
Penyerang Bai Hao hanya menyeringai saat mendengar pertanyaan dari targetnya.
“ Orang yang sebentar lagi akan menjadi mayat tidak perlu mengetahui hal apapun tentang dunia ini! “ kata penyerang tersebut dan melirik ke arah rekannya yang lain untuk memberi kode agar segera menyelesaikan pekerjaannya.
Di sisi lain, di depan kediaman Klan Bai.
Para penjaga yang melihat keributan dari jauh tidak melakukan apa - apa dan malah asyik melihat seorang pemuda yang di keroyok oleh 7 orang pria dewasa, jika mereka tahu yang di keroyok adalah anak dari Patriak Klan Bai dan membiarkan hak tersebut berlalu di depan mata.
Maka dapat di pastikan 100% para penjaga itu akan tewas karena membiarkan anggota Klan Bai pusat ( keluarga Patriak dan kerabat Patriak ) di keroyok oleh orang.
Ya meskipun Bai Hao di cap sampah dan aib Klan, sebab sekarang ini belum saatnya Bai Hao menunjukkan taringnya pada anggota Klan Bai.
Di saat asyik menonton tersebut, sangat kebetulan sekali Bai Mubai sedang memantau Klan untuk menghilangkan rasa penatnya karena kertas yang menumpuk di meja kerja.
“ Sedang apa kalian! Kenapa malah berkumpul dan tidak menjalankan tugas dengan baik! “ tergur Bai Mubai sedikit geram melihat ke tidak kompetenan anggotanya.
Para penjaga yang mendengar suara itu sontak terkejut, karena suara itu adalah suara dari Patriak mereka.
“ Aa…ampun Patriak, kami hanya melihat seorang pemuda yang di keroyok oleh beberapa orang untuk menghilangkan kejenuhan kami “ jawab kepala penjaga
Rekan - rekannya hanya mengangguk sebagai dukungan atas pembelaan atasan mereka.
“ kenapa kalian tidak menolong pemuda itu!? “ kata Bai Mubai sembari melangkah kedepan untuk melihat tontonan yang di katakan penjaga gerbang Klan Bai.
“ Karen… “ belum sempat kepala penjaga menjawab, Bai Mubai menerjang ke depan dengan kecepatan penuh.
Sebab beberapa saat yang lalu dia tersadar bahwa yang di keroyok adalah putra semata wayangnya, itu karena Bai Mubai masih mengingat jelas baju yang di pakai Bai Hao saat pertemuan mereka tadi.
Di sisi lain, Bai Hao memejamkan mata pasrah untuk menerima keadaan saat melihat pemimpin kelompok pengeroyoknya mengayunkan pedang.
“ Sial, belum genap 1 tahun aku kembali ke masa lalu, tetapi kenapa sekarang harus mati di hutan kota. Sungguh Surga mempermainkan takdirku! “ batin Bai Hao
Tetapi setelah menunggu lama dia tidak merasakan perih atau semacamnya, Bai Hao tidak takut mati.
Tetapi Bai Hao memejamkan mata karena merutuki nasib sialnya, karena dendam belum terbalas malah nyawa yang bablas.
Perlahan tapi pasti Bai Hao membuka mata, dan melihat punggung dari orang yang sangat dia kenal sedang mencekik leher dari pengeroyoknya dan ke 6 rekan pengeroyok tersebut telah mati dengan cara leher tertebas benda tajam.
“ Ayah!! “ pekik Bai Hao
Bai Mubai tidak menjawab dan hanya mengangkat tangan untuk memberi kode Bai Hao jangan berbicara terlebih dahulu.
Seketika Bai Mubai lenyap dari hadapan Bai Hao dengan menbawa orang yang dia cekik, dan terdengar suara menggema di hutan Kota.
__ADS_1
“ Kau kembali dulu ke Klan dan pergilah untuk latihan tertutup selama 3 bulan, karena 3 bulan lagi ada Turnamen Pemuda Bai untuk menentukan jenius Klan dan Calon Patriak masa depan dari keluarga pusat “ kata suara tersebut
Bai Hao paham bahwa itu adalah suara ayahnya, dan setelah mendengar penjelasan ayahnya. Bai Hao segera melesat kembali ke Klan, “ Sebenarnya aku tidak terlalu peduli dengan Turnamen itu, tetapi demi membahagiakan mereka. Akan ku buktikan bahwa Bai Hao bukanlah aib Klan! “ gumamnya dengan tekad yang membara
Bai Hao tidak ingin menyesal di kehidupan yang ke dua ini, sebab saat di kehidupan pertamanya.
