
denting hujan membasahi genting yang memayungi ruang, terhentak membasahi rerumputan, membawa gemercik mengiringi alunan keresahan, tangisan-tangisan bernada sumbang menghanyutkan jiwa tenggelam dalam kerinduan.
"Nilam samampai kapan kau tidak sadarkan diri, sampai kapan aku menunggumu dibalik pintu kaca ini, tak berdaya ingin menyentuhmu.";
tiba-tiba saja airmata fallix berderai mengikuti kata hati yang begitu merindukan tawa Nilam, sekuat apa pun manusia, dirinya hanya sebuah wayang menunggu digerakan dalangnya, begitu tak berdaya jika sang khaliq menghendaki tak ada tawar menawar selain berpasrah mengikuti jalannya sebuah takdir.
"dok apa kami bisa menemuinya..??". tanya fallix kepada dokter yang baru keluar dari ruangan nilam.
"untuk saat ini kami belum mengizinkan, saya mohon maaf.."
hampir sepuluh hari kami menunggu nilam, menunggunya menunjukan perubahan lebih baik, kami sangat resah dokter yang menanganinya bahkan hampir putus asa, karena kondisinya semakin hari semakin down, dokter memutuskan akan mencabut semua alat pendukung pernafasan pada Nilam, kami berusaha dan memohon agar dokter menunggu dan memberi kesempatan, akhirnya setelah mengisi lembaran permohonan kami diberi waktu tiga hari, walau pada akhirnya jika dalam tiga hari masih tak ada perubahan kami harus merelakan Nilam.
Berbekal waktu tiga hari fallix berusaha sekuat tenaga mencari apa pun kemungkinan yang bisa menolong nilam menjemput sukmanya seperti yang Hany ucapakan beberapa waktu lalu.
mencari dan menemukan orang yang tepat tidaklah mudah, apalagi semua yang berkaitan dengan hal-hal gaib, jika salah melangkah dan bertindak bukan hanya membahayakan orang yang ditolong tetapi yang menolongpun akan mengalami hal yang sama.
__ADS_1
"Han, sekarang kita gimana .?? kita cuma punya waktu tiga hari.";
"Selain menjemput sukma nilam, hal lain yang bisa menolongnya yaitu menyiram kuburan dengan air doa..";
"keduanya sangat sulit,tapi aku tak boleh putus asa aku harus bisa mengeluarkan nilam dari masalah ini."; fallix berdiri dan kemudian bergegas pergi.
hari ini fallix memutuskan kembali mencari informasi tentang Dirga, fallix memulai dari mencari alamat Dirga setelah bersusah payah mencari, alamat itu didapatkannya dari asisten Lina itu pun didapat dengan sebuah syarat fallix tak boleh menyangkutkan hal apapun dengan dirinya.
kemudian fallix mendatangi kediaman dirga sesuai alamat yang ia dapatkan, namun orang-orang disana bersikeras menyembunyikan Dirga,bahkan fallix sampai diusir ketika terus bertanya soal dirga,fallix memutuskan pulang dengan tangan kosong dan berat hati, sebelum kerumah sakit fallix memutuskan untuk mampir sebentar ke kediaman Nilam,disana berdiri seorang ibu paruh baya dengan seikat bunga dan lilin ditangannya, setelah menyalakan lilin ibu tersebut meletakkan ikatan bunga ditangannya,fallix masih mengamati perempuan itu dari kejauhan yang nampak tengah berdoa.
sebelum ketinggalan jauh fallix lantas segera mengejarnya, apa yang perempuan itu lakukan menarik perhatian fallix dan menggerakkan hatinya untuk bertanya, setelah menyetujui permintaan fallix (mengobrol) mereka menghentikan kendaraannya disebuah kedai kopi.
"ia nak ibu memang dari luar kota. ";
"oh, apa ibu bermaksud mengunjungi kerabat ibu dirumah itu.??"; pertanyaan fallix dijawabnya dengan gelengan dan senyuman kecil.
__ADS_1
"enggak kok nak. ";.
"lalu..?? ";. fallix menyelidik.
"hari ini hari ulang tahun anak ibu,tapi "; ibu tersebut nampak menetralkan fikirannya.
"tapi kenapa bu.??" fallix semakin penasaran.
"putri ibu sudah meninggal."; ibu tersebut nampak berkali-kali menahan tangisnya.
"saya minta maaf bu.";
"tidak apa-apa nak jangan sungkan, ibu sudah merelakannya, kematian itu milik semua orang kita hanya sedang menunggu giliran, tapi terkadang ibu merasa kecewa mengapa kematiannya harus dengan cara itu";.
"maksud ibu.??";
__ADS_1
"iya,putri ibu ditemukan mati gantung diri.";.
perkataan itu sontak membuat fallix tersendak.