Runtuhnya Pesantren Impian (PINDAH TULIS)

Runtuhnya Pesantren Impian (PINDAH TULIS)
Tawaran Emas


__ADS_3

Ammar membuka pintu, bau bawang yang digoreng ibu menyambut kedatangannya.


“Maaf Bu agak telat. Tempenya habis. Ammar udah muter dari ujung sampe ujung desa. Untung tadi ada Galih beli tempe agak banyak, jadi ini dikasih beberapa.”


“Galih sering main kesini, apalagi pasca ayah dan Azmy meninggal. Cuman kamu aja sih sering keluar, sok sibuk pula. Jadi kalian nggak pernah ketemu.”


“Bukan sok sibuk, tapi emang diminta buat ngisi acara.”


“Sekali-kali mampir ke kebun ayah. Kamu ini anak kandungnya malah nggak mau ikut ngerawat.”


“Kan udah dipasrain sama Galih.” Ammar mengelak.


Ibu hanya tersenyum. Ammar pamit menuju kamarnya. Ibu mengingatkannya untuk tidak tidur lagi di pagi ini. Salat Duha, murojaah hafalan al-Quran, dan menghafal tiga hadits adalah sarapan rohaninya. Entah sudah berapa tahun ia menghafal al-Quran tapi tak kunjung hafal. Dari masa ia masih berada di pesantren waktu SMP, hingga saat ini setelah lulus dan mendapat gelar magister.


“Aduh, susah banget ngapalnya.” Gerutunya.


Mungkin karena agenda yang terlalu padat membuatnya sulit sekali untuk menambah hafalan. Kadang juga ia bersyukur karena hafalan al-Quran miliknya tidak ada yang hilang, ya meskipun tidak ada kemajuan dan stagnan belasan juz saja.


Tak terasa, tiga puluh menit beralalu.


Ammar menyalakan televisi, tidak ada acara yang menarik perhatiannya. Ia memilih untuk mencari berita di internet. Laptop dibuka, wifi dinyalakan, dan ternyata ada sebuah pemberitahuan baru di emailnya.


Kepada


Anak Didikku Tercinta


Murfiqul Ammar

__ADS_1


Di Desa Seribu Sawah


Assalamu’alaikum wa Rahmatullah wa Barakatuh.


Bagaimana kabarmu? Bapak berharap kamu baik-baik saja. Sudah tiga bulan lebih Bapak tidak melihatmu. Semenjak ujian tesis sore itu, kau tidak pernah menghubungi Bapak lagi. Semoga kamu senantiasa dilindungi Allah dalam naungan-Nya.


Maaf sebelumnya jika Bapak mengganggumu karena surat ini. Bapak hanya ingin memberitahumu jika kamu telah direkomendasikan sebagai kandidat doktor di Leiden University, Belanda. Karena hasil tesis dan essaymu sangat prestisius di kalangan mahasiswa pascasarjana, Bapak pun mengusulkan namamu. Dari sekian banyak nama, kamu merupakan salah satu yang diprioritaskan oleh pihak universitas.


Jikalau kamu berkenan, tolong segera konfirmasi ke Bapak tentang kesanggupanmu. Bapak dan pihak universitas tidak akan memaksamu untuk menerima tawaran itu. Tetapi tawaran tersebut merupakan peluang besarmu yang tidak layak untuk kau sia-siakan. Kau sendiri juga tahu bahwa menuntut ilmu tidak terikat oleh usia. Usiamu sekarang masih muda dan seharusnya dimaksimalkan untuk mencari ilmu sebanyak mungkin.


Bapak berharap kamu dapat menerima tawaran langka ini. Sebentar lagi Bapak berangkat menuju Leiden University bersama Prof. Fariq, Guru Besar ilmu sejarah. Kami berdua akan menetap di sana untuk meneliti kitab-kitab dari Jawa yang otentik dengan bahasa Jawa di perpustakaan Leiden. Rencananya, hasil penelitian tersebut akan kami bukukan dan dijadikan bahan ajar para mahasiswa universitas.


Itu saja yang bisa Bapak sampaikan. Bapak minta maaf jika tidak bisa hadir dalam wisudamu. Tolong maafkan Bapak jika selama membimbingmu mempunyai salah ataupun hal lain yang menyinggung hatimu


Salam Ta’dhim


Eko David S.R


 


 


Pak David adalah dosen pembimbingnya menulis tesis. Tidak sebatas itu, dulu waktu SMP, beliau yang menjadi pembimbing asrama Ammar, meskipun hanya dua tahun. Setelah itu, beliau melanjutkan studi doktoralnya dan mengabdi pada kampus almamaternya, UIN Jakarta.


Prestasi Ammar yang menonjol membuat dosen sekaligus mantan pembimbing asramanya dulu tertarik. Beliau melihat adanya potensi besar dalam diri Ammar. Sebab itulah, beliau menariknya agar melanjutkan studi magister di Jakarta, bukan Surabaya tempatnya mendapat gelar sarjana dan mahasiswa terbaik fakultas.


