Runtuhnya Pesantren Impian (PINDAH TULIS)

Runtuhnya Pesantren Impian (PINDAH TULIS)
Mati Suri


__ADS_3

Seorang diri Icha menunggui Ammar di rumah sakit. Sejak Ammar dibawa ke rumah sakit, Icha dan Halim selalu berada di sana, entah untuk mengawasi atau urusan lain yang tidak diketahuinya. Icha gelisah bukan main. Pikirannya kacau tidak karuan. Bayangan-bayangan tentang kejadian yang tidak diharapkannya menghantui pikirannya.


Ini adalah hari ketujuh setelah sadarnya Ammar beberapa menit, tepatnya hari kesepuluh setelah kejadian naas itu menimpanya.


Tadi malam. Ya, tadi malam dokter memvonis bahwa Ammar sudah tiada. Detak jantungnya berhenti dan denyutnya sudah tak terasa lagi.


Icha tidak ingin bayangan-bayangan di pikirannya itu menjadi sebuah kenyataan. Ia takut sekali. Ia sangat cemas. Bayang-bayang tersebut segera ia buang jauh-jauh. Ia tidak menginginkan hal buruk terjadi pada Ammar. Ia belum siap jika semua itu terjadi.


Icha memejamkan matanya, sekhusyu’ mungkin ia berdoa untuk keajaiban Tuhan pada Ammar. Ia menggenggam erat tangan Ammar yang tidak mengisyaratkan adanya denyut. Dokter telah memvonisnya meninggal, tapi baginya Ammar tetap masih hidup. Waktu hampir menunjukkan pukul dua pagi. Sisa-sisa air matanya masih terlihat. Matanya sembab karena terlalu banyak air mata yang keluar. Ia menyeka sisa-sisa air matanya menggunakan kedua telapak tangannya.


Ayah dan Ibu Ammar pulang ketika mendengar berita tersebut. Mereka menyiapkan kepulangan jasad Ammar. Dokter menyatakan jika Ammar dapat dibawa pulang ke kampung halaman pagi setelah salat Subuh dan hasil otopsi keluar.


Perhatian Icha kepada Ammar sangat berarti. Icha tidak dapat melupakan pertolongan Ammar ketika pertama kali bertemu. Ada suatu rasa yang mengganjal di hatinya ketika melihat keberanian Ammar melawan pencopet di kereta waktu itu. Disaat penumpang yang lain hanya melihat, Ammar membuktikan bahwa tolong-menolong dalam Islam itu bukan hanya teori, tapi juga praktek. Jika suatu saat waktunya tiba, ia bertekad untuk mengungkapkan perasaan yang sudah lama ia pendam.


Rasa yang mengganjal di hati Icha perlahan-lahan berkembang. Dari yang awalnya hanya kecil hampir tak dapat dirasakan, kini ia hampir merasakannya setiap bertemu dengan Ammar. Entah rasa apa yang mengganjal di hatinya, ia sendiri pun tak tahu.


“Ammar ….” Bisiknya lemah.


Icha tak henti-hentinya memandangi Ammar, menatapnya lekat-lekat. Wajah Ammar yang pucat pasi, semakin menambah kesedihan yang ada dalam hatinya. Kedua mata Ammar yang masih terpejam dengan bibir yang sudah membiru, melubangi ruang kegelisahannya yang kosong. Ia rindu sekali dengan wajah Ammar yang ceria dan sifatnya yang humoris.


Inilah rasa tersebut. Yang ingin sepenuhnya menemani kekasih. Yang ingin selalu mendukung serta memberi perhatian ketika sedang membutuhkan. Yang selalu menggantungkan diri padanya. Yang perasaannya hampa jika ia tiada. Meskipun tidak terikat secara darah daging, rasa yang pertama kali muncul waktu bertemu membuat Icha tak mampu berpaling lagi.


Tak terbesit sedikitpun dalam benak Icha untuk meninggalkan Ammar. Tak ada sedikitpun bayang-bayang buruk tentang kondisi Ammar yang sekarang. Tidak mungkin ia tega melakukan semua itu. Yang ada dalam dirinya, Ammar masih hidup. Ia masih bernapas dan mendengarkan suara hatinya. Icha merasa perhatiannya kepada Ammar belum cukup untuk membalas kebaikan yang pernah Ammar lakukan kepadanya. Ia ingin sekedar memberikan perhatian kepada malaikat penolongnya.


“Ammar, aku disini. Sadarlah. Aku tidak mau kisah kita berakhir begitu cepat.”


Akan tetapi, sekarang Ammar hanya dapat terbaring tak sadarkan diri di rumah sakit. Lisannya tak berhenti sedikitpun untuk tidak memanjatkan doa kepada-Nya agar Ammar kembali ke dunia. Ia tidak ikhlas jika Ammar pergi terlebih dahulu sedangkan kebaikannya belum sempat dibalas. Ia ingin Ammar melewati masa-masa sulit yang dialaminya. Ia ingin sekali kembali berdiskusi masalah agama yang berhubungan dengan ilmiah. Alangkah menyenangkan jika ia bisa memandang kembali wajah tampannnya, senyumnya yang menawan, pandangan mata yang menyejukkan hati. Alangkah indahnya itu semua. Ia menginginkan itu semua.


Cinta adalah memberikan diri seutuhnya tanpa syarat apa pun. Cinta akan memberikan nyawa jika dituntut oleh orang yang dicintainya, bahkan sebelum yang dicintai itu memerintahkannya untuk memberikan nyawanya. Cinta bagai sebuah ikatan yang sangat kuat hingga segala sesuatu yang terikat olehnya akan rela untuk mengorbankan segalanya. Cinta adalah pengorbanan tanpa batas. Tapi, karena pengorbanan itulah seseorang lupa akan dirinya sendiri. Cinta juga dapat menjadi buta.

