
Hari itu penuh dengan kesedihan dan air mata seakan sebuah bencana telah tiba. Ada yang memukul-mukul lutut, menjambak rambut, dan melipat punggungnya. Mereka duduk menangis tersedu-sedu di sebuah rumah yang penuh dengan aroma keberkahan. Ada juga seorang yang meluapkan kemarahannya entah karena tidak ingin menerima kenyataan yang pahit ini. Ia berpikir bahwa ia tidak akan bertahan karena ditinggalkan.
Sebenarnya ada kasih sayang, kehormatan, dan cinta yang bersemayam dalam kemarahan itu. Bisa jadi kemarahan itu merupakan ekspresi penyangkalan terhadap peristiwa menyedihkan saat itu.
Sangat aneh!
Lelaki itu sebelumnya menjadi musuh bagi rakyat desa Cemandi, yang sering menykiti orang yang mencegahnya, yang membuat warga selalu resah akan perbuatannya. Namun, sekarang ia tak tahan dengan kata “mati” untuk orang yang menjadikannya sebagai pelindung desa, pahlawan serta penyelamat desa dari ancaman orang yang ingin berbuat jahat pada desa.
Ketika ayah datang, api cinta sejati akan kebaikan ayah, membara dalam hati setiap orang. Ketika ayah pergi, maka api perpisahan pun membakar hati mereka yang mencintainya. Setiap orang mengekspresikan kesedihannya dengan cara yang berbeda. Abid, si preman desa yang menetap di jalan kosong di sebelah barat desa, juga mengekspresikan kesedihannya dengan cara yang khas.
Ketika ayah hadir di tengah masyarakat, setiap warga menunjukkan kegembiraan mereka. Datangnya seorang ahli ilmu membuat segala sesuatu menjadi bermakna dan bernilai serta menunjukkan keindahan Sang Pencipta. Ketika ayah pergi meninggalkan mereka, pastilah semua menangis dan tak mengira akan secepat ini ditinggalkan.
Saat ini mereka sedang menangisi sebuah perpisahan.
Elsa, seekor kucing persia kecil dan mungil yang ada di rumah ayah pun pasti merasakan kesedihan karena akan tinggal tanpa ayah lagi. Ia tidak berselera untuk makan dan minum. Ia tenggelam dan larut dalam kesedihan. Jika saja Elsa memiliki suara seperti manusia, niscaya teriakannya akan terdengar jelas mengisyaratkan kesedihannya.
__ADS_1
Seluruh permukaan bumi ikut menangis. Demikian pula langit. Alam para malaikat juga merasakan hal yang sama, turut serta bersedih terhadap meninggalnya seorang ahli ilmu. Bunga-bunga anggrek yang ada di depan rumah ayah kini terlihat menunduk layu.
Jika engkau berpikir bagaimana bisa bumi, langit, dan seluruh makhluk hidup yang ada di dalamnya bisa menangis karena dicabutnya ruh seorang ‘alim yang mengabdikan dirinya pada masyarakat. Ingatlah kembali dengan yang ini, “Maka langit dan bumi tidak menangisi mereka dan merekapun tidak diberi pengangguhan waktu.
Rasulullah pernah bersabda bahwasanya ketika mati seorang ‘alim, maka penduduk bumi dan langit menangisinya selama tujuh puluh hari. Barang siapa yang tidak bersedih dengan matinya seorang ahli ilmu, maka dia merupakan orang yang munafik. Rasulullah waktu itu mengatakan kata “munafik” sebanyak tiga kali yang menandakan jika orang tersebut benar-benar munafik.
Sesungguhnya bumi dan langit berhubungan dekat dengan manusia. Sayangnya, tidak sedikit dari mereka mengingkari Sang Pemilik bumi dan langit. Mereka ingkar terhadap nikmat yang sudah diberikan-Nya. Mereka menganggap kehebatan Ilahi yang berharga dan bernilai itu hanya sebagai mainan belaka. Oleh karena itu, bumi dan langit senang dengan kematian mereka yang melanggar hukum-hukum itu.
Ketika masih hidup, orang-orang kafir merasa bangga denga keingkaran mereka. Mereka mengingkari ciptaan Sang Pencipta alam semesta beserta seluruh isinya, padahal sejatinya mereka sedang berlari mendekati azab di akhirat setelah kematian menjemput mereka. Dengan begitu, langit dab bumi akan bergemberia dengan matinya orang-orang kafir tersebut.
Tidakkah bumi dan langit serta semua isinya akan merasa bersedih?
Tidakkah mereka semua akan meneteskan air mata kesedihan?
