Runtuhnya Pesantren Impian (PINDAH TULIS)

Runtuhnya Pesantren Impian (PINDAH TULIS)
Kehidupan Pesantren


__ADS_3

Seorang remaja dengan sarung hitam meninggalkan masjid. Suara murattal syaikh as-Sudais membangunkannya dari tidur. Bergegaslah ia kembali ke asrama.


“Bangun tidur, My?” Tanya seorang temannya padanya.


“Iya, dari masjid tadi.” Jawabnya pelan.


Suasana pesantren masih sepi, hanya terlihat beberapa santri yang berlalu-lalang dari kamar mandi asrama. Azmy melihat jam tangannya, pukul tiga pagi. Wajar apabila teman sekamarnya masih tertidur pulas. Ia berjalan menuju loker bagian pojok kanan atas lemari kamar empat dan mengambil alat mandi yang ada di situ. Sudah menjadi kebiasaan para santri untuk mandi terlebih dahulu sebelum melakukan kegiatan sehari-hari, utamanya sebelum berangkat ke masjid.


Azmy masuk ke kamar mandi, badannya seolah tidak mau bersentuhan dengan air pesantren yang dingin karena letak pesantrennya yang berada di dataran tinggi. Ia memaksakan tubuhnya agar mau menerima air dingin tersebut. Dinginnya air pegunungan di pagi hari terasa seperti air es. Mandi pagi dapat menyehatkan badan, memperlancar peredaran darah, dan yang paling penting bagi seorang santri yaitu sebagai sarana penghilang kantuk. Santri yang sering mandi di pagi hari umumnya kelihatan lebih fresh ketimbang yang tidak melakukan hal tersebut.


Setelah mandi dan berganti pakaian, ia bergegas berangkat ke masjid. Tak lupa, sebuah kitab, pena, dan tasbih putihnya selalu dibawa acapkali kegiatan pagi di masjid yang dipimpin langsung oleh kiai Asep, kitab Mukhtarul Ahadits.


Dugaan Azmy benar, 5 menit kemudian pembimbing asrama membangunkan para santri. Azmy bergegas berangkat ke masjid untuk melakukan salat tahajud lebih dulu sambil menunggu kedatangan kiai. Para santri perlahan berdatangan. Masjid mulai penuh dengan remaja berpakaian baju koko putih dan kopyah putih. Pak Jho, mubaddil atau pengganti kiai datang dan segera menuju barisan imam untuk memimpin salat hajat berjamaah bersama para santri.


Azmy terbiasa duduk di pojok kiri saf pertama. Ia mengikuti salat hajat penuh hingga dua belas rakaat. Tiap dua rakaat salam kemudian ditutup dengan salat witir satu rakaat. Sesudah itu, pak Jho memimpin membaca sayyidul istighfar dan dilanjutkan dengan doa keberkahan untuk para santri, ustaz dan ustazah.


Selesai salat hajat dan witir, seluruh santri membaca al-Quran hingga romo kiai datang. Beliau biasanya datang 10-15 menit sesudah azan subuh dikumandangkan. Romo kiai langsung memimpin salat subuh berjamaah di masjid raya ini.


Usai salat subuh, para santri berhamburan untuk mencari posisi mereka masing-masing. Ada yang ketika salat di belakang, saat ngaji kitab pindah ke depan, begitupulah sebaliknya. Romo kiai selalu hadir jika beliau tidak ada udzur atau hal lain yang membuat beliau meminta digantikan mengisi pengajian subuh. Azmy menyimak dengan seksama tentang apa yang disampaikan oleh beliau. Sesekali ia memaknai kitab, sesekali ia mencatat, dan tak jarang pula ia mengusili teman teman di sampingnya yang tertidur saat pengajian.


Penjelasan romo kiai sangat menyentuh hati Azmy. Beliau menjelaskan dengan sangat detail dengan bahasa yang mudah dipahami, apalagi dengan perumpamaan yang menarik. Terkadang, beliau menjelaskan sesuatu diluar topik hadits tersebut. Kadang juga membahas tentang nilai kehidupan dan sosial, kadang juga bercerita pengalaman.