__ADS_1


“Ammar, bangun. Plis, sadar buat aku.”


“Aku nggak mau berpisah secepat ini …..”


Sungguh betapa indah dan penuh hikmah ketika cinta dan yang dicintai saling terikat dalam suatu ikatan yang erat. Pasti ikatan tersebut dapat memutus ikatan rantai baja yang kuat sekalipun. Keduanya akan menyatu karena saling mengisi. Ikatan tersebut selalu memiliki ketergantungan antara satu dengan yang lainnya.


Fitrah manusia adalah senang untuk mencintai dan dicintai. Namun, suatu hari akan tiba waktunya bahwa manusia akan diuji dengan apa yang dicintainya. Mungkin saja dengan hilangnya sesuatu yang ia cintai. Tentu manusia akan tercengang saat rangkaian takdir mengujinya. Manusia harus jeli agar tidak terpedaya oleh cinta yang dapat melemahkannya dan menguasainya sehingga ia tenggelam dalam lautan penyesalan.


Pada malam itu, Icha memahami dari kejadian yang menimpa Ammar bahwa cinta tidaklah sebatas memandang rupa dan bentuk saja. Tidak pula sebatas pertemuan dan pengorbanan. Menurutnya, cinta tidaklah sebatas apa yang dapat dilihat oleh mata, didengar oleh telinga, dan dirasakan oleh hati. Cinta adalah proses yang tidak hanya sebatas tahu, tetapi juga memahami. Tidak hanya sekedar melihat sekilas, melainkan mengamati secara terperinci.


“Ingin sekali ku mencium bibir itu, meskipun hanya sekejap. Untuk saat ini, izinkan aku mencium keningmu yang sudah dingin itu.” Bisik Icha pelan.


Icha mencium kening Ammar untuk yang terakhir kalinya.


Di saat Icha akan meninggalkan ruangan untuk ke kamar mandi, mendadak ia dikagetkan oleh gerakan tangan seseorang. Pandangan kosongnya seketika. Dilihatnya Ammar dari bawah sampai atas. Ammar perlahan-lahan membuka matanya. Alat pendeteksi menunjukkan bahwa jantung Ammar kembali beraktivitas, meskipun lemah. Ammar menggenggam tangannya seakan tidak mengizinkannya untuk pergi.


“Ammar …” Bisik Icha pelan. Tangisnya kembali pecah.


Ammar mendapat sebuah keajaiban.


“K-Kamu siapa?” Tanya Ammar lirih pada Icha yang ada di sampingnya.


Kata-kata Ammar yang diharapkan sebagai obat kesedihan Icha, kini malah menjadi luka tambahan ke dalam hatinya. Ia menangis tersedu-sedu mendengar apa yang dikatakan Ammar.


“Kenapa aku ada di rumah sakit. Siapa yang membawaku kesini?”


Icha masih terdiam. Tidak menyangka Ammar akan berkata sedemikian halnya. Perhatiannya kepada malaikat penolongnya kini semakin bertambah meskipun bertolak belakang dengan suasana hatinya yang sesak oleh rasa sedih yang tiada terkira. Ia berteriak memanggil dokter.


Waktu menunjukkan pukul empat lebih tiga puluh menit. Azmy dan Halim berlari dan tiba-tiba masuk ke dalam ruangan UGD. Halim kemarin menginap di rumah Azmy.

__ADS_1


“Apa yang terjadi, Mbak?” Tanya Azmy penasaran dengan Icha yang menangis tersedu-sedu.


“Nggak tau. Ammar terbangun dan tiba-tiba ia lupa semua”.


“Mas Ammar ...? Mas sudah sadar ..?”


“Kalian siapa?”


Bukan main kesedihan Azmy waktu itu. Saking sedihnya, air matanya mengalir deras dari kedua matanya.


“Aku adikmu, Mas. Aku Azmy..”


“Azmy siapa? Kenapa harus menangis, mukamu nggak cocok buat sedih?”


Azmy sudah diperbolehkan untuk rawat jalan sejak menunjukkan kemajuan pesat waktu dirawat disini. Tangan kirinya masih diperban karena sendinya masih dalam proses pemulihan. Ia yang tidak mau menambah beban pikiran lagi, langsung berlari keluar ruangan.


“Kenapa dia keluar? Kalian berdua juga kenapa menangis?” Tanya Ammar dengan bibir yang masih membiru.


“Dia adikmu, Kenapa kamu bisa lupa? Dia adikmu satu-satunya. Adik kandungmu.” Emosi Icha tidak terkontrol.


“Sabar, Mbak. Sabar ...” Halim mengingatkan kakaknya.


Ammar hanya diam tanpa suara.


Adiknya ..?


Adik Satu-satunya ..?


Ia ingat jika dirinya adalah anak tunggal. Orang tuanya sudah lama meninggal. Ia juga ingat jika dirinya tadi berada di rumahnya di Jakarta. Ia juga tidak tahu dimana ini. Meskipun perempuan di depannya menjelaskan dengan panjang lebar tentang apa yang telah terjadi padanya, ia tetap bengong tidak menahu.

__ADS_1


Lima menit kemudian, dokter datang bersama ayah dan ibu Ammar. Seketika dokter memeriksa kondisinya. Ammar semakin heran. Makin banyak yang datang, ingatannya malah lebih kacau. Bahkan, ia sampai-sampai lupa dilahirkan kapan dan sekarang umur berapa.


Ammar hilang ingatan.


__ADS_2