Kita sebagai manusia biasa memang tidak memiliki kemampuan untuk mendengar tasbih dan tangisan makhluk lainnya. Namun sesungguhnya mereka senantiasa bertasbih dan bertahmid memuji kebesaran Sang Pencipta dengan bahasa mereka. Ayah yang sudah mencapai derajat tersebut, tak pernah memperlihatkan. Kini waktunya makhluk-makhluk lain selain manusia bersaksi bahwa ayah adalah orang yang baik.
__ADS_1
Putra sang Hamba, Azmy Ramadhan, tenggelam dalam kesedihan yang tiada terkira. Ia menangis tersedu-sedu dan berkata “Ayah, engkau pergi terlalu cepat. Seperti biasa, sesuatu yang mengejutkan selalu mengagetkanku. Kini, ayah sudah menyiapkan sebuah kejutan paling besar dalam hidupku.” Tangisannya tidak berhenti semenjak dia dijemput dari pesantren.
Ada seorang lagi yang menangis. Ketika ia mendengar berita yang menggemparkan seisi desa. Teriakannya menggema bagai letusan gunung krakatau di selat Jawa. Ia merasa api-api mulai turun dari langit ke atas kepalanya. Api berita itu seakan-akan membakar bibirnya yang basah karena air mata duka. Api perpisahan itu telah membara di hatinya melebihi yang lain. Ia hanya memendam kepahitan dalam hatinya, tanpa suara ia menangis. Tidak ada teriakan senang, tidak pula kesedihan. Ia tidak merobek-robek terhadap apa yang menutupinya, tidak juga meneriakkan kemarahannya pada orang di sekitarnya.
Baginya, saat ini bukanlah waktu yang tepat untuk itu semua. Akan tetapi, ini adalah waktu untuk meningkatkan tali perasaan. Waktu untuk mendengarkan logika dan suara hati. Waktu untuk melihat peristiwa yang baru saja terjadi dengan pandangan yang lebar. Waktu untuk memahami kesedihan dengan menggunakan kesabaran dan akal sehat. Ini adalah waktu untuk menghidupkan harapan umat. Waktu untuk menghibur dan mengobati hati-hati yang terbakar. Waktu untuk menyikapi semua hal dengan hati nurani.
Ia datang dari peraduannya di Jakarta. Napasnya terengah-engah bercampur dengan isakan tangis. Namun, ia tampak berjuang untuk menahan air matanya keluar. Hanya dengan sedikit air mata yang menetes di pipinya dan tanpa suara ia mendekati tubuh ayah yang telah memejamkan matanya untuk selamanya.
Ia tak kuasa melihat wajah ayah ketika membuka kain putih yang menutupi wajah ayah secara perlahan. Inilah kali terakhir baginya untuk melihat wajah yang penuh berkah itu sepuas hatinya. Wajah yang tidak dapat ia lihat lagi. Ia mencium dahi ayah dengan penuh cinta dan kasih sayang.
“Ayah indah dikala masih hidup, pun tak kalah indah ketika sudah tiada. Keindahanmu tak pernah lekang oleh masa.” Katanya.
Ketika ia bersedih di ujung ruangan di rumah, ia duduk dengan tawadhu. Ia mengenang apa yang diceritakan ibu tentang kalimat terakhir yang ayah ucapkan sebelum mengucap kalimat tahlil dan syahadat. Apakah mungkin Zat yang Maha Pengabul doa tidak menjawab doa hamba-Nya ketika meminta, “Wahai Tuhanku, aku menginginkan kehidupan yang abadi dan kebahagiaan yang tanpa batas. Aku menginginkan keabadian. Aku ingin bertemu dengan-Mu. Aku ingin melihat-Mu.”
Itulah sosok itu, Murfiqul Ammar, anak sulung dari almarhum Pak Wahyu yang mewarisi keilmuannya sehingga menjadikannya sebagai seorang anak yang memiliki pemahaman mendalam di bidang agama. Tidak sebatas itu, ia memiliki kharisma khas sehingga warga pun segan seperti melihat sosok ayahnya.
__ADS_1
Dunia ini ibarat penjara bagi orang-orang yang beriman dan beramal salih. Oleh karena itu, mereka mendambakan keindahan surga sehingga akan berjuang untuk meraihnya. Ammar menganggap bahwa rumahnya adalah sebuah sudut penjara yang tidak diketahui jalan keluarnya. Tubuhnya memang menjadi tawanan di penjara itu, namun ruhani dan keilmuannya tetap bebas berkelana tanpa ada yang menghalaunya.