Runtuhnya Pesantren Impian (PINDAH TULIS)

Runtuhnya Pesantren Impian (PINDAH TULIS)
Perempuan itu bernama Icha


__ADS_3

Lelaki itu terbangun, sontak ia melihat ke kanan tempat sumber suara tersebut muncul. Ternyata itu adalah suara perempuan yang awalnya duduk di sebelahnya. Kini, perempuan tersebut sudah tidak ada di tempat duduknya dan berada di tangan seorang pencopet yang menyembunyikan wajahnya dibalik slayer hitam. Pencopet itu hanya menampakkan sedikit matanya saja.


Lelaki tersebut melihat sekelilingnya. Sebagian penumpang enggan untuk menolong perempuan yang tersandera itu, entah karena tidak ada nilai sosial dalam diri mereka, entah mereka takut dengan sebilah pisau yang digunakan pencopet tersebut untuk mengancam perempuan berkerudung merah marun. Sorot mata si pencopet seakan-akan memberi isyarat bahaya pada seseorang yang akan menggagalkan aksinya.


Lelaki berbadan tegap menatap pencopet dengan tatapan amarah. Ia mengatupkan rahangnya, darahnya sudah naik pitam, emosinya mencapai batas maksimal melihat perempuan suci diperlakukan layaknya tidak ada harganya.


“Bukk...” Tendangannya tepat mengenai pinggang kanan si pencopet yang membuatnya jatuh.


Perempuan itu seketika berlari dan berlindung di ujung gerbong.


Pencopet itu sudah berdiri dengan sebilah pisau yang siap digunakan untuk menusuk seseorang yang melawannya. Ia langsung menghempaskan pisaunya ke lelaki berbadan tegap. Berkali-kali ia bisa menghindar hingga pada akhirnya . . .


“Crat...” Darah keluar dari bahi kiri sang lelaki.


Lelaki itu mengerang kesakitan dan segera membalas pisau pencopet dengan pukulan telak di ulu hati. Ia dengan cepat meringkus si pencopet. Ia menghujaninya dengan pukulan bertubi-tubi dengan satu tangan. Pencopet itu sempat bangkit tetapi kecepatan pukulan lelaki itu membuatnya mimisan dan langsung kabur sebelum pintu kereta kembali tertutup.

__ADS_1


Lelaki itu kembali ke tempat duduknya. Ia melihat pencopet itu dihajar para penumpang tanpa ampun. Rasa sakitnya tak bisa mengalahkan keberaniannya untuk menolong wanita yang butuh bantuan itu. Pisau itu ia cabut dari tangannya.


“Mas nggak apa-apa?” Perempuan itu telah duduk di sampingnya seperti semula.


“Nggak apa-apa.” Ucapnya sambil memejamkan mata menahan sakit akibat pisau yang menancap di bahu kirinya


“Biar saya obati dulu.”


Perempuan itu mengeluarkan peralatan P3K dari tas ranselnya. Mula-mula ia membersihkan darah yang menempel di bahu kiri si lelaki yang mengakibatkan perubahan warna pada baju kokonya yang awalnya putih menjadi merah. Bahu kiri lelaki ia balut dengan perban dan mengikatnya dengan rapat berharap darah tidak memancar kembali. Ia bius Ammar dengan anestesi agar tidak ada sakit yang dirasakan Ammar saat ia menjahit nanti. Setelah anestesi bereaksi, barulah ia menjahit luka Ammar perlahan.


Lelaki itu heran. Ternyata ia mengetahui namanya.


“Lho?”


“Maaf sebelumnya. Tadi kartu namamu jatuh saat menendang copet tadi, terus saya ambil.”

__ADS_1


“Nggak apa-apa kok, panggil saja Ammar.”


Ia biasa dipanggil Ammar ketika berada di dalam lingkup desa Cemandi, desa tempat tinggalnya.


 “Nama saya Icha, salam kenal.” Ia menangkupkan tangannya ke dada.


Ammar sedikit malu. Ia jarang sekali berbicara dengan perempuan seperti dia. Pernah juga saat ia sedang diskusi masalah politik dengan seorang perempuan yang juga mempunyai paras seperti Icha, ia begitu grogi sehingga membuatnya ditertawakan oleh lawan diskusinya. Tapi itu dulu, mungkin sekarang ia telah melupakan kejadian tersebut.


“Salam kenal.”


“Ngomong-ngomong, makasih ya.”


“Sudah kewajiban setiap Muslim untuk menolong sesama, Mbak.”


Mereka berdua kembali duduk terdiam hingga Ammar tertidur. Ia begitu kelelahan setelah darah mengalir deras keluar dari tubuhnya ditambah menyelesaikan tugas kuliah yang memaksanya untuk begadang semalaman. Ia merasa tidak tidur sehari semalam. Suara deru kereta tak dapat mengganggu tidurnya. Ia terlelap

__ADS_1


“Tut..tut..tut..” Kereta terus melaju.


__ADS_2