Runtuhnya Pesantren Impian (PINDAH TULIS)

Runtuhnya Pesantren Impian (PINDAH TULIS)
Kenangan Ayah


__ADS_3

Beberapa menit berlalu dan tahlil telah usai, warga desa Cemandi kembali ke rumah mereka masing-masing. Angin sepoi malam mengiringi tiap langkah menjauhi rumah bercat putih dengan atap sederhana itu. Bulan membagi cahaya mereka agar tiap orang dapat menemukan jalan untuk pulang.


Beberapa kerabat ayah masih duduk-duduk di teras rumah. Pakde Ghofur, Pak Salam, Lek Ipul, dan Ammar berbincang-bincang diselingi asap kopi yang mencoba bercengkrama dengan hidung mereka.


Ammar hanya termenung sambil menundukkan wajah. Nampak sekali matanya capek; sembab karena terlalu banyak menangis. Ia juga manusia, berhak untuk bersedih dan menangis. Tapi bukan di tempat umum.


“Ayahmu itu kuat, le. Diberi cobaan apapun tetap tabah.”


“Iya, Pakde.”


“Kenapa orang seperti ayahmu harus dipanggil terlebih dahulu?”


“Iyo, Fur. Kenapa orang baik selalu meninggal lebih dulu.” Tambah Pak Salam, tetangga terdekat Ayah sekaligus sebagai teman ngopi dan ngobrol di malam hari.


“Semua itu hanya Allah yang tahu. Itu semua sudah digariskan sejak zaman azali.”


“Begitulah rahasia Tuhan. Terkadang orang baik seperti ayah harus dipanggil terlebih dahulu. Sebaliknya, mereka yang jahat dan suka maksiat diberikan tenggat waktu lebih lama untuk bertaubat.” Jawab Ammar dengan tatapan kosong.

__ADS_1


“Kamu memang cocok menjadi penerus ayahmu, le. Mudah-mudahan Allah senantiasa memberimu dan ibumu, serta adikmu kesabaran untuk menghadapi ujian ini.”


“Amin . . . .” Ammar mengamini ucapan pakdenya dalam hati.


Ammar selalu bersabar jika menghadapi musibah. Baginya, musibah adalah sebuah ujian dari Allah kepada hambanya yang beriman. Semakin dahsyat musibah maupun ujian yang menimpa seorang hamba, maka dapat diketahui ketinggian iman seorang hamba tersebut. Jikalau ia dapat melalui ujian itu, maka derajatnya akan naik di sisi-Nya.


Sama halnya seperti seorang murid yang sedang bekerja keras untuk bersiap menghadapi ujian yang akan dihadapinya di hari esok. Begitu si murid dapat melewati ujian tersebut selama kurun waktu tertentu dan usaha tertentu, tentunya murid itu dapat naik ke tingkat ke selanjutnya. Jikalau si murid tidak bisa melewati ujian yang menghadapinya di esok hari, kelak murid tersebut tidak akan bertambah tingkatannya.


“Aku juga turut bersedih, Le. Jasa ayahmu hampir nggak bisa dihitung. Ayahmu dulu yang ngajarin aku agama mulai nol. Waktu aku masih jadi preman, suka malak, ayahmu sering negur dan ngajak ngaji bareng. Meskipun lebih muda, keras kepalanya terkadang membawa berkah.”


Ammar tidak pernah lupa peristiwa waktu itu, saat pakdenya ingin belajar nahwu dan shorof kepada ayahnya. Pakde mengatakan bahwasanya ia malu jika kalah dengan anaknya yang dapat membaca kitab gundulan. Ayah akhirnya mengajari pakde nahwu dan shorof setiap pagi dan sore jika ayah tidak ada keperluan lain.


Tak perlu waktu lama bagi pakde untuk menguasai ilmu nahwu dan shorof. Berhubung dulu pernah nyantri, pakde tentu sudah paham dasarannya meskipun selalu tidur. Hanya perlu waktu tiga bulan agar pakde paham secara keseluruhan tentang nahwu dan shorof.