Pengajian selesai tepat pukul enam pagi. Suasana putih menghiasi pintu keluar masjid raya pesantren. Suara sholawat mengiringi bubarnya para santri. Romo kiai biasanya keluar lebih dulu. Sebelum beliau berdiri dari kursi, sajadah sudah tergelar dari tempat duduk beliau hingga pintu keluar masjid. Tidak hanya sebatas penghormatan para santri, tetapi juga untuk mengalap barokah dari beliau.


Azmy masih duduk bersila di tempatnya semula. Ia menuntaskan kewajiban ketiganya di pagi hari ini setelah salat malam dan memaknai kitab, yaitu dzikir pagi. Ia terbiasa i’tikaf di masjid dengan waktu yang lama. Entah ia melamun, berdzikir, atau memikirkan sesuatu yang itu tidak penting baginya. Tak jarang pula ia ketiduran.


Di hari biasa, Azmy langsung melaksanakan salat duha tepat setelah pengajian subuh selesai. Berhubung hari Minggu, ia memilih menghabiskan waktunya di pojok kiri masjid sambil mengulang hafalan Alquran. Hari libur adalah waktu terbaik untuk mengakhirkan salat duha waktu yang panjang untuk melakukannya.


Saat sedang asyik membaca al-Quran, Azmy ingat dia punya janji dengan dua sahabatnya, Halim dan Sulthoni. Ia kemarin berjanji untuk mentraktir mereka setelah memangkan lomba cerdas cermat Islam di Malang. Ia bergegas kembali ke kamar setelah salat duha dan berdoa. Ia tidak ingin kepercayaan sahabatnya memudar karena ia tidak menepati janjinya, ia tidak menginginkan hal tersebut terjadi.


Azmy berlari menuju asrama.


Dugaannya benar, mereka berdua sudah berada di kantin pesantren menunggu kedatangannya. Mereka berdua duduk di sebelah meja tenis meja sambil menonton pertandingan antara kelas satu dan kelas dua. Azmy meminta maaf karena ia terlambat datang.


“I’m sorry for late.”


Napas Azmy belum kembali normal karena efek dari lari menuju kantin.

__ADS_1


“No problem, santai aja.” Sahut Halim.


Pondok mereka mewajibkan santrinya untuk berbahasa. Bertepatan minggu ini adalah minggu Inggris, maka dialog mereka campur aduk meskipun hari libur.


“Toh kita juga lagi antri main tenis meja.” Toni menambahi.


“Maaf ya, pasti udah lama nunggu.” Azmy agak menyesal.


“Kelamaan nunggu pingpong, langsung makan aja gih” Halim yang orangnya senang makan tidak dapat bersabar lagi.


“Sabar Lim.”


Toni hanya tersenyum melihat Halim kelaparan.


“Tuh liat Toni, meskipun kurus tetap sabar buat nunggu makan.” Azmy mencoba menghibur.


“Kebanyakan tirakat itu.” Halim menambahi.


Azmy mengeluarkan selembar uang lima puluh ribu dari dompetnya.


“It’s too much”


“Yaudah kalo nggak mau.”


“Eh.. jangan laah . . . .”


Mereka bertiga makan bersama ditraktir Azmy. Kali ini, mereka hanya mengambil nasi di dapur pesantren karena ada uang kaget untuk membeli lauk yang spesial.


“Hari perpulangan, kantong kering, brankas makanan kosong, eh malah ketimpa rezeki.” Celetuk Halim.


Diantara ketiga sahabat tersebut, Halim lah yang makan paling banyak. Ia adalah yang nomor satu di dalam hal menghabiskan makanan, apalagi spesial dengan menu kesukaannya. Perutnya sanggup menampung porsi tiga orang sekaligus. Anehnya, ia sering makan tetapi berat badannya hanya bertambah tiga kilo dalam lima bulan terakhir.


