Ruang Kegelapan,

Ruang Kegelapan,
dipaksa pulang


__ADS_3

Pagi ini rencananya Fallix akan menemui dirga di kantor polisi. Namun urung. Lantaran, tiba-tiba pihak dokter meyabut semua alat pernafasan yang membantu Nilam selama perawatan.


"Dok apa kita tidak bisa menunggu??" fallix berdalih penuh kecewa.


"Detak jantung nya kian lemah dan hampir tidak ada, mohon maaf kami terpaksa melakukan ini." Satu persatu alat bantu itu dilepasnya, bersamaan dengan itu jerit tangis Ratih pecah, tubuh yang awalnya berdiri tegap. Kini, terduduk lesu diatas lantai.


"Dok. Apa keputusan itu tidak bisa diulur sebentar ??, bukankah pihak rumah sakit memberi kami waktu tiga hari, tapi kenapa dokter memutuskan ini semua secara sepihak ??" tanya Bachtiar dengan penuh kekecewaan. "Saya akan membayar ini dua kali lipat."


"Sekali lagi saya mohon maaf, suster !!"


setelah menutupi tubuh Nilam dengan kain putih, dokter bersama asistennya lantas pergi meninggalkan ruangan tanpa merespon permohonan mereka.


"Nilaaaamm Huhuhu" suara tangis Ratih kian menguat dirinya tak bisa membayangkan akan kehilangan putrinya secepat ini.


"Pak, bagai mana ini" tanya Restu yang baru datang beberapa saat setelah Fallix menghubunginya.


"Apa perlu kita memindahkan Nilam kerumah sakit lain??" tanya Abimanyu.


Bachtiar mondar-mandir bingung."Saya tidak tau. karena, mungkin kita memerlukan surat rujukan dari rumah sakit ini, dan sepertinya pihak rumah sakit tidak akan memberikan itu" Bachtiar kemudian duduk menyebelahi Ratih yang tengah menangis dipelukan Restu.


"Saya akan coba" Abimanyu bergegas menuju ruang dokter untuk meminta surat rujukan.


Tetapi sayangnya, sesuai perkiraan Bachtiar. Mereka(pihak rumah sakit) tidak memberikan surat rujukan itu dengan alasan tidak ada lagi harapan sembuh untuk Nilam.


Dalam kekacauan yang dipenuhi kesedihan. Seorang suster datang membawa surat pernyataan meninggal untuk Bachtiar isi sebagai tanda bukti kematian.

__ADS_1


Seketika Bachtiar menatapnya tajam, kemudian mengambil kertas yang disodorkan suster tersebut lalu merobeknya penuh emosi.


"Anda tidak bisa memberi kami waktu, setidaknya jangan lakukan ini kepada kami !!" tegas Bachtiar seketika membuat suster tertunduk ketakutan.


"Sabar pak, sabar !" Abimanyu menarik Bachtiar untuk duduk.


"Kita harus membawa Nilam keluar dari rumah sakit ini !!" fikir Hany. "Untuk sementara kita rawat Nilam dirumah saja, sebelum menemukan seseorang yang bisa menjemput sukma Nilam". Tambahnya.


"Tapi sebelum kita menandatangani surat itu, kita tidak akan diperbolehkan membawa Nilam pergi dari sini" ucap Bachtiar bingung.


"Jika mereka bisa mencabut paksa alat bantu itu, kenapa kita tidak membawa paksa Nilam keluar dari sini ?!!" fikir Fallix


"Caranya.??" mereka kompakan menatap Fallix penuh tanya.


Fallix tersenyum licik.


"Baik, apa kamar VIP semunya penuh?? hingga malam-malam begini kita harus ngeberesin ruangan??" kesalnya.


"Sepertinya begitu."


"Gue suka merinding kalo disuruh merapihkan kamar pasien meninggal."


"Akh payah loe"


"Emang loe enggak ??"

__ADS_1


"Kagak lah, ngapain gue takut toh kita juga akan mati, lagian yang udah mati kagak mungkin idup lagi, kebanyakan nonton film horor lu"


"Tapi kali ini gue bener-bener merinding, apa kita suruh yang lain aja.?"


"Alah payah lu".


Percakapan itu terdengar semakin dekat seiring kuatnya suara ketukan sepatu dari balik pintu ruang rawat Nilam.


"Kok gelap" saat salah satu dari mereka menyipitkan matanya mengintip kamar dinomor 213.


"Udah akh perasaan gue gak enak" yang lainnya menolak untuk memasuki kamar tersebut. "Loe yakin ini kamarnya??"


"Iya ini kamar nya 213, tapi kenapa gelap??, harusnya ..


"Udah lah," potongnya. "kebanyakan mikir loe" dia menarik tangan teman disampingnya masuk kedalam ruangan yang amat gelap.


"Saklarnya dimana?"


Setelah menutup kamarnya. Dia berjalan dengan sangat pelan hampir mengendap-ngendap seolah takut membangunkan seseorang yang tengah tertidur bertutup kain putih.


"Saklarnya diatas kepalanya" bisiknya. Lalu keduanya berjalan saling menempel ketakutan.


"Kenapa loe ??, loe takut ampe gemetaran gitu ?" Dia(petugas) melepaskan tangan teman kerjanya yang begitu menempel erat padanaya.


"Gak perlu meluk-meluk, penakut banget sih loe." Ucapan tersebut menepis ketakutan yang juga merasuki pikirannya. Namun walaupun begitu, dia tetap berusaha tenang demi kepropesionalan yang dia pegang erat.

__ADS_1


"Gue rasa saklarnya disebelah sini" Dia terus merabai dinding gelap dan pengap tanpa sedikitpun cahaya yang masuk.


"L -l-oe car-car-i lagi" pekerja itu kian ketakutan ketika melihat raga dibalik kain itu seperti bergetak.


__ADS_2