Tidak tanggung-tanggung, pakde langsung memilih kitab syarh ibnu ‘aqil. Ayah sempat terkejut mengetahui apa yang dipilih kakak iparnya. Begitu melihat sorot matanya yang menunjukkan semangatnya menuntut ilmu, ayah akhirnya menuruti kemauan pakde. Kini, kemampuan nahwu dan shorof pakde hampir menyamai ayah.


Ammar yang mewarisi keilmuan ayahnya, tentu lebih paham soal dua hal tersebut daripada pakdena. Tamat aliyah, ia telah hafal alfiyah dan fathul qorib. Ia sengaja menamatkan kuliah sarjananya secara normal selama empat tahun, sebetulnya ia bisa menyelesaikannya lebih cepat. Tidak hanya faktor usia saja, faktor kepiawaiannya dalam berorganisasi juga tinggi. Ia sempat menjadi ketua BEM[1] selama dua periode berturut-turut.

__ADS_1


Lulus sarjana, Ammar telah mengkhatamkan ratusan kitab sejarah islam mulai zaman Rasulullah hingga periode klasik. Ia mempunyai sebuah perpustakaan kecil di rumah. Kurang lebih ada tiga ratus buku sejarah islam dan puluhan novel islami. Ada juga beberapa kamus bahasa arab dan kitab kuning berjilid milik ayahnya, seperti kitab ihya’ dan bidayah wa an-nihayah karangan Ibnu Katsir.


Ammar tergolong remaja yang kutu buku. Hampir setiap buku yang menurutnya menarik, ia beli dengan uang tabungannya sendiri. Ia lebih senang membaca buku-buku sejarah daripada buku yang membahas tentang hal ilmiah. Semangat belajar dan membacanya telah tumbuh saat masih belia. Dibalik buku-buku milik ayah yang menyedot perhatiannya, Ammar kecil telah memiliki satu tokoh penyemangat yang namanya masih asing bagi orang awam. Tokoh itu adalah Hasan bin Ziyad.


Hasan bin Ziyad adalah salah satu ulama besar pada zamannya. Ia merupakan sosok yang alim sekaligus faqih. Ketajamannya di bidang fiqih membuatnya diangkat menjadi seorang mufti[2] selama empat puluh tahun. Tentunya ada suatu kisah yang menarik dari dirinya yang membuat Ammar menjadikannya sebagai panutan dalam hal menuntut ilmu sekaligus belajar dan membaca.


Berawal dari orang biasa yang tidak mengerti tentang ilmu agama, Hasan bin Ziyad memulai belajarnya kepada seorang ahli fiqih Irak ternama pada waktu itu dan sering disebut dengan ahli fiqhul ra’yi atau pengambilan hukum dengan logika. Hasan belajar langsung kepada ahlinya, Imam Abu Hanifah, salah satu imam madzhab empat.


Ia memulai belajar fiqihnya di usianya yang kedelapan puluh tahun. Dalam pembelajarannya selama empat puluh tahun bersama Imam Abu Hanifah, tidak ada satu hari pun yang ia lewatkan dengan tidur di kasur.


Setelah empat puluh tahun belajar fiqih kepada Imam Abu Hanifah, sang guru merasa bahwa semua ilmunya telah ia sampaikan kepada Hasan yang pada waktu itu usianya telah mencapai seratus dua puluh tahun. Dan di usia itu juga, Hasan bin Ziyad diangkat menjadi mufti selama empat puluh tahun hingga usianya mencapai seratus enam puluh tahun.


Hal tersebut menandakan wajibnya menuntut ilmu dengan tanpa memandang usia lagi. Mungkin bisa dibilang mustahil jika seseorang mulai belajar di usianya yang mulai tua dan pikun. Hal itu bisa terpatahkan oleh kuatnya niat. Begitu muncul niat yang kuat dalam hati seseorang, semua hal yang bisa mencegahnya pasti dihindarkan oleh Allah Yang Maha Pemberi.


 


[1]Badan Eksekutif Mahasiswa

__ADS_1


[2]Orang yang berhak memberikan fatwa.


__ADS_2