Dua tahun yang lalu, tepatnya saat pertama kali ditetapkan menjadi dosen pembimbing Ammar, istri Pak David meninggal dunia. Istri beliau cantik, lemah lembut, dan merupakan salah satu tokoh terdepan dalam memperjuangkan feminisme.  Kejadian itu bertepatan dengan dirinya yang diangkat menjadi Guru Besar di bidang sejarah dan filsafat. Ia juga tidak mempunyai anak. Ia tidak mau menikah lagi untuk menghormati almarhumah istrinya.

__ADS_1


Waktu meninggalnya istri beliau, beberapa petinggi Universitas Indonesia datang menyatakan belasungkawanya. Maklum, almamaternya merasa kehilangan salah satu alumni terbaik yang dimiliki.


Pak David sempat memiliki dua orang anak dari hubungan rumah tangganya. Sayangnya, keduanya meninggal di usia yang masih sangat belia. Tentu hal tersebut menjadi pukulan telak baginya.


Anak pertama Pak David, meninggal karena sakit panas yang terus menyerang tiada henti selama empat puluh hari lamanya. Tepat di hari sakit anak pertamanya yang keempat puluh, malaikat kecilnya itu harus pulang ke pelukan Sang Pencipta.


Sementara anak kedua meninggal karena sakit batuk. Sebenarnya anak kedua Pak David meninggal bukan karena sakit batuk yang dideritanya, melainkan karena penanganan pihak klinik yang kurang intensif dan kesalahan mereka dalam pemberian obat yang menjadi sebab utama meninggalnya anak kedua beliau.


Pak David pernah bercerita jika waktu itu anaknya ia beri obat yang diberikan oleh pihak klinik. Setelah diminum, batuk yang diderita anak keduanya semakin menjadi-jadi, bahkan sampai mengeluarkan darah. Oleh sebab itu, ia tidak pernah percaya lagi dengan klinik-klinik di pinggir jalan karena anaknya pernah meninggal sebab obat yang diberikan oleh klinik tersebut.


Sungguh miris.


Nampaknya Ammar sudah dianggap sebagai anak sendiri sejak masih SMP dulu di pesantren. Waktu lulus dan selesai masa pengabdian setelah aliyah, beliau langsung menelpon Ammar menyuruh agar ia melanjutkan studi di Timur Tengah, tepatnya di Mesir


“Potensimu harus dikembangkan. Kalau kuliah di Indonesia bagimu terlalu mudah untuk menjadi yang terbaik di kampus.”


Ammar mengingat kata-kata beliau waktu itu. Akan tetapi, kondisi Timur Tengah waktu itu sangatlah memprihatinkan. Banyak konflik terjadi. Demonstrasi dimana-mana. Bahkan, terorisme adalah ciri khas dari daerah sana.


“Udah, kuliah di sekitar sini aja. Sukses nggak selalu dari kuliah di kampus yang besar. Toh banyak mereka dari kampus kecil malah lebih bersinar namanya.” Ibu menolak secara halus ketika Ammar mengungkapkan keinginannya untuk kuliah di Mesir, di Universitas al-Azhar.


Setelah itu, ia urungkan niat dan berujung permintaan maaf pada Pak David karena tidak bisa melanjutkan studi disana. Bukannya menolak, beliau justru mendukungnya karena menuruti apa yang dikatakan orang tua adalah sebagian dari kunci kesuksesan yang mutlak.


Akhirnya, Ammar memilih UIN Surabaya menjadi tujuan awal masa perkuliahannya. Ingin sekali ia mengambil jurusan yang lebih umum, namun hati kecilnya condong agar dirinya memilih jurusan agama saja.


Sampai suatu ketika, ia mendapat jawaban atas penolakan ibu. Ia berpikir, pendidikan itu bukan segalanya memang, apalagi sebatas kampus terkenal. Memang menjadi almamater kampus yang diunggulkan dapat menjadi nilai tersendiri dalam mencari pekerjaan. Akan tetapi, jikalau usahanya tidak berbanding lurus, maka sia-sia hasilnya.


Sekarang terbukti, teman-temannya yang kuliah di luar negeri dengan jurusan yang sama seperti dirinya, malahan lebih cenderung menjadi seorang guru pesantren saja, lebih-lebih hanya mengisi ceramah di daerah mereka. Sementara Ammar, namanya mulai dikenal di kalangan kampus almamaternya. Lebih dari itu, ia sering diminta menjadi dosen terbang di beberapa kampus di seluruh Indonesia.

__ADS_1


Sebenarnya pendidikan, entah itu sekolah hingga kuliah, mereka hanya sebatas alat bantu yang tidak pasti dalam meraih kesuksesan. Sukses dapat diperoleh dari mana saja, bahkan orang yang tak pernah mengenyam pelajaran pun banyak yang sukses.


Bagi Ammar, sekolah dan belajar tetap yang terpenting. Meski hanya sebatas alat bantu yang tidak pasti, tetapi sampai detik ini tidak ada alat bantu lain untuk meraih kesuksesan yang lebih efektif ketimbang pendidikan itu sendiri.


__ADS_2