
Kicauan burung pipit menyambut Pangeran Henry dan Roni yang kini tengah berjalan melewati jalan setapak yang tersusun dari bebatuan halus. Di sisi kanan dan kiri jalan terdapat pohon tinggi yang menjadikan tempat tersebut terlihat teduh dan menyegarkan. Matahari semakin merangkak ke atas langit tetapi sinarnya yang panas terhalang oleh daun-daun rimbun.
Keduanya akan menuju ke sungai yang terletak cukup jauh di halaman belakang istana. Sungai itu akan menjadi tempat bagi Roni untuk melatih kemampuan sihirnya. Pangeran Henry sengaja membawa Roni ke sungai untuk latihan karena jika berlatih di danau yang terletak di dekat istana, maka kemungkinan akan menimbulkan kekacauan. Terutama karena kekuatan Roni.
Sebenarnya di Istana Andora memiliki ruangan khusus yang didedikasikan untuk pelatihan ilmu sihir, dipandu oleh lima belas guru sihir dengan keahlian unik masing-masing. Pelatihan sihir ini khusus diselenggarakan bagi anak-anak dari keluarga Kerajaan Andora yang masih dalam tahap pengembangan untuk menguasai bakat mereka secara optimal.
Namun, Pangeran Henry sengaja tidak melibatkan Roni dalam pelatihan sihir karena merasakan kekuatan Roni yang besar, dan tidak mungkin berlatih di dalam ruangan. Roni membutuhkan lingkungan terbuka untuk mengasah kemampuan sihirnya. Lagipula Pangeran Henry dapat melatih Roni secara pribadi tanpa bantuan guru sihir.
"Kau harus berlatih di sungai, karena jika kau ikut berlatih di dalam ruangan, kekuatanmu yang besar dapat menimbulkan kekacauan," ucap Pangeran Henry yang berjalan di depan Roni.
"Baiklah, aku menurut saja denganmu," jawab Roni yang tidak dapat menolak. Ia menuruti saja kemana Pangeran Henry akan membawanya berlatih. Kemudian Roni bertanya, "Apa selain aku, ada anak lain yang memiliki kekuatan elemen air di istana?"
Pangeran Henry menggeleng lalu menjawab, "Tidak ada. Kekuatan elemen air hanya dimiliki oleh Ratu Andora."
Roni terkejut. "Lalu kau!?"
Pangeran Henry tertawa pelan. "Hahaha, tentu saja aku punya. Hanya saja kekuatan airku tidak sekuat Milik Ibunda Ratu. Hanya lima puluh persen dari kekuatan air yang dimiliki Ibunda Ratu. Kekuatan elemen air bukanlah kekuatan utamaku, aku memiliki kekuatanku sendiri.”
"Lalu apa sebenarnya kekuatan yang kau miliki?" tanya Roni semakin penasaran.
"Mengendalikan tanah," jawab Pangeran Henry bernada santai.
"Wah ajaib sekali, bisakah kau menunjukkannya sedikit padaku?"
Pangeran Henry tersenyum tipis, dengan gerakan cepat ia mengarahkan telunjuk tangannya pada sebongkah tanah kering yang terdapat di sisi mereka. Dengan sentuhan lembut, bongkahan tanah itu mulai bergetar dan kemudian merespons pada perintah tak terlihat Pangeran Henry. Tanah itu bergerak seiring gerakan jarinya, membentuk bola-bola tanah dan mengambang di udara. Henry mengendalikan salah satu bola tanah menuju ke arahnya, lalu ia menggenggam bola tanah itu dan menghancurkannya dalam sekali tangkap.
Roni memandang kagum. "Itu luar biasa! Bagaimana kau bisa melakukannya?"
Pangeran Henry menjawab, "Ketika seseorang memiliki ikatan mendalam dengan elemen tertentu, mereka dapat mengendalikannya dengan pikiran dan kehendak. Ini adalah keahlian yang diwariskan melalui garis keturunan keluarga kerajaan."
Roni tersenyum. "Jadi, setiap anggota keluarga kerajaan memiliki kekuatan elemen tertentu?"
