
Ammar merasa sangat bahagia. Bukan karena seminarnya sukses, tetapi ia dua kali berhasil membuat pipi Icha memerah. Senang karena melihat tingkah Icha, juga gemas terhadap wajah imutnya yang merah padam ketika cemburu.
"Keren Mas Ammar tadi, kakak aja sampai hampir kalah waktu njelasinnya." Halim datang dari belakang.
"Nggak, Lim. Kakakmu masih lebih banyak baca bukunya. Buktinya tadi pertanyaanku dibantu jawab. Kan nggak terlalu repot mikir penjelasan yang rinci." Ammar kembali menggoda Icha.
Saat sedang asyik berbincang, HP Ammar tiba-tiba berdering, ada sebuah telepon masuk.
“Maaar ... Azmy ...” Ibu berbicara diiringi isak tangis yang membuat Ammar heran.
“Kenapa Azmy, Bu? Kenapa?”
“Ia kecelakaan. Nanti langsung ke rumah sakit Mitra Keluarga.” Ibu langsung menutup telepon.
Air mata Ammar menetes seketika. Adik semata wayang yang ia punya, adik yang selalu ceria dan menemani di setiap duka, adik yang selalu menghiburnya saat sedih, adik yang senang menolongnya menyelesaikan masalah kini terbaring lemah tak berdaya. Ia membayangkan kondisi adiknya yang kini entah seperti apa. Air matanya mengalir semakin deras selaras dengan bayang-bayang Adiknya di pikirannya.
“Ammar, kamu kenapa?” Tanya Icha.
__ADS_1
“Adikku, Cha. Adikku.”
“Kenapa dengan Azmy, Mas?” Halim juga ikut kaget mendengarnya.
“Ia terserempet mobil dan kepalanya terbentur batu.”
“Apa..? Mas Ammar nggak bercanda kan?” Tanya Halim lagi untuk memastikan.
“Iya Lim, aku mesti pergi sekarang.”
“Tapi ..”
"Aku kan pingin ikut, Mas."
Icha menenangkan adiknya yang merengek. Ia tau jika Halim ingin sekali ikut melihat kondisi Azmy. Bukannya melarang, Ia takut nanti adiknya malah merepotkan disaat kondisi sedang tidak stabil seperti ini. Ia menggandeng adiknya agar tetap menunggu hingga ada kabar lanjutan.
Tak hanya Ammar yang seperti tersambar petir, hati Halim juga ikut rapuh mendengar kabar tersebut. Sahabatnya yang selalu ceria, kini harus terbaring lemah dengan kondisi antah berantah. Azmy lah yang sering menemaninya ketika kesepian. Azmy lah yang mengajak makan bersama jika tidak punya uang. Azmy lah yang selalu ada disaat Halim terkena suatu masalah. Ketika Halim sakit, Azmy lah yang pertama kali datang untuk menjenguknya. Pisau telah menyayat hatinya yang paling dalam.
__ADS_1
“Aku pamit dulu.” Ammar meninggalkan Halim dan Icha setelah mengucapkan salam.
“Hati-ha …” Ucapan Icha tidak terdengar oleh Ammar yang langsung berlari menuju parkiran motor.
Ammar segera memacu motornya dengan kecepatan tinggi. Ia ingin segera bertemu dengan Adiknya. Ia ingin melihat wajah Adiknya. Ia ingin memeluk tubuh Adiknya yang sekarang masih memejamkan matanya.
Baru saja setitik kebahagiaan memancar di wajahnya karena seminar yang barusan sukses, tiba-tiba ia harus bergulat dengan kenyataan setelah peristiwa barusan. Kebahagiaan yang dirasakannya sirna seketika digantikan oleh kesedihan yang terus bersarang dalam dirinya. Hatinya bimbang tidak karuan.
Burung yang berkicau di batang pohon sekitar auditorium perlahan diam melihat Ammar. Sepertinya mereka ikut sedih mendengar kabar Azmy masuk rumah sakit. Betapa tidak, Azmy begitu sayang terhadap binatang, terutama kucing dan beberapa jenis burung. Ia tidak segan membawa sekantong plastik biji-bijian ketika bepergian kemanapun, berharap dapat menemukan burung yang kelaparan dan memberinya makan. Wajar saja jika burung-burung sekitar sini bersedih mendengar kabar duka itu.
Sepanjang perjalanan, tidak henti-hentinya Ammar membayangkan bagaimana kondisi adiknya. Fokusnya tidak lagi pada jalanan, akan tetapi bayangan muka Azmy yang terus menghantuinya di sepanjang jalan. Ia terus menangis dan menangis hingga ….
“Brak ..”
Burung yang tadinya diam menatap kepergian Ammar, kini langsung bubar ketika Halim sedang memberinya makan. Icha yang melihat fenomena itu seketika berpikiran macam-macam. Perasaannya kacau balau.
Apa yang terjadi dengan Ammar?
__ADS_1
Di jalanan dekat rumah sakit Mitra Keluarga, ada kecelakaan seorang pengendara motor yang hampir menabrak mobil avanza hitam ketika ingin berbelok tetapi memotong jalan. Pengendara itu diduga kurang fokus pada jalan raya dan harus reflek membanting setir ketika mobil itu tiba-tiba memotong dari kiri tanpa menyalakan riting arah kanan. Tangan dan wajahnya penuh dengan darah. Matanya tidak kuat lagi untuk terbuka. Ia hanya melihat warga yang berbondong-bondong datang kepadanya. Pandangannya berubah menjadi hitam. Semakin gelap dan gelap.
Kesadaran Ammar menghilang.