
Selepas melajukan mobilnya kurang lebih satu jam, Fallix kini telah samapai didepan kediaman Bachtiar.
Sejak sepuluh menit yang lalu Fallix masih duduk diam didalam mobilnya, dia enggan untuk masuk kedalam rumah, dia bingung harus mengatakan apa kepada keluarga Nilam tentang Dirga yang ternyata sudah meninggal malam tadi. Sungguh nasib buruk, Dirga yang telah lama dicarinya tiba-tiba ditemukan meninggal beberapa jam sebelum Fallix menemuinya.
Fallix memukul kemudinya penuh kecewa, harapan untuk Nilam kembali hidup normal kini hilang sudah.
"Bagai mana ini bisa terjadi.?" Fallix membenamkan wajahnya pada kemudi.
Tok tok tok.
Fallix segera memiringkan matanya menoleh sumber suara, disana ternyata Bachtiar menunggu Fallix membuka kaca mobilnya.
"Ada apa pak.?" Tanya Fallix sambil membuka kaca mobilnya.
"Sudah lama disini.?" Tanya'nya.
Fallix mencoba menetralkan hatinya yang kecewa. "Lumayan, Pak. Kenapa.?"
"Kenapa tidak masuk.?" Tanya Bachtiar.
"Saya akan duduk disini dulu sebentar lagi, Pak. Kebetulan pinggang saya sedikit pegal"
Padahal Fallix tengah mengumpulkan keberaniannya untuk mengatakan yang sebenarnya kepada keluarga Nilam.
"Han." Panggil Fallix melalui sambungan telpon.
"Bisa kesini sebentar.?" Pinta Fallix.
"Oh tentu, dimana.?"
"Di halaman." Ucapnya singkat.
"Baik tunggu aku."
Tut
Hany mengakhiri panggilan Fallix.
"Masuk. !" Suruh Fallix. Saat melihat bayangan Hany telah berdiri disamping mobilnya.
"Ada apa Lix, kenapa wajahmu terlihat begitu kecewa.?"
"Dirga meninggal Han.!"
__ADS_1
"Apa.?" Teriak Hany.
"Apa yang harus kita lakukan sekarang, Han.? Apa kita masih mempunyai kesempatan untuk menyelamatkan Nilam.?" Ucap Fallix lemah.
Hany menggeleng, "Aku tidak tau."
Fallix meremas rambutnya kecewa.
"Kalian tidak usah khawatir, saya akan mencoba menyelamatkan Nilam, besok malam jam duabelas sebelum pergantian hari. Berkumpulah, ! jika perlu beri tau orang tua Sinta, mungkin saja dia mau melihat wujud terakhir putri semata wayangnya."
Hany dan Fallix menganga hebat saat tiba-tiba bapak tua itu menyahuti ucapan mereka berdua, yang herannya bapak itu bisa mendengar pembicaraan mereka berbicata didalam mobil dengan kondisi kaca yang sengaja Fallix tutup, bahkan suara mereka saat berbicara sangat pelan,? tidak mungkin Bapak Tua itu bisa mendengarnya.!
"Dari mana dia tau.?" Ucap Hany setelah memastikan bapak tua itu pergi.
"Sudah jangan bicarakan dia takutnya dia bisa mendengar dari kejauhan." Pungkas Fallix.
..
..
Berkali-kali Fallix mencoba menghubungi Ibu Sinta namun tetap tak ada respon darinya.
"Jika ibu ingin melihat jasad putri ibu, datangi kami besok jam duabelas malam" Seutas pesan yang Fallix kirimkan kepada ibu dari hantu Sinta.
Hari berhanti malam, malam berganti siang. Begitu seterusnya, hanya saja perjalanannya dan alur cerita yang kadang berubah-ubah.
Mereka duduk melingkar mengelilingi beberapa lilin yang sebagiannya terendam air yang telah dibacakan mantra dan tak lupa sebuah tempat kecil yang dipakai untuk membakar kemenyan.
"Kalian siap.?" Tanya Bapak Tua tersebut.
