Runtuhnya Pesantren Impian (PINDAH TULIS)

Runtuhnya Pesantren Impian (PINDAH TULIS)
Ammar dan Banjir Ka'bah


__ADS_3

Penumpang gerbong empat siap keluar dari kereta. Barang-barang mereka sudah tertata rapi, tetapi tidak dengan Ammar. Ia masih tertidur pulas. Ia terlihat paling tenang diantara penumpang lain di gerbong empat. Barang-barangnya sudah ia tata rapi sebelum tidur. Ia tidak mengeluarkan apapun dari dalam ranselnya.


Icha memandang Ammar lekat hingga kereta berhenti. Penumpang berhamburan turun dari kereta. Ammar terbangun, ia mengambil barangnya dan bergegas turun.


“Sekali lagi, terima kasih ya sudah menolong. Kalo nggak ada kamu, entah diapakan aku sama copet tadi.” Suara seorang perempuan mengagetkan Ammar, ia seketika menoleh kebelakang.


“Sama-sama.”


“Aku merasa berhutang budi jadinya.” Ucap Icha dengan wajah cemasnya


“Eh, eh, nggak usah berlebihan. Aku ikhlas kok nolongnya.” Ammar tersipu malu melihat wajah imut Icha. Pipinya memerah.


“Makasih ...”


Mereka berdua berjalan bersama keluar stasiun. Padahal baru kenal tetapi sudah akrab. Ammar ingat kalau ia belum salat duhur dan asar. Ia pamit pada Icha untuk pergi ke musalla terdekat.


“Saya ke musalla dulu.”


“Oh ya .. Saya juga mau pamit.”


Ammar melangkah ke kamar mandi musalla dan berwudhu disana. Ia membersihkan sisa darah yang masih tersisa setelah bahu kirinya diperban. Rasa perih seketika kembali ketika air menyentuh perban di bahu kirinya. Untungnya, darah itu sudah berhenti. Darah yang mengakibatkan perubahan warna pada baju koko putihnya.

__ADS_1


Ia berganti pakaian kemudian salat.


Setelah salat, ia berjalan menuju jalan raya untuk mencari angkutan umum yang bisa membawanya ke Sidoarjo. Ia berjalan dan terus berjalan hingga ada seseorang memanggilnya.


“Maaaarr....” Teriak lelaki dekat jalan raya sambil melambaikan tangan.


Ammar menoleh ke sumber suara. Terlihat seorang lelaki sedang duduk di warung sambil memegang segelas kopi yang masih mengepulkan asap. Dari suaranya, postur tubuh, warna kulit, sampai pakaian yang dipakainya membuat Ammar tidak sulit untuk mengenalinya. Lelaki itu adalah pakdenya.


Ammar berjalan menuju warung tersebut


“Pakde..”Ia menyalami pakdenya.


“Minum dulu, pasti kamu haus.”


“Tanganmu kenapa, Mar?” Tanya Pakdenya penasaran.


“Hanya kecelakaan kecil saja di kereta tadi, Pakde.”


Tak terasa, segelas es teh yang dibawanya sudah habis. Mereka berdua segera pergi menuju motor Supra desain lama yang terparkir di sebelah warung.


“Ayah dan Ibumu sudah menunggu di rumah.”

__ADS_1


Ammar kaget. Ayah dan Ibunya mengetahui kalau ia akan pulang hari ini. Padahal ia kemarin mengirim pesan pada Ibunya kalau pulangnya masih tiga hari lagi.


“Siapa yang memberitahu Ibu, Pakde?”


“Entah. Tiba-tiba pakde disuruh njemput kamu, mumpung pakde habis reunian di Surabaya.”


Ammar dan pakdenya sama-sama menyukai sejarah Islam. Setiap mereka bertemu hingga berdiskusi, tema yang dibahas tak pernah jauh dari sejarah. Tak jarang pula mereka sampai berdebat sengit dalam menentukan versi siapa yang paling benar. Kitab, manuskrip, sejarahwan, semua mereka sebutkan demi memperkuat pendapat masing-masing.


“Rasulullah meskipun umurnya masih sangat muda, sudah bisa menjadi teladan bagi orang-orang yang lebih tua. Bahkan, beliau sudah mendapat gelar kehormatan dari para pemimpin suku saat itu.” Pakde membuka pembicaraan dengan kisah Rasulullah.


Ammar menyimak. Imajinasinya seakan memutar kembali kejadian empat belas abad silam.


Saat itu, di Makkah terjadi banjir bandang, tepatnya di sekitar Ka’bah. Banyak bangunan di sekitar Ka’bah yang rusak karena derasnya arus. Meskipun Jazirah Arab termasuk daerah padang pasir, tidak menuntut kemungkinan jika Allah telah menghendaki banjir di sana.


Setelah banjir, orang-orang Makkah bergotong royong untuk membersihkan sampah yang berserakan di sekitar Ka’bah hingga akhirnya mereka menemukan Hajar Aswad yang berpindah dari tempatnya semula. Pindahnya batu tersebut sempat menimbulkan adu mulut antara kepala suku yang ikut serta membersihkan Masjidil Haram. Itu salah satu peristiwa yang sulit untuk dilupakan umat Muslim bahkan sampai diabadikan dalam buku-buku sejarah yang diperuntukkan untuk Murid sekolah dasar hingga Aliyah.


Adanya adu mulut tidak lain dan tidak bukan disebabkan oleh keinginan setiap suku yang sama-sama ingin meletakkan Hajar Aswad ke tempatnya kembali. Tak lama kemudian, Rasulullah datang dan bisa menyelesaikan adu mulut antar kepala suku tersebut.


Rasulullah memberi solusi yang tepat agar permasalahan siapa yang berhak meletakkan Hajar Aswad selesai tanpa adanya pertumpahan darah antar sesama orang Arab.Beliau datang dan membentangkan seutas kain dimana masing-masing kepala suku dipersilahkan memegang ujung-ujung kain itu.


Ketika seluruh kepala suku sudah memegang kain tersebut, Rasulullah memberi komando kepada para kepala suku untuk mengangkat kain. Beliau mengangkat Hajar Aswad ke tengah kain dan mereka membawanya mendekati Ka’bah.

__ADS_1


Sesampainya di dekat Ka’bah, beliau mengangkat kembali Hajar Aswad dan meletakkannya di tempatnya semula, yaitu di pinggiran Ka’bah.


Sejak saat itulah beliau terkenal dengan julukan al-Amin yang berarti orang yang dapat dipercaya. Di usia yang tergolong muda dan dengan otak beliau yang cerdas serta sifat arif bijaksana yang ada pada diri beliau membuat beliau dijadikan sebagai panutan para kepala suku dan warga Makkah.


__ADS_2