Pangeran Henry mengangguk. "Ya, dan ini menjadi bagian dari tanggung jawabku untuk melindungi dan mengembangkan keahlian ini."
"Aku tidak menyangka bisa menjadi seperti keluarga kerajaan yang memiliki kekuatan elemen." Roni merasa beruntung.
"Tentu saja, karena Royalty bersemayam di tubuhmu."
"Ya aku merasa beruntung."
Setelah itu tak ada obrolan di antara mereka berdua. Hingga tanpa sadar mereka kini sudah sampai di dalam hutan. Roni memandang ke sekitarnya dengan tatapan bingung.
"Tunggu, kau membawaku ke hutan?" Roni mencegah Pangeran Henry.
Ucapan Roni tersebut membuat Pangeran Henry menghentikan langkahnya. "Iya, sungai untuk tempat kau berlatih ada di dalam hutan. Dan hutan ini masih termasuk ke dalam wilayah Kerajaan Andora."
"Menakjubkan, apakah sungai itu masih jauh dari tempat ini?"
Pangeran Henry tersenyum sambil menggelengkan kepalanya. Ia menunjuk ke arah sungai yang terletak tidak jauh dari tempat mereka berdiri sekarang. Hanya beberapa langkah keduanya akan mencapai tepi sungai.
__ADS_1
Hutan dan sungai Kerajaan Andora ini menggambarkan keindahan alam yang memukau. Suara gemericik air sungai yang mengalir dengan tenang melalui pepohonan hijau memberikan suasana yang menenangkan. Pepohonan yang menjulang tinggi membentuk atap hijau yang menyaring sinar matahari, menciptakan bayangan lembut di tanah.
Aroma segar tanah basah dan dedaunan menyatu dengan nuansa bunga liar yang bermekaran di tepian sungai, menciptakan aroma yang alami dan menyejukkan. Hutan dipenuhi dengan ragam tanaman dan binatang kecil, sementara sinar matahari yang tembus di antara pepohonan tampak menari-nari di rerimbunan dedaunan.
Sungai tampak berliku-liku dengan batu-batu besar yang tersebar di sepanjang tepiannya. Sementara suara riak air menyatu dengan kicauan burung dan desiran angin, sehingga menghasilkan simfoni alam yang menggetarkan hati.
Saat memerhatikan daerah di sekitar sungai, mendadak Roni seperti mengingat sesuatu. Ia merasa pernah menginjakkan kaki di tempat ini. Tapi kapan? Roni hampir tidak mengingatnya. Beberapa detik kemudian, anak remaja itu mengingat tentang mimpinya sebelum akhirnya ia mempunyai kemampuan sihir. Iya di mimpinya! Hutan dan sungai ini sama persis dengan hutan dan sungai yang ada di mimpinya. Benar-benar sama dan bahkan Roni tidak dapat membedakannya. Ia mendadak merasakan kepalanya pusing.
"Apa kau baik-baik saja?" Pangeran Henry panik saat mengetahui Roni akan jatuh ke tanah.
Roni berusaha mencegah agar tubuhnya tidak ambruk. "Tidak apa-apa, aku baik-baik saja," jawab Roni sedikit gugup.
"Baiklah, apa kau siap untuk melatih kemampuan sihirmu?" tanya Henry. Kemudian pria itu menghadap sungai dan berpunggung tangan. Membiarkan rambut birunya yang panjang sebatas bahu melambai-lambai diterpa angin. Lalu Henry kembali berkata, "Jika kau belum siap, aku akan menunggumu."
Roni berjalan tergesa mendekati Henry dan berdiri di sampingnya. "Tidak, aku sudah siap sepenuhnya," kata Roni dengan tekad di matanya. "Aku ingin belajar dan menguasai kemampuan sihirku."
Pangeran Henry tersenyum, menyadari keinginan kuat Roni untuk belajar. "Baiklah, mari kita mulai. Pertama-tama kau harus berdiri di tengah-tengah sungai." Ia menunjuk ke arah sungai.
"Tunggu, kenapa aku harus berdiri di tengah sungai?" Roni bingung.