Bai Hao baru mengetahui bahwa dia memiliki Dantian ke kosongan setelah masuk di sekte tingkat rendah dan menjadi murid pekerja disana, setelah menjadi murid pekerja di sekte tersebut. Bai Hao mencoba peruntungan di makam kuno dan dari situ dia mengetahui tentang kondisi tubuhnya berikut Dantian miliknya.
Sesampainya di kamar, Bai Hao segera mengemas baju dan barang yang menurutnya penting.
“ Kau akan kemana nak..? “ tanya Mei Lin penasaran
“ Hao’er akan melakukan latihan tertutup di Hutan Neraka bu “ jawab Bai Hao sembari menatap mata ibunya
“ Ibu tidak mengijinkanmu pergi! Disana terlalu bahaya untukmu yang baru bisa berkultivasi! “ ujar Mei Lin
“ Lebih baik kau berlatih disini dan Ayah serta Ibunda akan melatihmu secara khusus “ lanjutnya
“ Tapi jika tidak melakukan pertarungan nyata atau antara hidup dan mati, maka Hao’er tidak akan memiliki perkembangan meskipun di dukung oleh kultivasi yang tinggi dan jurus yang bagus tetapi semua itu akan percuma “ sanggah Bai Hao kekeh
“ Hao’er….” Belum sempat Mei Lin melantunkan ceramah emak - emaknya, Bai Mubai memegang pundaknya dan membuat Mei Lin menoleh dengan tatapan memelas
“ Sudahlah sayang, Hao’ er bisa menjaga diri! “ kata Bai Mubai menenangkan istrinya
“ Hao’er berada di tingkat Penempaan Tulang awal Ayah “ jawabnya singkat
“ Baik, Ayah ijinkan kau ke Hutan Neraka tetapi jangan pernah masuk ke bagian dalam atay yang disebut wilayah terlarang. Kau cukup berlatih di wilayah luar saja! “ ujar Bai Mubai mengakhiri acara debat singkat ibu dan anak tersebut
Mei Lin hanya bisa pasrah melepas anak semata wayangnya dan pergi meninggalkan kamar Bai Hao.
“ Lekaslah berangkat, sebelum ibundamu berubah pikiran “ setelah berkata seperti itu, Bai Mubai menyusul istrinya, dia tahu bahwa Mei Lin sangat khawatir kepada anaknya.
Bai Mubai sebenarnya juga sama, tetapi sebagai lelaki harus berani mengambil resiko dan peluang agar menjadi orang besar di masa depan.
Jika tetap di bawah zona nyaman, maka yang ada orang tersebut akan menjadi katak dalam sumur dan tidak akan tahu luasnya dunia ini.
Bai Hao segera berangkat setelah mendapat ijin dan instruksi dari Bai Mubai, saat tiba di perempatan jalanan kota.
Bai Hao mampir ke kios artifak pinggir jalan, karena harga disana lebih miring dari pada di Balai Surga Harta. Tapi seperti kata pepatah, ada harga ada kualitas, dan pastinya kualitas di kios artifak tersebut rendah dan tidak ada yang bagus.
Tringg…
Saat lonceng pintu berbunyi pertanda ada pelanggan, segera keluar seorang kakek tua dari dalam ruangan.
__ADS_1
“ Selamat datang Tuan Muda di kios kecil kakek “ ujar kakek itu
“ Kek, saya ingin membeli topeng. Mungkin kakek bisa merekomendasikannya “ jawab Bai Haos sembari menangkupkan tinju sebagai tanda penghormatan khas kultivator atau pendekar.
“ Sebentar ya Tuan Muda, kakek ambilkan barangnya terlebih dahulu. Silahkan melihat koleksi dan pajangan barang dagangan kakek “ ujarnya sembari masuk ke tempat yang sepertinya gudang kios tersebut.
Bai Hao melihat - lihat kitab jurus dan tekhnik, tiba - tiba mata Bai Hao menangkap bahwa ada tekhnik tingkat dunia dan sampul kitab tekhnik tersebut terlihat sangat usang dan berdebu.