Mereka semua hanya mengangguk kecil. Ketegangan mulai terasa saat ini, aura ghaib mulai menguat, bulu-bulu tiba-tiba berdiri tegak dan mata yang tiba-tiba terasa berat.
"Mohon, semuanya jangan sampai tertidur, jika diantara kalian ada yang tertidur maka kalian akan kerasukan, untuk itu berusahalah tetap terjaga jangan sampai mahluk ghaib menguasai fikiran kalian, mengerti.!?" Peringatan dari bapak tua.
"Baik, mengerti." Ucap mereka.
"Ibu Zubaidah.? Tepuk pundak saya jika lilin ini tiba-tiba meliuk hebat." Pinta Bapak Tua.
Zubaidah memang tidak ikut serta dalam mediasi tersebut selain sudah cukup tua, ternyata Zubaidah memiliki hari lahir yang dikeramatkan oleh Si Bapak Tua.
Beberapa menit sudah berlalu Bapak Tua itu masih sibuk dengan segala macam mantranya.
Apa mantranya.??
__ADS_1
Tak tau aku😁
Suasana hening berubah menegangkan, seiring mantra yang Bapak Tua itu bacakan api lilin putih yang awalnya berdiri tegak, kini meliuk-liuk hebat, bersamaan dengan itu rumah Bachtiar seperti diguncang gempa berkekuatan 10 Sekala Richter membuat siapapun bergidig ngeri.
Terlihat lampu yang mulai berayun hebat, barang yang bergera sendirinya.
Sesuai permintaan bapak itu Zubaidah kemudian menepuk pundaknya saat api lilin tersebut meliuk-liuk hebat.
Saat Bapak Tua itu membuka matanya terlihat Nilam mulai tertidur, "Kalian semua mundur. !" Suruhnya.
Tiba-Tiba Nilam menangis histeris, beberapa detik kemudian berubah tertawa lantang.
Saat bersamaan Nilam berubah menakutkan dan hendak menyerang semua orang.
"Berhenti,!" Teriak Bapak Tua itu.
"Kau tak boleh menyiksa orang lain yang ada disini,! mereka tak bersalah.!"
Nilam tertawa sangat nyaring, menakutkan.
"Tunjukan kami kemana kami harus menemukanmu.?" Pinta Bapak Tua tersebut dengan bibir tak henti membacakan Mantra-Mantra.
Dia mulai melangkah menelusuri tiap ruang rumah, kini Nilam berubah diam membisu tatapannya juga kosong tak berkedip.
Tak ada respon lebih saat Nilam menelusuri ruangan lain, namun saat Nilam sampai d ruang dapur dia mulai bereaksi.
Ditunjuknya setiap sudut ruangan dengan cahaya Remang-Remang terseut.
Tiba-Tiba wajah Nilam kembali berubah menakutkan saat dirinya berdiri disebuah lantai kayu yang ditutupi sebuah karpet berwarna merah.
Diantara lantai kramik yang terdapat diruangan tersebut terdapat sepetak lantai terbuat dari kayu.
Sejak berdiri disitu tingakah Nilam berubah tak wajar, dia terus berusaha membuka dan menggali lantai kayu tersebut, sesekali dia tertawa dan menangis.
"Bapak buka ini ! dan yang lain pegangi Nilam." Suruh Bapak tua tersebut.
"Baik," Sahut mereka kompak.
Sesuai permintaannya, mereka semua menjalani perannya masing-masing.
Setelah Bachtiar cukup lama berusaha membuka lantai tersebut akhirnya setelah setegah jam lantai itu terbuka.
Betapa terkejutnya mereka saat melihat sebuah ruang tersembunyi dibalik lantai tersebut dan memunculkan aroma bau yang cukup mengganggu indra penciuman.
__ADS_1
Dan saat Bachtiar mencoba turun untuk mengecek ruang apa yang sempat membuat Nilam mengamuk, Tiba-Tiba dia terdengar berteriak ketakutan.
"Ada apa disana.?" Tanya Ratih Terheran-heran.