
“Ammar langsung mengajak warga buat ke musalla aja, ini biar kami yang mengkafani.”
Pakde Ghofur datang dengan membawa keranda. Ammar sudah berjalan ke musalla dekat rumahnya diikuti beberapa tetangga. Kini tubuh ramping Azmy nampak bersih setelah dimandikan.
Beberapa menit berlalu, jenazah Azmy telah selesai dimandikan dan dikafani. Tiba waktunya untuk menyalatinya. Ammar sendiri yang menjadi imam dalam salat jenazah tersebut.
Ammar berjalan memasuki musalla kecil itu. Yang pertama kali ia rasakan adalah bau kasturi yang menyeruak, menyebar ke seluruh penjuru musalla. Tidak hanya itu, udara langsung berubah dingin dan sejuk begitu kedua kakinya melewati pintu utama musalla.
Ketika salat, ada kejadian menakjubkan. Musalla yang cukup untuk sekitar seratus orang lebih, terasa sesak dan dipadati oleh jamaah yang ingin salat jenazah. Yang lebih aneh lagi, tetangga dan kerabat yang hadir hanya sekitar empat puluh orang. Nampak sekali jika yang hadir bukan hanya penduduk bumi, melainkan beberapa utusan penduduk langit pula.
Usai salat, pemakaman akan langsung disegerakan karena waktu yang terbatas.
“Ibu pingin liat wajah adikmu yang terakhir, Nak.”
Ammar tidak tahu apa yang hendak ia lakukan untuk menanggapi keinginan ibunya. Ia tidak bisa menolak apa yang diinginkan ibunya selama itu baik baginya.
Keranda pun dibuka. Ibu menciumi dahi Azmy dengan penuh cinta dan kasih sayang. Ibu mencium Azmy dengan penuh perasaan. Hampir saja air mata ibu menetes di wajah Azmy yang bersih jika saja Ammar tidak segera menghapusnya.
“Ibu udah bu, kasihan Azmy kalau terus ditangisi. Air mata ibu pasti membuat Azmy bersedih di akhirat sana.”
Ibu memeluk Azmy kuat-kuat. Mata ibu terus memandangi wajah putih nan bersih itu. Ammar bisa melihat jelas perasaan ibu jika ia belum siap berpisah dengan anak bungsunya. Mental yang belum bangkit setelah ditinggal suami tercinta, harus kembali runtuh dengan kepergian Azmy yang tiba-tiba.
__ADS_1
Jenazah pun diberangkatkan menuju kuburan. Di kuburan sudah ada beberapa orang yang menunggu kedatangan Azmy. Ammar turun bersama dua orang lain ke dalam liang lahat. Jenazah Azmy ikut diturunkan ke liang lahat setelahnya.
Mata Ammar berkaca-kaca, ia berusaha sekuat tenaga agar air matanya tidak keluar sekarang. Kesabarannya yang telah ia usahakan dikalahkan oleh perasaan sedih dalam hatinya yang membuncah ketika melihat wajah adiknya. Air matanya hampir menetes. Ia meneguhkan dirinya agar liang kubur adiknya bersih dari air mata ratapan seorang hamba yang hampa.
Azmy telah tenang di alam sana. Tanah yang telah diangkat kembali diuruk. Batu nisan ditancapkan. Bunga-bunga ditaburkan. Doa dikumandangkan. Semua orang yang hadir di sana khusyuk mengamini doa mudin, utamanya Ammar dan ibunya. Satu per satu pelayat meninggalkan pemakaman. Isak tangis mengiringi kepergian keluarga yang bersangkutan.
Malam Jumat ini tak kalah menyedihkannya dibandingkan malam Jumat kemarin. Kini malam tersebut meninggalkan Ammar dalam kesendiriannya. Dalam kesedihan yang selalu mencekam perasaan.
Azmy meninggal di usianya yang menginjak angka tujuh belas. Ia masih tergolong muda untuk ukuran seorang pemuda ketika meninggalkan dunia fana ini. Usianya termasuk usia subur untuk menuntut ilmu, utamanya ilmu agama. