Runtuhnya Pesantren Impian (PINDAH TULIS)

Runtuhnya Pesantren Impian (PINDAH TULIS)
Tsauban dan Senyum Nabi


__ADS_3

Ammar nampak bersemangat sekali bercerita tentang siapa itu Tsauban yang namanya sampai diabadikan dalam Alquran. Begitu juga anak-anak desa itu, mata mereka seakan berbinar karena sebentar lagi mereka akan tau seperti apa hebatnya Tsauban hingga dapat membuat Rasulullah tersenyum.


Ammar membuka cerita,


“Tsauban adalah salah satu dari sahabat Rasulullah, akan tetapi Tsauban dikenal dengan sebutan Maula atau pelayan Rasulullah karena saking cintanya kepada beliau. Berawal dari seorang budak yang menjunjung tinggi kecintaan terhadap Rasulullah melebihi dirinya sendiri.”


“Wah, hebat banget. Mencintai orang lain melebihi cintanya terhadap diri sendiri.” Rosa nampak kagum.


“Di antara riwayat yang menceritakan tentang kecintaan Tsauban kepada Rasulullah Saw dan ahli bait adalah ketika ditanya majikannya tentang seberapa besar cintanya pada Rasulullah Saw, “Demi Allah, jika tubuhku terpotong-potong dengan pedang atau tergunting-gunting, atau terbakar di dalam api .... bagiku lebih mudah daripada memiliki rasa ketidakikhlasan dan kebencian sekecil apapun dalam kalbuku terhadap Anda, Ahlulbait dan para sahabat[1].


“Saat Tsauban menjadi budak, ia tidak berani keluar rumah tanpa seizin tuannya. Jadilah ia hanya melihat Rasulullah dari balik jendela rumah karena diperintah tuannya untuk menjaga rumah. Hingga pada suatu hari, ia terlihat malas melakukan pekerjaan. Tuannya pun heran karena hal ini merupakan sesuatu yang tidak wajar bagi Tsauban. Ia pun ditanya “Apa gerangan yang membuatmu seperti ini?”


Ia menjawab “Hari ini aku tidak melihat Rasulullah.”


Jawaban itu membuat tuannya kagum.

__ADS_1


“Apakah seorang hamba sepertiku dapat sejajar dengan Rasulullah di surga nanti?” Tambah Tsauban.


Tuannya bingung dan menjawab “Besok kamu ikut salat duhur berjamaah bersama Rasulullah.”


Alangkah bahagianya Tsauban kala itu. Ia biasanya hanya dapat melihat Rasulullah dari balik pintu, besok ia bisa bertatap muka langsung dengan beliau. Ia mengucapkan banyak terima kasih kepada tuannya hingga tuannya bosan untuk menjawab ucapan terima kasih Tsauban. Hari yang ditunggu pun tiba. Tsauban sudah tidak sabar melihat wajah Rasulullah secara langsung. Saking bahagianya, tak ada satu kalimat pun keluar dari mulutnya kecuali ucapan terima kasih.


Usai salat duhur, tuan Tsauban mengajaknya maju ke saf pertama menemui Rasulullah. Tuannya menyampaikan perihal kedatangan dengan bersama Tsauban. Tuannya menyuruh untuk menyampaikan secara langsung apa yang menjadi tanda tanya di dalam otaknya.


“Wahai Rasulullah! Saya tidak sedang sakit, akan tetapi tengah berpikir bahwa kelak di hari kiamat, saya tidak akan melihat Anda lagi saat saya memasuki neraka, dan jika saya masuk ke surga, sayapun tidak akan bisa hadir di hadapan Anda karena kedudukan dan derajat lebih rendah yang saya miliki dari yang Anda miliki, sesungguhnya masalah inilah yang telah membuat saya bersedih”. Setelah bertanya demikian, perasaan Tsauban mendadak lega seakan batu besar di pundaknya sudah hilang.


Setelah lega bertanya, ia malah Nampak lebih bingung lagi, ternyata Rasulullah duduk termenung disebabkan pertanyannya itu. Tsauban pun takut membuat Rasulullah kepikiran. Ia melihat wajah tuannya. Tuannya hanya tersenyum dan mengangkat kedua bahunya tanda tidak tahu. Beberapa menit berlalu dan Rasulullah masih dalam keadaan termenung. Tsauban dan tuannya masih diam menunggu.


“Jangan takut, itu tanda beliau mendapat sebuah wahyu dari Allah”. Bisik tuannya.


”Dan barang siapa yang menaati Allah dan rasul-(Nya), mereka itu akan bersama-sama dengan orang-orang yang dianugerahi nikmat oleh Allah, yaitu nabi-nabi, para shiddîqîn, orang-orang yang mati syahid, dan orang-orang saleh. Dan mereka itulah teman yang sebaik-baiknya[2].” Saat itulah ayat itu diturunkan.

__ADS_1


Bahasa arab adalah bahasa yang kaya akan makna. Satu kata bisa mempunyai banyak makna, begitu pula di dalam aya tersebut. Kata yuthi’ dalam ayat tersebut dapat diberi makna sebagai cinta/rindu. Begitulah kata beberapa ahli tafsir.


Kebahagiaan Tsauban mencapai puncaknya. Setelah ia bisa bertatap muka dan duduk berhadapan dengan Rasulullah, ia pun menjadi salah satu penyebab turunnya wahyu. Sekarang ia tidak malu lagi menyampaikan tentang cintanya kepada Rasulullah kepada teman-temannya sesama budak. Kepercayaan dirinya meningkat drastis.


Rasulullah bersabda setelah itu “Demi Allah! Keimanan seorang Muslim tidak akan menjadi sempurna sehingga aku lebih dicintai daripada dirinya, ayahnya, ibunya, istrinya, anaknya dan dari seluruh manusia lainnya[3].”


Tsauban kemudian pulang dengan kondisi On Fire. Pekerjaan rumah tuannya dikerjakannya dengan baik, bahkan bisa dibilang sempurna tanpa menyisakan kekurangan sedikitpun. Setelah itu, ia kembali menuju teman-temannya menceritakan apa yang telah dialaminya bersama tuannya dan Rasulullah waktu itu. Banyak dari mereka yang tidak percaya. Tidak sedikit pula yang memberikan pujian kepadanya karena besarnya rasa cinta kepada Rasulullah yang ada di dalam hatinya. Berita ini lambat laun tersebar ke seluruh penduduk Saudi. Dari mulut ke mulut hingga akhirnya sampai kepada kita sekarang ini.


Begitulah kemuliaan orang yang dihatinya tertanam rasa cinta kepada Rasulullah melebihi cinta kepada dirinya sendiri.


 


 


 

__ADS_1


[1] Tafsir Imam Hasan Askari As, hal. 370, Madrasah Imam Mahdi Ajf, Qom, 1409 H; Muhammad Baqir Majlisi, Bihâr al-Anwâr, jil. 27, hal. 100, Dar Ihya al-Turats al-‘Arabi, Beirut, Cetakan Kedua, 1403 H.


[3] Fadhl bin Hasan Thabarsi, Majma’ al-Bayân, jil. 3, hal. 110, Intisyarat-e Nashir Khusru, Teheran, 1372 H


__ADS_2