Sontak Bai Hao mengambilnya dan melihat nama tekhnik tersebut, “ Tekhnik 4 Elemen Pengguncang Surga “ gumam Bai Hao sembari menahan tawa karena menurutnya nama tersebut terlalu berlebihan
“ Apa ada yang menarik Tuan Muda.? “ tanya suara dari belakang dan membuat Bai Hao terkejut hingga menjatuhkan kitab tersebut
Bai Hao menggaruk tengkuknya dan tersenyum canggung, “ Begini kek, aku melihat tekhnik ini berada di tingkat dunia yang notabenya saja Balai Surga Harta atau Klan dan Sekte besar sangat sedikit yang memilikinya “ ujar Bai Hao
Kakek tersebut mengangguk - anggukkan kepala, “ Jadi itu yang membuatmu hampir tertawa, tapi asal anda tahu Tuan Muda. Memang kenyataannya seperti itu “ jawab kakek pemilik kios
Bai Hao sangat terkejut dengan pernyataan kakek itu, “ Jangan - jang…. “
“ tidak Tuan Muda, hamba hanya orang tua biasa. Tekhnik itu dulu di menangkan pada Lelang Tahunan Balai Surga Harta oleh seorang kultivator independen. Dan dia mempelajari tekhnik itu tetapi saat bermeditasi dengan tekhnik itu, tubuh kultivator tersebut hancur “ cerita sang kakek
“ Hal ini membuat heboh rimba persilatan, dan menjadi rebutan karena mereka yakin bahwa yang menguasai tekhnik itu akan menjadi penguasa seluruh dunia. Tapi sayangnya mereka salah, sudah ratusan bahkan hampir mencapai seribu nyawa yang hilang karena mempelajari tekhnik yang memiliki isi mengguncang langit tersebut “ jelas lebar sang kakek kios
“ Lantas, bagaimana tekhnik ini ada disini kek “ tanya Bai Hao penasaran
“ Yang terakhir mempelajari tekhnik itu adalah adik sekaligus Mantan Tetua Agung dari Patriak Sekte Surgawi Emas, Sekte Surgawi Emas adalah sekte terbesar dan nomor 1 di benua ini “ jawab sang kakek
“ Orang tersebut bernama We Xuan, adik dari Wei Gong yang merupakan Patriak Sekte Surgawi Emas. Saat dia mempelajari tekhnik itu, dantiannya pecah dan dia termasuk orang yang beruntung karena tidak mati seperti kebanyakan orang . Dan kakek cuma bisa memberi saran, jika Tuan Muda berminat maka berhati hatilah mempelajarinya dan juka merasa tidak mampu maka berhenti saja. Saat mencapai halaman kedua maka akan di ajarkan cara mengecek apakah Tuan Muda mampu atau tidak menguasai tekhnik itu. “ lanjut kakek
Bai hao mengangguk, “ Aku akan membeli ini dan juga topengnya kek” kata Bai Hao sembari membawa buku itu ke meja kasir
“ Satu lagi Tuan Muda, jika Tuan Muda tidak kuat maka kembalikan saja kitab ini ke tempat kakek. “
“ Baik Kek! “ jawab Bai Hao singkat sembari menangkupkan tinjunya
“ hanya orang yang berjodoh yang bisa mempelajarinya! “ kata si kakek
“ ini adalah topeng terbaik Kakek, untuk kitab itu Tuan Muda ambil saja tetapi syaratnya jika tidak mampu maka berhenti dan kembalikan barang itu ke kios ini! “
“ Karena segala seuatu yang berlebihan itu tidak Baik “ wejangan lanjutan dari si kakek
“ Baik kek, akan saya ingat pesan kakek. Untuk semuanya berapa kek..? “ tanya Bai Hao
“ 70 keping emas saja Tuan Muda “ jawab si kakek dan Bai Hao langsung menyerahkan keping emas sejumlah itu lalu meninggalkan kios kecil tersebut.
__ADS_1
Setelah Bai Hao pergi, sang kakek menggumamkan sesuatu “ Semoga kau berjodoh dengan kitab itu “ ujarnya sambil tersenyum misterius dan langsung menghilang dari dalam kios