"Sudahlah, kau jangan banyak bertanya. Ikuti saja langkah-langkahnya," jawab Pangeran Henry.
"Baiklah." Roni menuruti perintah Henry. Kemudian anak remaja itu berjalan dengan hati-hati menuju ke tengah sungai. Sepertinya tidak terlalu dalam.
Roni sedikit terkejut saat merasakan air sungai yang begitu dingin. Namun ia tetap melangkah hingga setengah kakinya tenggelam ke dalam sungai. Semakin ke tengah, sungai semakin dalam dan menenggelamkan sebagian tubuh Roni.
Pangeran Henry tersenyum mengapresiasi semangat Roni. "Baiklah, kau harus tetap tenang di sana."
Roni mengikuti perintah Henry. Ia tetap berdiri tenang dengan sebagian tubuhnya yang tenggelam di dalam sungai.
Kemudian Henry kembali memberikan instruksi. "Sekarang tutup matamu dan fokuslah untuk menghubungkan dirimu dengan energi di sekitarmu. Rasakan aliran sihir yang ada di udara dan di dalam sungai."
Mendengar instruksi Henry, Roni mulai menutup matanya dan meresapi alam sekitarnya. Ia mencoba merasakan energi yang mengalir di sekitarnya, seperti aliran sungai yang tak terlihat. Henry memberikan petunjuk dan bimbingan, membantu Roni mengarahkan perhatiannya pada inti kekuatan sihir yang ada.
Henry memberikan Roni panduan pertamanya, membimbingnya melalui gerakan dan kata-kata khusus yang diperlukan untuk mengendalikan sihir elemen air. Roni, dengan penuh antusiasme, mencoba mengikuti instruksinya. Sungai di sekitar mereka memberikan respons, memperlihatkan bahwa sihir Roni mulai menemukan jalannya. Begitu proses pelatihan dimulai, energi ajaib mengisi udara, menciptakan suasana yang mempesona di hutan tersebut.
"Sekarang cobalah untuk mengangkat tangan kananmu, air sungai sudah bereaksi dengan sihirmu," ucap Henry bernada tenang. Namun hutan yang sunyi membuat suaranya terdengar keras.
Roni mulai mengikuti instruksi dari Henry. Anak remaja itu mengangkat tangan kanannya. Ajaib, air sungai menunjukkan reaksi. Dengan cepat, air sungai mengikuti gerakan tangan Roni ke atas udara, menciptakan gelombang tinggi hingga terciprat ke segala arah.
"Hebat, kemampuanmu luar biasa. Sekarang cobalah untuk menggerakkan tanganmu ke arah lain."
Roni menggerakkan tangannya ke kiri, seketika air sungai bereaksi dengan cepat, membentuk gelombang rendah yang menggulung-gulung ke arah kiri dan perlahan-lahan air sungai kembali tenang seperti semula. Sangat menakjubkan.
"Luar biasa. Kau sepertinya sudah sangat mampu mengendalikan air dengan cara sederhana. Sekarang buka matamu," ucap Pangeran Henry.
Roni membuka matanya dan menatap Henry yang berdiri di tepi sungai yang juga ikut menatapnya.
"Latihan kedua akan masih tergolong mudah. Tapi aku ingin mengetahui seberapa besar kekuatanmu," ucap Pangeran Henry. "Apa kau siap?" Lanjutnya.
__ADS_1
"Aku siap!" teriak Roni dengan semangat. Ia masih berdiri di tengah sungai.
"Bagus, kau sangat semangat untuk berlatih. Baiklah, sekarang coba kau kendalikan air sungai dan bentuklah menjadi bola air. Kemudian kau lemparkan bola air itu ke udara," perintah Pangeran Henry.
"Baik, akan aku lakukan." Roni menutup matanya. Merasakan energi magis di sekitarnya sembari menarik napas panjang lalu dikeluarkan secara perlahan.
Roni kembali membuka matanya kemudian mengarahkan telunjuk tangannya pada air sungai. Air sungai menunjukkan reaksi saat telunjuk Roni bergerak, berputar-putar membentuk lingkaran yang semakin membesar di atas permukaan sungai. Roni berkonsentrasi dengan keras, merasakan setiap getaran energi di ujung jarinya.
