Ruang Kegelapan,

Ruang Kegelapan,
bayangan.


__ADS_3

"Lix, Lix." Hany menyolek Fallix yang masih fokus pada bercak darah di mobilnya.


"Kenapa Han.??" Fallix berdiri, dilihatnya Hany gemetar ketakutan.


"Liix loe lihat, itu..??"


Hany mengisyaratkan matanya, nafasnya tersengal-sengal ketakutan.


Fallix menoleh arah yang Hany maksud.


"Lix, Lix." Hany melotot matanya hampir menjulur keluar, ketakutan.


Bayangan itu berada didepannya dan dilihat jelas oleh Hany juga Fallix.


Fallix menarik-narik pintu mobil mencoba membukanya, namun mobil itu tertutup kuat, terkunci.


Bayangan putih itu masih bejalan mendekat kearah mereka berdua.


"Han, Han." Fallix ketakutan. Dia masih mencoba membuka pintu mobil sebelum bayangan putih itu kian mendekat.


Hany mencoba menarik pintu belakang namun sama, sulit.


Suasana disana begitu gaduh penuh ketegangan karena bayangan itu kian mendekat. Fallix dan Hany sama berteriak mengutuki pintu yang sulit terbuka.


Tiba-Tiba bayangan itu hilang.


"Udah gak ada Han."


"Sepertinya ia," Hany pun sudah tidak melihat bayangan itu.


Hany maupun Fallix sama berdiri dengan tatapan memutar mencari bayangan.


"Apa, benar-benar udah pergi.??" Fallix juga Hany sama berdiri dengangan tatapan tertuju pada tempat yang sama.


Setelah memastikan bayangan itu tidak ada Hany dan Fallix berbalik dan...

__ADS_1



Bayangan itu tepat didepan mereka.


"Aaaaaakhhh." teriak Hany juga Fallix.


Mereka berdua berlari sejadinya tanpa tujuan dengan bayangan yang terus mengikutinya.


Ditengahnya berlari ketakutan, "Aaww." Hany Tiba-Tiba terperosok.


Fallix yang tengah berlari bergenti dan berbalik. "Han.. Ayo Han." Fallix menarik Hany keluar dari perangkap.


"Eeekkgg." Hany berhasil keluar, tetapi kakinya cidera sehingga Hany kesulitan untuk berlari.


Skskskksks.


Bayangan itu belum berhenti mengejar mereka.


"Han, ayo Han." Fallix menarik Hany yang kesulitan untuk berjalan.


"Huh huh huh." Hany membuang nafasnya kelelahan. "Loe lari duluan aja Lix gue udah gak kuat,"


"Han, cepat han." Hany sering ketingglan namun Fallix segera berbalik kemudian menyeret Hany kembali.


"Udah hah hah. Aku udah gak kuat, lebih baik kamu pergi saja cepat, cepat Lix cepat," Hany menengok kebelakang dan dilihatnya bayangan itu kian mendekat.



"Lix, ayo lari Lix !!."


Fallix kebingungan.


Tak ada cara lain Fallix harus menggendong Hany.


Walau hany sempat menolak tapi tak ada pilihan lain.

__ADS_1


Hany meloncat kepunggung Fallix.


Fallix berlari dengan beban yang semakin berat, selain karena Hany digendongannya, Fallix juga merasa kesulitan karena langkahnya terasa lebih berat, karena ketakutan.


"Ayo Lix ayo, dia semakin dekat."


Fallix berlari dengan tegang, Bayangan itu tak henti mengikutinya.


Brruugghh.


Fallix tersandung dan jatuh.


Bayangan itu semakin dekat dan semakin mendekati mereka.


Angin bertiup kencang pepohonan meliuk-liuk. Suara-suara hewan dan serangga malam terdengar lebih kuat.


"Hhhhiiiisss." Suara itu. Entah dari mana sumbernya.


"Ciakk, ciakk, ciiakk." Suara yang persis suara anak ayam.


"Kok kok kok." Kini Fallix mau pun Hany sama mendengar suara induk ayam.


Fallix dan Hany mengesot mudur menghindari bayangan putih yang terus mengikuti mereka.


"Uaakkhhh. Keerrrrrrhh. Hihihih. kokokok, ciak ciak." Suara-suara itu kian nyaring seiring bayangan yang terus mendekat.


"Liix, Liix. Hany mau pun Fallix sama ketakutan.


Bayangan itu berdiri tepat dihadapan mereka dan siap menerkam keduanya.


"Aaaaaaakkhh." Hany dan Fallix berteriak sejadinya.


"Pergi kau mahluk laknat.!!" Seorang lelaki paruh baya membawa kendi dan menyimbah kan air pada mahluk tersebut menggunakan daun pandan.


"Pergi kau mahluk laknat.!!" Ucapnya mengulang sambil membacakan mantra pada air dipelukannya.

__ADS_1


Setelah disimbah bayangan itu pun akhirnya menghilang.


Hany dan Fallix akhirnya bisa bernafas lega. Namun masih terduduk lemas diatas tanah.


__ADS_2