
"Toloong !!, Toloong !!" Fallix berusaha melepaskan cengkraman dilehernya tetapi Fallix tak bisa menandingi kekuatan tangan tersebut. Hingga...
"Lix,Lix " tubuh Fallix digoyang-goyang Bachtiar yang baru kembali dari Mushala.
"Om, kenapa gak dari tadi bangunin saya.??" Fallix mengusap keringat yang nembasahi dahinya.
"Mimpi buruk lix ??." bachtiar duduk disamping Fallix yang nampak begitu ketakutan.
"Sepertinya ia, tapi aku bisa mendengar setiap ketukan diluar mimpiku" Fallix mengusap kasar wajahnya.
"Mungkin kamu kecapean lix, lebih baik kamu istirahat" suruh Bachtiar.
Fallix tersenyum tipis "Tidak apa-apa Om, Fallix baik-baik saja".
"Jangan terlalu memaksakan diri nanti kamu sakit" Bachtiar mengusap halus pundak Fallix.
"Ia om, Fallix hanya ingin Nilam segera sembuh" Fallix tersenyum menanggapi perhatian Bachtiar
"Sebelumnya om sangat berterima kasih, dan mohon maaf karena Nilam kamu jadi repot" Bachtiar menghela nafas sedih. "Om tak pernah mengira semuanya akan seperti ini" Bachtiar menyandarkan punggungya pada kursi.
__ADS_1
"Om. Saya suah menemukan Dirga";
"Dirga ???. siapa itu.??" Tanya Bachtiar.
**Memang sebelum ini Bachtiar belum mengetahui hal-hal yang berkaitan dengan penyebab hilangnya kesadaran Nilam.**
"Dirga itu mantan kekasih Sinta." jelas Fallix
"Sinta?? siapa lagi??" Bachtiar menambah pertanyaannya
"Sinta itu...
Saat bersamaan suara Adzan subuh berkumandang menghentikan pembicaraan Fallix.
Fallix akhirnya mengikuti ajakan Bachtiar.
Tiba di Mushla Fallix melihat orang-orang berkumpul dan bergantian mengambil air wudu. Kemudian Fallix segera bergegas menjadi salah satu diantara mereka, mengambil air wudhu kemudian melaksanakan shlat subuh.
Selepas shalat subuh, Fallix memilih duduk sebentar, kemudian merebahkan badannya yang begitu lelah, suasana kian hening membuat Fallix sedikit mengantuk dan tiba sesaat matanya terasa berat untuk terbuka kembali. Sebelum matanya benar-benar tertutup Fallix mendengar keributan dan jeritan, terdengar dari suaranya nampak seorang pasien tengah mengamuk hingga melukai perawat, fikiran Fallix dihinggapi bermacam keingintahuan terdorong rasa penasaran, namun matanya menolak dan memilih terlelap.
__ADS_1
Suara orang-orang terdengar kian ramai pertanda hari malam telah berganti pagi.
Fallix, melirik arlojinya kemudian segera bangun. "Ya alloh jam 8 lebih. Aku kesiangan" gumam Fallix sambil mengusap wajahnya.
Fallix berjalan menyusuri lorong rumah sakit, sebelum sampai di ruangan Nilam, Fallix melewati beberapa ruangan yang hampir setiap perawat maupun penjenguk yang Fallix temui tengah membicarakan kejadian menakutkan yang terjadi tadi pagi.
"Hampir saja dia memb****uh dokter yang menanganinya."
"Untung saja ada bapak itu menyelamatkan kita semua."
"Kalau tidak ada dia, bisa repot kita"
"Iya, apalagi saat dia nengamuk tak akan ada yang mampu menahannya"
"Kegaduhan apa yang membuat mereka begitu ketakutan" fikir Fallix. "Mengapa begitu heboh ??"
"Sus,. maaf ada apa yah kok rame sekli" tanya Fallix kepada salah satu suster. penasaran,
"Ohh, itu tadi ada pasien kerasukan dan menyerang perawat." jelas suster. "Kami semua kewalah menahannya, tapi untung ada bapak itu" suster tadi menunjuk laki-laki paruh baya yang tengah menebus obat..
__ADS_1
"Ooh " ucap Fallix tanpa panjang lebar. "Dia??" Laki-laki paruh baya tersebur tiba-tiba menghilang seketika dari mata Fallix, tak lama suster itu pun pergi.
"Lix, kita harus segera menemukan orang yang bisa menjemput sukma Nilam secepatnya" ucap Hany sedikit khawatir. "Waktu yang diberikan dokter kini semakin sempit"