Runtuhnya Pesantren Impian (PINDAH TULIS)

Runtuhnya Pesantren Impian (PINDAH TULIS)
Ayah Kritis


__ADS_3

Beberapa bulan berlalu. Azmy sudah lama kembali ke pesantren. Ammar yang kini masih berkutat dengan kuliahnya di Jakarta, harus berjuang karena sebentar lagi sidang tesis akan dilaksanakan. Ia dapat menyelesaikan tesisnya minggu lalu dan tinggal menunggu waktu persidangan tiba. Hingga hari itu datang, semua berubah.


“Mar, cepat pulang. Sakit ayahmu kambuh lagi.” Ibu berbicara dari telepon dengan iringan tangis yang terdengar jelas.


Air mata Ammar menetes. Ia berada di Jakarta dan sedang mempersiapkan ujian tesisnya yang dilaksanakan sore ini. Hari ini adalah ulang tahun ayahnya. Ia telah menyiapkan kado yang terbaik dan siap ia kirim. Keinginannya untuk mengirim kado tersebut pupus sudah, kalah oleh hasratnya untuk segera pulang ke rumah melihat wajah Ayah tercinta.


“Bagaimana keadaan ayah, Bu?”


“Ayahmu berada di rumah sakit. Napasnya tersenggal-senggal.”


Tanpa pikir panjang, ia segera menghubungi dosen pembimbing tesisnya tentang keadaan Ayah dan meminta izin untuk pulang setelah ujian berlangsung. Ia juga minta agar dosennya dapat mengoordinasi profesor yang akan mengujinya agar datang tepat waktu, kalau bisa lebih dulu.


Pikiran Ammar melayang kemana-mana. Apakah ayah sudah waktunya untuk menghadap Tuhannya? Kenapa harus secepat ini? Tidakkah ia ingin melihat aku berbahagia dengan lulusku dalam ujian ini? Kenapa harus secepat ini?


Ia tidak mau berpikiran aneh-aneh terlebih dahulu, yang ia inginkan hanyalah segera pulang ke Sidoarjo.


Ammar memuka laptop dan mencari tiket pesawat yang paling cepat mengantarkannya menuju bandara Juanda setelah selesai ujian tesis. Tidak peduli berapapun harganya, tetap ia akan beli. Setelah mencari beberapa menit, akhirnya ia berhasil menemukan tiket yang diinginkan.


“Alhamdulillah.” Ucap Ammar dalam hati.

__ADS_1


Dalam hati ia bertekad, ia harus menunjukkan yang terbaik kepada Ayah. Nilainya harus menjadi yang tertinggi dari teman seangkatannya, juga yang tercepat. Keinginannya untuk istirahat pagi itu, ia batalkan. Ia membaca kembali tesis yang sudah ia ketik. Dua hari ini ia tidak tidur untuk mempersiapkan ujiannya dan ini adalah hari ketiga. Ia tidak peduli kondisinya sore nanti saat ujian. Yang terpenting baginya adalah menghadiahkan yang terindah di saat-saat terakhir Ayah.


Wajarnya tiap orang akan memilih untuk beristirahat dan menyegarkan pikiran saat hari yang menegangkan tiba, seperti ujian dan yang lain. Mereka yang sudah mempersiapkan bekal berbulan-bulan lamanya, cenderung tidak terlalu memaksakan saat hari ujian tiba. Berbeda dengan Ammar kali ini, mau tidak mau ia harus memaksa otak agar mendapat hasil yang terbaik meskipun harus menanggung resiko kehilangan fokus karena kurangnya istirahat.


Tidak terasa, waktu sudah menunjukkan pukul dua siang.


Ammar memasuki ruangan sidang setelah melaksanakan salat Ashar. Dengan kantung mata yang masih menggantung, ia menyatakan siap untuk presentasi dan menjawab setiap pertanyaan yang diajukan.


Dua jam berlalu. Dua jam pula dia selesai mempresentasikan semua yang ada di pikirannya. Kini yang tersisa hanya sesi pertanyaan.


Ammar tidak perlu berpikir keras untuk menjawab pertanyaan tersebut karena memang tesis yang ditulisnya seputar pesantren milik ayahnya. Penelitiannya adalah kehidupannya sehari-hari di rumah. Apapun yang ia amati dari santri dan pesantren ayahnya, itulah yang ia tuangkan dalam tesisnya.


“Saya minta doa untuk kesembuhan ayah saya yang sedang kritis. Sekian dan terima kasih.” Tutup Ammar dengan mata berkaca-kaca.


Cumlaude dengan IPK 3,98, itulah nilai yang ia dapat. Ammar bisa saja mendapat IPK maksimal tanpa celah, tapi hal tersebut cenderung tidak disukainya karena dapat membuatnya lalai akan kekurangannya sendiri. Di sisi lain, ibu masih menunggu hasil pemeriksaan dokter. Dokter keluar dengan wajah yang murung menandakan ada sebuah kabar buruk.


“Maaf, Bu. Pak Wahyu harus segera dioperasi.”


Bu Ani kaget, ia berusaha tegar ketika mendengar ucapan dokter barusan.

__ADS_1


“Saya boleh masuk, Dok?”


“Silahkan, saya tinggal dulu, Bu. Operasinya satu jam lagi.”


“Baik, Dok.”


Bu Ani melihat suaminya dengan mata berkaca-kaca. Ayah tersenyum melihat ibu yang masuk ke ruangan ayah seakan-akan rasa sakit yang diderita ayah hilang seketika.


“Bu, kenapa sampai kayak gini kondisiku?”


“Sabar, Yah. Mungkin ini sebuah cobaan dari Tuhan.”


“Bu, jika umurku hanya sampai hari ini, maafkan aku, ya. Jika aku punya salah, ngerepoti juga.”


“Sudah, Yah. Jangan ngomong seperti itu. Jangan mikir yang aneh-aneh. Tawakkal saja kepada Allah. Semoga sakit Ayah cepat hilang.” Ibu tidak kuat menaha tangisnya. Air matanya tumpah di telapak tangan ayah. Ibu terus mengelus rambut Ayah yang mulai putih.


Ibu tidak kuat menatap wajah ayah semakin lama, lelaki yang menemani hidupnya selama dua puluh delapan tahun itu tak nampak ceria. Kini ayah tak berdaya. Wajah ayah yang selalu ceria dan penuh wibawa, sekarang berganti murung dan sangat pucat. Dari sini nampak bahwa ayah selalu menyembunyikan beban hidupnya agar tak merisaukan orang di sekelilingnya.


Semenjak ayah sakit, ibu tidak pernah keluar dari rumah, menjaga Sang Kepala Keluarga, menjaga belahan hatiya. Pagi, siang, dan malam.

__ADS_1


Icha juga sering berkunjung ke Sidoarjo. Dibalik panggilan kerja setelah lulus dari fakultas kedokteran, ia selalu siap untuk mengurus orang tua sahabat karib adiknya di pesantren. Ia telah menyelesaikan kuliah kedokterannya satu bulan lalu dan tinggal menunggu wisuda. Demikian juga pakde Ghofur dan nenek yang bergantian menjaga ayah.


Sore itu hujan deras. Jam setengah lima lebih sepuluh menit. Ruangan ayah kini sepi. Hanya tinggal ibu, nenek, ayah, dan icha. Icha ingin mengamalkan apa yang telah ia pelajari selama hampir empat tahun lebih di Jakarta.


__ADS_2