencuri kecil?" tanya penjual makanan itu adalah seorang pria paruh baya.
"A-aku, lapar, a-aku belum makan." Anak itu berbicara terbata-bata, menatap laki-laki itu dengan ekspresi wajah sendu dan memelas.
"Tidak ada alasan, di mana ibumu!?" tanya laki-laki itu dengan tegas, meski sejujurnya di lubuk hatinya ia merasa kasihan.
"A-aku tidak tahu. Ibuku pergi," jawab anak itu asal-asalan dan ketakutan.
Orang-orang di sekitar pasar mulai berkumpul melihat kejadian tersebut. Di antara mereka ada yang berbisik-bisik membicarakan anak kecil yang malang itu.
"Kembalikan makanan ini!" Dengan segera penjual pria itu mengambil makanan dari tangan kurus anak itu.
Anak itu akan mengambil makanan itu kembali tapi urung saat pria di hadapannya memberikan ancaman.
"Kau tidak seharusnya mencuri seperti ini! Jika kau ingin meminta makanan, bilang saja padaku! Siapa rupanya yang mengajarkan kau untuk mencuri!? Jawab!!" bentak pria tersebut di hadapannya, membuat anak itu bergetar. Seluruh tubuhnya gemetaran.
Anak itu tak berani menjawab. Ia benar-benar tak bisa mengungkapkan kata-kata. Matanya sudah berlinang air mata hampir menangis, namun tampaknya tak membuat kasihan pria di hadapannya.
Pria itu sangat kesal dan akan memukul tangan kurus anak itu, sebelum hal itu terjadi, Pangeran Henry segera bertindak mencegah pria tersebut agar tidak menyakiti anak sekecil itu.
"Bisakah saudara bertindak lebih bijak? Anak kecil tidak perlu dianiaya. Dia butuh bimbingan," ucap Pangeran Henry dengan tegas tapi terkesan tetap tenang.
Pria itu menghentikan gerakannya, lalu segera menoleh ke samping. Seketika ia terkejut dan merasa terintimidasi, mengetahui siapa orang yang kini berdiri gagah di hadapannya. Seorang pangeran yang sangat disegani oleh rakyat.
"Maafkan saya, Yang Mulia Pangeran Henry. Saya tidak bermaksud menganiaya anak ini. Saya hanya memberikan dia pelajaran agar tidak mengulangi kesalahan yang sama," jawab pria itu sambil memohon-mohon ampun.
Pangeran Henry berkata dengan tenang, "Memang benar, kita harus memberikan pelajaran pada mereka yang melakukan kesalahan. Namun, mari lakukan hal itu dengan cara yang lebih baik dan mendidik. Anak ini mungkin butuh bantuan dan bimbingan, bukan hukuman fisik."
Roni yang berdiri di dekatnya menambahkan, "Pangeran Henry benar. Mungkin kita bisa mencari solusi bersama untuk membantu anak ini dan memberinya pelajaran tentang perbuatan yang benar."
Pangeran Henry kemudian menoleh pada anak tersebut. "Apa yang mendorongmu melakukan hal ini? Jangan takut, kami di sini untuk membantu."
Anak itu masih ragu-ragu, tetapi dengan dukungan dari Pangeran Henry dan Roni, ia mulai menceritakan kisah kehidupannya yang sulit. Pangeran Henry dan Roni mendengarkan dengan penuh perhatian, sementara orang-orang di sekitar mereka juga menjadi saksi dari kebaikan hati mereka.
"Kau terpisah dari ibumu saat pergi ke Kota Andora?" tanya Pangeran Henry memastikan saat anak laki-laki itu selesai menceritakan kisah perjalanannya ke Kota Andora.
"Iya, aku tidak tahu di mana ibuku sekarang," jawab anak itu dengan memelas.
__ADS_1
"Baiklah, aku--."
Ucapan Pangeran Henry terpotong saat tiba-tiba anak itu berdiri, lalu dengan gerakan cepat ia menendang tepat di perut Pangeran Henry, membuat Pangeran Henry hampir terjungkal ke belakang. Untung saja ia dapat mengimbangi tubuhnya.
"Hahaha, kau telah tertipu!" Anak kecil tertawa kencang, kemudian mengeluarkan sebuah kendi dari dalam tas rajutnya. Lalu ia menyiramkan sesuatu dari dalam kendi itu ke arah Pangeran Henry.
