
"Nak, sedang apa kalian disini.??" Tanya bapak tua itu, heran.
"Kami kebetulan lewat sini, pak." Jelas Fallix, mencoba berdiri.
"Han." Fallix mengulurkan tangan membantunya berdiri.
"Aduuh." Ringis Hany, kesakitan.
"Kalian mau kemana.?" Tanya pak tua itu.
"Kami mau pulang, pak.!!"
"Pulang.?? Kemana.?? kenapa lewat sini, bukankah disini tidak ada jalan yang bisa kalian lewati.??" heran bapak itu.
Fallix dan Hany saling menatap tak mengerti.
"Maksud bapak.??" Tanya Hany.
"Hem." Bapak itu menggeleng tak mengerti.
"Di tempat seperti ini mana ada jalan, yang ada hanya rimbunan Semak-Semak.!!"
"Apa bapak sedang bercanda.??" Tanya Fallix.
"Bapak sudah bertahun-tahun hidup disini dan tidak pernah ada yang berani membangun jalan disekitar sini."
"Pak, kami..
"Sudah, lebih baik kita obati dulu temanmu, kasihan." Bapak itu memotong kata-kata Fallix. Kemudian, dia beranjak diikuti Fallix yang memboyong Hany.
"Duduk disini.!!" Bapak itu memberikan kursi bambu yang cukup tua.
Setelah memberikan kursi kepada Fallix Bapak tua itu masuk kedalam gubuk tua yang didominasi dengan kayu dan bambu.
Fallix kemudian mendudukan Hany dikursi tersebut.
Fallix memutar tatapannya melihat sekeliling yang dihiasi gelap dan sepi. Rumah tua, hanya diterangi sebuah damar kecil yang meliuk-liuk mengikuti arah tiupan angin.
"Tempat ini layaknya, sebuah tempat pengasingan, jauh dari karamaian dan hingar bingar kota." Gumam Fallix.
Fallix terus berjalan mengelilingi gubuk reyot tersebut.
Ditengah perjalanan Fallix menemukan sebuah photo yang tersimpan rapih dalam rumah tua tersebut.
"Heii.!! Sedang apa kau disana.??" Teriak Bapak tersebut bernada tidak suka.
Fallix menaruh kembali photo dengan bingkai yang cukup moderen. "Maaf, maaf, Pak. Saya telah lancang."
Kemudian Fallix keluar dari gubuk tersebut mengikuti langkah bapak didepannya yang membawa beberapa obat herbal.
Sesekali Hany terlihat meringis ketika bapak tua itu mengobati lukanya.
__ADS_1
Setelah selesai dia(Bapak Tua) duduk bersama Fallix dan Hany.
"Maaf, tadi bapak membentakmu." Ucap Bapak tersebut.
"Tidak Apa-apa, pak !!. Lagian salah saya sudah lancang."
"Ia bapak disini tinggal bersama siapa.?? Tanya Hany.
Bapak itu tertunduk sedih. "Saya sendirian."
"Apa.? Sendirian, apa bapak tidak punya keluarga.?" Tanya Fallix.
"Setelah kejadian itu saya memilih sendiri." Jelasnya lemah.
"Kejadian.?? Kejadian apa.??" Selidik Fallix.
"Saya Satu-Satunya....
Krrriingg...
Tiba-Tiba telpon Fallix berbunyi.
"Halo mah," Jawab Fallix. "Ada apa..??"
"Nilam Lix, Nilam.!!"
"Ada apa dengan Nilam..??" Tanya Fallix khawatir.
"Ada apa lix.?? Tanya Hany sedikit dibuat bingung.
"Nilam, Han."
"Ada apa dengan dia.??" Heran Hany.
"Bawa pulang Nilam kekediamannya,!! maka dia akan segera sadar."
Fallix yang setengah berjalan, dia berbalik.
"Bapak tau kondisi Teman kami.??"
Bapak itu tersenyum sambil menggelengkan kepalanya. "Pulanglah, dia hanya sedang mencari jasadnya,"
Fallix bergegas pergi meninggalkan bapak tersebut.
"Lix apa kamu mengerti dengan ucapannya barusan.??" Tanya Hany.
"Aku tidak mengerti." Fallix menggeleng.
"Bapak itu benar, seharusnya kita tidak membawa Nilam kerumah mu, seharusnya dia dibawa ketempat pertama ia kehilangan kesadarnnya."
"Kenapa kamu tidak memberi tau aku sejak awal."
__ADS_1
"Aku juga tidak tau Nilam akan dibawa kerumahmu.!" sahut Hany.
"Ya sudah, yang penting sekarang kita pulang dulu." Ajak Fallix.
Karena sudah sangat lelah Hany berhenti sejenak. "Lix apa kamu yakin tadi kita lewat sini. ?? Gue udah capek Lix, kenapa kita gak sampe-sampe ??."
"Gue juga gak tau Han."
"Ngomong-Ngomong, sudah berapa lama kita berjalan disini," Tanya Hany.
Sekilas Fallix melihat jam di handphone nya. "Gue gak tau han, sekarang kita lanjut aja pelan-pelan, siapa tau sebentar lagi kita sampai."
"Tapi gue cape Lix," Hany kembali meneruskan perjalanannya. "Apa mungkin kita nyasar..??"
"Gue harap nggak Han. Perasaan diarea ini tidak ada hutan deh, tapi gak tau kenapa setelah berjam-jam kita berjalan disini kita masih belum sampai di jalan raya." Fallix berhenti untuk kebali mengatur nafasnya.
"Adduu," Hany berjalan sempoyongan. "Gue cape Lix." Hany duduk sambil mengurut kakinya.
"Ia gue sama," Fallix duduk disamping Hany.
Rasa cape mulai sedikit hilang, mereka nerdua kemudian kembali melanjutkan langkahnya.
Beberapa saat kemudian.
"Kenapa kita gak nyampe-nyampe sih Lix,?? gue bener-bener gak kuat."
"Ia gue juga sama Han, gue gak kuat dan gue bingung kenapa semak-semak ini terasa begitu luas." Mereka berdua duduk dibawah sebuah pohon yang cukup rindang.
Hany menatap sekeliling tempatnya duduk. "Lix. Perasaan gue udah ngelewati pohon ini berkali-kali."
"Gue juga berfikir begitu, Han." Fallix menyandarkan kepalanya pada pohon besar dan rindang tersebut.
Karena terlalu lelah mereka berdua akhirnya tertidur.
Cuuiiit cuuit cuiit.
Suara-suara burung bersahutan membangunkan mereka berdua.
Eeeee.
Fallix menggeliat sambil mengucek-ngucek matanya.
"Han. Han, bangun udah siang." Fallix menggoyang-goyangkan tubuh Hany.
"Apa.?? Huuuuamm." Hany menguap. "Jadi semalam kita tidur disini.??" Tanya Hany.
"Ia Han, mungkin kita kecapean." Fallix berdiri dan meregangkan otot-ototnya.
"Han, Han. Lihat." Fallix menunjuk mobil yang berjarak tak jauh dari tempatnya.
Hany berdiri kemudian mengikuti arah yang ditunjuk Falllix. "Sial, benerkan dugaan gue, kita sebenarnya dibuat linglung hingga kita terus berjalan ditempat yang sama."
__ADS_1
"Ya sudah, sekarang kita pulang saja. Mereka pasti mencemaskan kita." Ajak Fallix.