Ruang Kegelapan,

Ruang Kegelapan,
Nilam sadar.


__ADS_3

"Bisa-bisanya kita terjebak dunia mahluk halus, sungguh gak asik." Gerutu Hany, kesal sekesal kesalnya.


Mereka berdua berjalan gontai menuju mobil Fallix yang terparkir dipinggir jalan.


"Lix.?" Hany tertegun saat melihat bayangan didalam mobil Fallix.


"Kayaknya ada seseorang dimobil loe."


Fallix sedikit mengangkat kepala dan meluruskan pandangannya.


"Han, mahluk apalagi itu.?" Tanya Fallix ketakutan. "Tuhan, bahkan sepagi ini gue harus kembali melihat mahluk menyeramkan lagi.?" Fallix membalikan langkahnya.


"Tapi tunggu Lix, sepertinya itu manusia." Hany mencoba menyelidikinya dari kejauhan.


Fallix maju beberapa langkah. "Sepertinya ia."


Fallix dan Hany mencoba memberanikan diri mendatangi bayangan hitam di dalam mobil Fallix.


Saat tengah mengamati penampakan didalam mobilnya, tiba-tiba Fallix dikagetkan dengan pintu mobil yang mendadak terbuka.


"Bapak.!" Teriak keduanya.


"Bagai mana Bapak bisa disini.?" Tanya Hany.


"Loh harusnya saya yang bertanya kepada kalian. Kalian dari mana saja.? Kenapa baru sampe, ? saya sudah menunggu kalian sejak tadi malam."


"Apa.? Jadi bapak sudah lama menunggu kami.?" Tanya Fallix.


"Ya betul. Tapi kalian tidak juga datang, jadi saya memutuskan untuk menunggu kalian disini."


"Astaga." Hany bergumam kesal.


"Sudahlah saya cuma mau ngembaliin ini," Bapak itu menyodorkan kunci milik Fallix.


"Terima kasih, Pak." Ucap Fallix sambil menerima kunci yang diberikan bapak tua itu.


"Kalau begitu saya permisi dulu." Ucap bapak tersebut.


Kriiing Kriing.


Sebuah nomor memanggil Fallix.


"Lix kalian dimana sih, cepat pulang.!" Terdengar kegaduhan diujung telpon.

__ADS_1


"Ada apa mah. ?? Kenapa dibelakang Mamah berisik sekali."


"Cepat pulang ! Nilam ngamuk.!"


"Apa.? Nilam ngamuk.!" Fallix mengacak rambutnya Frustasi.


"Kita harus bagai mana Han.? Kita harus minta tolong sama sipa.?" Tanya Fallix panik.


"Gue gak tau.!"


"Han kita harus gimana.?"


"Bolehkah saya melihat Nilam..?" Tanya bapak tua itu.


"Ya tentu," dengan senang hati Fallix membawa bapak tua itu kekediaman Nilam.


Sesuai perintah bapak tua, Nilam kembali dipindahkan ke kediaman Bachtiar. Namun, baru saja dibaringkan diatas ranjang tidurnya, Nilam langsung mengamuk dengan mata tertutup.


"Kita harus bagai mana.?" Tanya restu, panik.


"Kita tunggu Fallix saja." Ratih.


Mereka semua dilanda kepanikan. Empat orang tua tak bisa menandingi kekuatan Nilam saat mengamuk.


Nilam menyeringai, meskipun kedua matanya tertutup rapat tetapi Nilam mampu berjalan mengikuti keempat orang tua yang terus memundurkan langkahnya menjauhi Nilam.


Keadaan semakin panik dan menegangkan.


Entah dari mana asalnya.? Tiba-tiba Nilam mendapatkan sebuah pisau belati.


Berulang-ulang Nilam hunuskan pisau itu kepada mereka.


"Stop.!" Teriak Bapak tua yang datang bersama Fallix.


"Siapa kau.!?" Teriak bapak tersebut.


Mendengar bentakan bapak tua itu lantas membuat Nilam mengerang dengan wajah menakutkan.


"Pak, awas pak !" Teriak Fallix kepada bapak tua yang tengah diserang Nilam.


Bapak tua itu tidak bergigik. Bahkan ia tetap berdiri ditempatnya.


Ditunjuknya Nilam yang tengah berusaha menyerang dirinya.

__ADS_1


Bapak tua itu seperti memiliki tameng yang mampu menahan serangan Nilam.


"Tinggalkan dia ! kau tak boleh menggunakan jasad orang lain untuk membalaskan dendam mu, tinggalkan dia atau langit tak akan menerima mu.!" Ancam bapak tersebut


Tak lama kemudian Nilam terkulai lemas. Melihat Nilam roboh, mereka semua segera menghampiri Nilam untuk dibaringkan diatas sofa.


"Pak.!" Fallix menatap bapak tua itu.


"Kalian semua tenang, saya akan mencoba membangunkan,nya"


Bapak tua itu meminta air yang dicampur tiga kali keprulan garam yang di ambil sedikit demi sedikit.


Setelah diserahkan Ratih. Bapak tua itu segera membacakan mantra kedalam air tersebut dan kemudian mengusapkannya diwajah, ubun-ubun, telapak kaki dan telapak tanga Nilam.


Tak perlu menunggu lama setelah diusapkan air doa tersebut Nilam langsung siuman.


Aaakhh.


Ringisnya.


Wajah-wajah tegang itu kini berubah berseri bahagia saat melihat Nilam sadar.


"Dia membawa siapa.?" Tanya Nilam ngelantur.


"Dibelakang kalian ada roh-roh jahat yang besar dan tinggi-tinggi." Nilam memang telah siuman namun belum sepenuhnya sadar.


Sebagian kesadarannya masih pengaruhi mahluk halus.


"Pak, kenapa Nilam jadi aneh begini.?"


"Dia akan kembali normal jika jasadnya ditemukan. Dia sudah berjanji akan mengembalikan tubuh Nilam seutuhnya jika jasadnya ditemukan.


"Ah ia aku lupa, Dirga.! Bapak tunggu disini sebentar, saya akan membawa seseorang." Setelah itu Fallix langsung melajukan mobilnya menuju Rutan tempat Dirga dipenjarakan.


Saat memasuki pintu Rutan, Fallix sempat melihat jasad seorang lelaki tengah digotong keluar, bahkan Fallix sempat membatunya mengangkat jangka yang digunakan petugas untuk memboyong jasad itu kedalam ambulance.


"Saya mau menemui tahanan bernama Dirga." Ucap Fallix pada seorang sipir.


"Dirga.?"


"Jasad yang baru saja digotong keluar dialah Dirga."


"Apa.?" Fallix langsung berdiri dari duduknya.

__ADS_1


Tanpa bertanya lagi Fallix langsung keluar membawa hati yang kecewa.


__ADS_2