Semua orang panik melihat tingkah anak laki-laki itu yang di luar dugaan. Awalnya terlihat kasihan ternyata tidak beradap.
Roni juga panik. Sebelum air itu mengenai Pangeran Henry, ia dengan cepat mengangkat tangan kanannya dan seketika air itu mengambang tepat di depan wajah Pangeran Henry. Sejenak kemudian, Roni dengan cepat mengarahkan air itu ke tanah dan terciprat ke segala arah.
"Kau anak nakal, kurang ajar! Kau telah mencoba mencelakai Pangeran Henry!" teriak pedagang obat-obatan yang mengetahui bahwa air yang dilemparkan anak itu adalah air keras yang dapat membuat kulit mengelupas atau gatal-gatal. Air keras itu memiliki warna yang berbeda dari air biasa. Pedagang obat-obatan itu tampaknya sudah berpengalaman.
Semua orang tambah tercengang setelah mendengarkan ucapan pedagang obat-obatan itu. Lantas banyak orang yang mengerumuni tempat kejadian.
"Anak kecil ini tidak pantas diberi ampun. Berikan dia pelajaran, ayo! Berikan dia pelajaran yang setimpal!" teriak beberapa warga yang memprovokasi agar warga yang lain bertindak memukul atau menganiaya anak itu.
Pangeran Henry tampaknya terlihat tetap tenang meski ia tahu anak itu hampir saja membuat hidupnya celaka. "Tenangkan diri kalian! Jangan menganiaya anak kecil! Mungkin kita bisa membicarakannya secara baik-baik!" interupsinya kepada semua orang.
Teriakan Pangeran Henry tak dihiraukan oleh warga, beberapa pria segera bertindak memukul anak itu. Seolah tak memberinya ampun.
Anak itu meronta-ronta merasakan kesakitan yang luar biasa di tubuhnya. Saat Pangeran Henry akan menyelamatkannya, tiba-tiba ada seorang laki-laki berjubah hitam dari arah lain yang berlari sangat cepat menuju ke arah kerumunan. Laki-laki itu dengan gerakan kilat mengeluarkan sihirnya dan membuat beberapa pria yang memukuli anak itu langsung terpental cukup jauh. Sementara Pangeran Henry dengan lincah melompat ke belakang sebelum sihir itu mengenai tubuhnya.
Semua orang panik menyaksikan kejadian tak terduga tersebut.
Anak itu menangis. Pria berjubah hitam misterius yang tidak menunjukkan wajahnya, segera bertindak menggendong anak itu dan membawanya pergi menjauh. Pria jubah hitam itu berlari sangat cepat ke arah barat. Semua orang hanya ternganga ketika melihat pria itu berlari seperti kilat.
"Siapa dia? Siapa sebenarnya anak kecil itu? Kenapa semua ini begitu mendadak?" ucap beberapa warga di sekitar.
"Cepat tinggalkan tempat ini!" teriak warga lain.
"Siapa sebenarnya anak kecil itu, Pangeran Henry? Kenapa tiba-tiba ada pria berjubah hitam membawanya pergi?" tanya Roni kebingungan setelah menyaksikan kejadian tak terduga tersebut.
****
Sementara itu di tempat yang jauh dari pasar, tepatnya di dekat sungai, Edward akhirnya bisa bernapas lega meskipun sedikit tersengal-sengal setelah ia menyelamatkan anak kecil suruhannya yang sekarang babak belur di bagian wajah.
"Kau sangat bodoh! Kenapa kau malah menyiram Pangeran Henry? Aku menyuruhmu untuk menyiramkan air keras itu ke wajah anak laki-laki rambut biru muda di sebelah Pangeran Henry!" Edward sangat jengkel karena anak itu salah sasaran saat menyiramkan air keras yang seharusnya kepada Roni.
"Maafkan aku, aku hanya melihat Pangeran Henry yang memiliki rambut biru. Anak laki-laki itu tidak seperti yang kakak lihat," ucap anak kecil itu sambil menunduk. Ia sesekali meringis, merasakan sakit di bagian pipinya.
__ADS_1
Edward berhenti sejenak saat mendengar ucapan anak itu. Ia kemudian memastikan, "Tunggu! Kau bilang anak laki-laki itu tidak seperti yang aku lihat? Apa maksudmu?"