
Keringat menetes dari pelipis Ammar, ia sudah merampungkan jatah olahraganya pagi ini dengan membersihkan seisi rumah. Kadang ia memang suka bersih-bersih jika suasana sedang sepi, sama seperti rumahnya saat ini. Rumah yang ditempatinya hanya dengan ibu, mau nggak mau harus kosong ketika mereka berdua memiliki suatu agenda khusus.
"Ibu pasti kaget ngeliat rumah kayak gini." Batin Ammar setelah memindahkan beberapa barang dan lemari untuk mendapat suasana rumah yang baru.
Mula-mula, ia memilih mendekorasi kamarnya dulu. Poster kaligrafi milik ayah diambilnya, dipasang di sebelah pintu masuk kamarnya. Beberapa lukisan yang menggambarkan sejarah Abbasiyah juga ia letakkan di sebalah pintu masuk, tepat samping kiri kaligrafi. Lampu tidur ia pasang di atas, bukan lagi dibawah yang biasanya berfungsi untuk menemani belajar. Beberapa dekorasi lain ia copot karena tidak sesuai dengan idealismenya.
Tak hanya dekorasi, Ammar juga ingin mengubah posisi interior kamarnya agar mendapat suasana baru. Dikeluarkannya lemari pakaian yang agak besar itu seorang diri. Ia mengambil alas berupa kain, mengangkat sedikit, lantas menyeretnya dan berharap lantai tidak tergores karena bawah lemari itu sudah dilapisi kain.
Setelah memindahkan lemari, kini giliran tempat tidurnya yang harus dieksekusi, dipindah posisinya agar terlihat lebih rapi. Dari yang mulanya menghadap ke timur, kini tempat tidur seprai merah sudah menghadap ke Utara. TV kamarnya pindah di posisi Barat, dengan muka yang menghadap ke Timur. Ia lebih nyaman dengan posisi seperti ini karena dapat menikmati TV dan agaknya nanti tertidur dengan posisi miring ke kanan dan menghadap kiblat. Dua Sunnah dalam satu fase.
Peluh keringantnya kembali menetes, kini lebih banyak lagi karena tenaga ekstrem yang dikeluarkan untuk mengubah tatanan kamarnya. Belum lagi ia harus memindah lemari pakaiannya seorang diri, lemari dari kayu jati berukuran 1x1,5 meter itu.
Ammar duduk sebentar ditemani iringan suara kipas angin yang menyejukkan. Anginnya langsung menampar keringat yang mengalir, mengusirnya agar segera musnah menjadi uap. Belum sempat keringatnya kering, Ammar mendapat telepon dari seseorang. Ternyata Icha.
“Halo, Cha. Kok telepon lagi?”
“Barusan aku dapet telepon dari Halim, katanya kangen sama Azmy.”
“Wahh . . .”
“Ia tadi bilang enak di rumah kalau di pondok sepi nggak ada yang ngeramein.”
“Waduh . . . Sampai segitunya si Halim.”
“Hehehe . . . Ngomong-ngomong, kamu udah liat berita universitas belum?”
__ADS_1
“Yang mana?”
“Yang tadi pagi itu, lho.”
Ammar ingat jika Icha menyampaikan hal yang penting baginya tadi sebelum ia berangkat menuju rumah nenek. Icha menyuruhnya untuk melihat web universitas karena ada berita yang berhubungan dengannya. Ia segera membuka laptopnya dan menghidupkan WIFI di rumah.
“Kenapa emangnya, Cha?”
“Pokoknya kamu harus liat dehh . . .”
Ammar sedikit penasaran dengan apa yang dikatakan Icha. Tidak mungkin ia sampai ditelepon dua kali dalam satu pagi ini jika bukan hal yang benar-benar penting.
“Udah?”
“Bentar, proses.”