Pangeran Henry memperhatikan dengan kagum. "Sangat baik, Roni. Sekarang, fokus untuk membentuk bola air dari pusaran tadi. Rasakan kekuatan di dalam dirimu."
Roni mengekspresikan tekadnya, dan dengan gerakan tangan yang terarah, pusaran air itu mulai membentuk sebuah bola air yang mengambang di atas tangannya. Kilatan kebiruan memantul di mata Roni, mencerminkan keberhasilan pertamanya dalam menciptakan bola air.
"Haha, luar biasa! Sekarang, lemparkan bola air itu ke udara dan biarkan mengambang di sana!" dorong Pangeran Henry.
Roni mengepulkan tangan ke atas, meluncurkan bola airnya ke udara. Bola itu melayang sejenak di ketinggian sebelum kemudian membentuk pola air yang menakjubkan, dan akhirnya pecah menjadi tetes-tetes air yang menyebar ke segala arah.
Pangeran Henry sedikit memberikan tepuk tangan dan tersenyum bangga terhadap kemampuan Roni. "Hebat sekali. Kau memiliki kemampuan sihir yang luar biasa, Roni."
Roni yang masih di tengah sungai pun tersenyum penuh kebahagiaan. "Terima kasih, Pangeran Henry. Aku tidak akan mencapainya tanpa bimbinganmu."
Pangeran Henry menatapnya serius. "Ini baru awal dari latihanmu, Roni. Kekuatan sihirmu memiliki potensi besar, dan aku akan terus melatihmu. Sekarang... apa kau siap untuk latihan ketiga?"
"Aku selalu siap!"
Pangeran Henry memutar badan, mengarahkan kedua tangannya ke arah tanah di sebelahnya. Tanah bergetar memberikan reaksi terhadap sihirnya. Kemudian tangannya terangkat ke atas bersamaan dengan terbentuknya sebuah dinding tanah yang keras. Sekarang dinding tanah itu berdiri kokoh di sebelahnya.
"Kau lihat dinding tanah ini?"
Roni mengangguk dengan kedua matanya yang tak lepas dari dinding tanah yang baru saja diciptakan oleh Pangeran Henry.
Henry berkata, "Aku ingin menguji seberapa kuat kekuatan airmu. Kalau kau bisa, cobalah untuk menembus dinding tanah ini dengan kekuatan airmu."
"Baiklah, aku akan mencobanya." Roni berkata dengan yakin. Roni mengumpulkan air sungai di telapak tangannya dengan penuh konsentrasi. Setelah itu, dia melepaskan bola air yang bergerak cepat menuju ke dinding tanah. Bola air itu menemui hambatan, menciptakan semacam kilatan di sepanjang permukaan dinding tanah.
Pangeran Henry menyaksikan dengan penuh perhatian. "Konsentrasikan energimu, Roni. Jangan ragu."
Roni menggigit bibirnya, menambahkan intensitas upayanya. Tetesan air mulai menembus pelan-pelan permukaan tanah, menciptakan pola menarik seiring dengan perlawanan dinding yang semakin kuat. Perlahan dinding tanah mulai berubah sedikit lunak di titik kontak, namun, dinding itu masih kokoh berdiri.
Pangeran Henry tersenyum puas melihat usaha Roni. "Hebat, Roni. Teruslah berlatih, dan kau akan menjadi ahli dalam mengendalikan elemen air."
Roni menatap dinding tanah yang berhasil ditembusnya dengan senyuman kemenangan. "Terima kasih, Pangeran Henry. Ajaranmu sangat berharga bagiku."
"Latihan keempat, mungkin sulit bagimu. Tapi tidak masalah. Kau harus mencobanya dan tetap berlatih."
Roni pun menyiapkan diri untuk latihan yang keempat. Ia akan menunjukkan kepada Pangeran Henry bahwa ia mampu untuk melewati latihan kali ini.
****
Ikuti terus kisah Royalty. Thank you...
__ADS_1