Bukan perkara asing lagi ketika seorang santri makan dengan porsi melebihi orang-orang pada umumnya. Mereka cenderung makan lebih banyak dan tidak merasa kenyang karena banyaknya aktivitas dilakukan. Sebanyak apapun mereka makan, etika santri mereka tidak hilang karena kekenyangan dan akhirnya mengantuk.


Setelah semua habis, mereka kembali ke kamar guna bersiap untuk mengambil rapot semester dan menemui orang tua masing-masing.


Azmy ingin mandi lagi karena badannya berkeringat sebab berlari mencari kedua sahabatnya tadi. Di kamarnya hanya tersisa lima orang, Faruq, Ipank, Alif, Halim dan Habib. Mereka semua tertidur pulas kecuali Halim, ia tidak bisa tidur dan masih memegangi perutnya. Rasanya ia terlalu banyak makan sambal tadi. Azmy hanya tersenyum melihat keadaan Halim yang seperti itu.

__ADS_1


Sesudah mandi, ia melihat keempat temannya sudah bangun dari tidur mereka dan sedang mengemasi barang masing-masing. Dari seluruh anggota kamar empat, hanya Azmy yang belum mengemasi barangnya.


“Kamu nggak kemas barang?” Tanya Faruq heran.


“Slow aja Ruq, rapotannya pasti molor.” Jawab Azmy dengan tanpa beban.


Azmy memiliki sifat santai dalam keadaan apapun, kecuali dalam hal menepati janji. Santai tetapi hati-hati, itulah prinsip yang dipegangnya. Karena fi ta’anni as-salamah wa fil ajalati an-nadamah, di dalam kehati-hatian ada keselamatan dan tergesa-gesa adalah suatu penyesalan. Oleh sebab itu, ia hampir tidak pernah terlihat tergesa-gesa dalam melakukan dan memutuskan sesuatu.


“Hanya berlima, mana yang lain?” Tanya Azmy penasaran.


“Udah sama orang tua masing-masing.” Sahut Halim.


“Disini ada yang balik ke rumah besok atau nanti malam?”


“Nggak ada kayaknya, semuanya pengen segera pulang dan internetan di rumah.”


“Ada yang lapar nggak?”


“Yes, Sir”. Sahut Ipank, Habib, Alif, dan Faruq serentak. Mereka memang paling kompak paling kompak dalam hal makanan.


“Kamu Lim, nggak mau nambah?”


“Nggak wes, sudah over ini perutku.”


“Ini ada uang buat beli lauk tambahan”. Azmy kembali mengeluarkan selembar uang lima puluh ribuan.


“Wah, rezeki memang tak kemana.” Habib kegirangan.


“Tak titipin Alif ya selaku ketua kamar.”


“Oke.”


Solidaritas yang tinggi adalah salah satu ciri penghuni kamarnya. Jika ada satu saja yang sakit, maka yang lain juga ikut merasakan. Ketua kamar empat, Alif, adalah seorang yang gigih meskipun ia banyak dikerjai anak-anak kamar tetapi ia tetap bersabar dan tidak membalasnya. Ciri lain dari kamarnya yaitu yang paling sering membuat gaduh. Pagi, siang, sore, bahkan malam hari hingga subuh, kamarnya tidak pernah lepas dari suara sound yang diletakkan di jendela. Maklum, kamarnya adalah tempat dimana ada colokan stop kontak di dalamnya.


Suasana pondok sangatlah ramai. Mobil-mobil terparkir rapi bak gerbong kereta api. Aroma kanvas yang menggetarkan bulu hidung. Klakson yang bervariasi. Azmy mengemasi barangnya, acara rapotan akan dimulai satu jam lagi dan ia harus bersiap-siap jika orang tuanya datang menjemputnya.


Matahari perlahan menaikkan suhu sinarnya.

__ADS_1


__ADS_2