Yang lebih membahagiakan lagi, beberapa essay yang ia tulis sebelumnya dimuat dalam jurnal internasional. Awal masuk UIN Jakarta, ia pernah mengirim beberapa essay dengan bahasa Inggris, tetapi tidak pernah ada kabar lanjutan mengenai perkembangan essaynya. Ternyata idenya dinilai berkontribusi untuk memecahkan probematika fundamental tentang berbenturannya teori kedokteran modern dengan beberapa hadits Nabi tentang kesehatan.
“Udah liat, kan?”
“Alhamdulillah, sudah.”
“Pasti seneng banget, ya . . .?”
“Nggak sih, Cha. Biasa saja.” Ucap Ammar diiringi tertawa kecil.
__ADS_1
Keberhasilan Ammar tak luput dari diskusi ilimiahnya dengan beberapa mahasiswa-mahasiswi dari fakultas kedokteran. Ia sering mendapat pemahaman mengenai hubungan antara aspek religi dan aspek biologi dalam kehidupan ini. Ia mencoba mengaitkan keduanya dan menuangkan apa yang ada dalam pikirannya ke dalam sebuah artikel dan ia pun mengirimnya ke jurnal ilmiah internasional. Meskipun usianya masih muda, ia tidak mau kalah dengan para profesor dan intelektual Muslim lain yang usianya terpaut jauh darinya.
Sebenarnya Ammar sudah beberapa kali mengadakan diskusi dengan Icha dan beberapa temannya. Diskusi tersebut selalu berlangsung hangat karena Icha sering mengeluarkan ide-ide yang akhirnya mendasari penulisan artikel tersebut. Tetapi ia baru mengenal Icha saat perjalanan pulangnya menggunakan kereta api. Ia menolong seorang perempuan yang ternyata itu adalah Icha yang sering ia ajak diskusi bersama saat di UIN Jakarta.
Untuk ukuran Ammar dan Icha, menghafal wajah adalah sesuatu yang susah, terutama ketika bertemu lawan jenis. Maklum, setiap kali bersiksusi rata-rata yang hadir bisa puluhan, terkadang ratusan. Seperti simposium, hanya saja semua mendapat jatah pemaparan materi yang rata dengan dipandu dua moderator berpengalaman.
“Ditunggu lhoo . . .”
“Beres, minta apa emang?”
“Terserah kamu, pokoknya ditunggu oleh-olehnya ya . . .”
“Halo.” Telepon ditutup. Ammar agak gemas dengan Icha. Sifat genitnya membuat ia tertarik untuk mengetahui lebih dalam tentangnya. Mulai dari hobi, makanan, minuman, dan hal lain yang berhubungan dengannya.
Semakin hari semakin sering Ammar dan Icha berkomunikasi. Terutama ketika Ammar menjalani masa pemulihan gagar otak ringannya, Icha terus mengawasi terapi itu. Karena dia lulusan pendidikan dokter, sedikit banyak pasti mengetahui tentang obat dan langkah yang harus dipilih agar Ammar cepat sembuh.
Ammar kembali menatap layar laptop yang memampangkan fotonya saat ujian tesis. Ia masih tidak percaya dengan apa yang diraihnya sekarang. Ia mencoba memukul tangannya sendiri untuk memastikan jika hal ini bukanlah mimpi belaka. Sakit, ternyata ini adalah kenyataannya. Matanya berkaca-kaca. Bibirnya basah oleh bacaan tahmid kepada-Nya.
“Ayah, anak sulungmu telah lulus magister. Anakmu telah menjadi yang terbaik di angkatannya.”
“Adik, kakakmu yang bodoh ini telah memenuhi keinginanmu. Sekarang kau bisa melihat kakakmu yang ceroboh ini telah berubah.”
Hanya beberapa kalimat itu saja yang dapat ia ucapkan dalam sujudnya. Air matanya perlahan mengalir, membasahi pipinya hingga menetes di lantai tepat di depan laptopnya. Rindu pada dua orang istimewa itu membuatnya tak berhenti untuk terus mengalirkan air mata kebahagiaan. Dua orang tersebut selalu mendukungnya. Mereka berdua selalu menghiburnya di kala sedih. Yang selalu bersabar terhadap kekurangan yang ia miliki.
__ADS_1