Runtuhnya Pesantren Impian (PINDAH TULIS)

Runtuhnya Pesantren Impian (PINDAH TULIS)
Adik yang Berprestasi


__ADS_3

Tiga puluh menit berlalu, azan duhur berkumandang. Azmy sepertinya tidak asing dengan suara muazin itu. Ia berpamitan kepada Ibunya untuk wudu dan mendirikan salat duhur berjamaah.


Tepat seperti yang ia duga. Sesampainya di dalam masjid, ia melihat teman sekamarnya yang mempunyai bentuk tubuh agak gendut, sedikit kehitaman, dan tinggi sekitar 158 sedang berdiri disamping tiang dengan memegang microfon di tangannya. Ia adalah Habib.


Suara milik Habib sangat mudah dikenali oleh warga pesantren. Dengan ciri khas tidak seberapa besar seperti suara orang dewasa pada umumnya, bahkan seperti suara anak kecil. Habib juga sering digoda oleh teman sekamarnya, utamanya Ipank dan Faruq karena sifat kekanak-kanakannya yang masih kental dalam dirinya. Ia juga disukai banyak orang karena memiliki sifat dermawan, baik itu untuk teman sekamarnya ataupun yang lain.


Setelah mengambil wudu, Azmy menuju saf pertama bagian pojok kiri dekat lemari al-Quran. Itu adalah tempat istikamahnya ketika beribadah maupun belajar. Baik itu salat lima waktu, wirid, mengaji, hingga membaca novel-novel islami.


Azmy masuk dari pintu samping kanan dan melangkah menuju tempat ibadahnya. Dari kejauhan ia melihat kakaknya yang sedang membaca al-Quran. Ia teringat jika itu adalah tempat istikamah kakaknya dulu ketika masih nyantri. Kakaknya sering bercerita bahwa disitulah tempat pertama kalinya menghafalkan al-Quran. Sekarang entah berapa juz yang sudah dihafal kakaknya dibalik hafalan tentang tokoh-tokoh islami yang sudah diluar kepala.


Azmy duduk di sebelah Ammar. Ia melihat mata kakaknya terpejam dan mulutnya melafalkan ayat-ayat suci al-Quran. Ternyata Ammar sedang muraja’ah al-Quran juz dua belas, tepatnya di surah Hud.


Azmy mengambil mushaf dan ikut bersama kakaknya memuraja’ah hafalan al-Qurannya. Hafalannya masih dua juz. Maklum, ia baru memulai menghafal dua bulan yang lalu saat mendengar siraman rohani dari wali kelasnya tentang keutamaan orang yang hafal al-Quran dan membacaNya. Ia juga tergolong anak yang cerdas dan kuat hafalannya karena dibalik materi eksak yang diberikan oleh pihak pesantren, ia dapat menghafal al-Quran dan beberapa nadhom atau bait syair Arab. Bahkan, ia dapat mendahului teman-temannya yang menghafal al-Quran lebih dahulu.

__ADS_1


Usai salat duhur, Pak Ahmad selaku coordinator membuka acara penerimaan rapot dan disusul dengan istighosah serta dilanjutkan oleh pengumuman para juara kelas. Azmy dan Ammar menuju barisan paling belakang di bagian kanan karena di bagian kiri akan digunakan untuk wali santri perempuan. Ibu mereka telah duduk di saf paling depan.


Azmy keluar dari masjid untuk mencari Ayahnya, sementara Ammar duduk menunggu di dekat pintu keluar masjid.


Suasana masjid yang awalnya sepi, hanya terdapat tiga saf salat duhur, kini menjadi ramai oleh wali santri, laki-laki maupun perempuan. Santri putra berbondong-bondong membawa barang-barang mereka. Para pembimbing dan fungsionaris pesantren sibuk dengan urusan mereka masing-masing.


Istighosah selesai, sekarang waktunya sesi pengumuman. Pengumuman pertama yaitu para juara kelas. Telah disebutkan bahwa Azmy termasuk lima besar diantara para anggota kelas yang lain, tetapi entah di urutan yang ke berapa. Microfon kini dipegang oleh ustaz Huda yang akan mengumumkan para juara kelas di semester ini.


Tiba saat kelas Azmy disebut, sebelas B. Ternyata nama Azmy menempati urutan kedua di materi eksak dan urutan pertama dalam kelas agama yang biasa disebut kelas mu’adalah. Ammar kebingungan, adiknya tadi bilang kalau ia pergi untuk mencari Ayah terlebih dahulu. Seketika Ammar berdiri dan keluar dari masjid.


“Oiya lupa, hehehe...”


Azmy mendapat dua sertifikat dan sebuah piala. Ia kembali duduk di sebelah kakaknya.

__ADS_1


“Layout sertifikatnya nggak berubah.” Komen Ammar.


“Kalau pialanya?”


“Pialanya Alhamdulillah ada sedikit kemajuan, awalnya itu kecil. Sekarang lumayan tinggi.”


Acara pengambilan rapot telah selesai dan waktu menunjukkan pukul satu siang. Ammar melangkah kembali menuju mobil yang diparkir di dekat gerbang atas pesantren diikuti Azmy yang membawa barang-barangnya.


Sesampainya disana, Ayah sudah menunggu mereka sambil ngobrol dengan rekan kerjanya. Ibu sudah terlihat membawa rapot dan beberapa kertas sedang berjalan menuju mobil.


Jalanan macet, mobil dari arah atas berebut untuk turun. Untungnya, jalan depan pesantren sudah diperluas. Meskipun begitu, kemacetan tidak dapat dihindarkan karena santri pondok pesantren Amanatul Ummah mencapai angka seribu. Tidak jarang juga yang sampai emosi. Sepeda motor saja untuk bergerak sulit, apalagi mobil.


Lima belas menit berlalu. Mobil sedan abu-abu telah meluncur dan terbebas dari kemacetan.

__ADS_1


Rasa kantuk menyerang Ammar, matanya mulai terasa panas dan meminta untuk diistirahatkan. Ia melirik jam tangannya dan memperkirakan kapan ia sampai dirumah. Ia pun mulai memejamkan mata.


__ADS_2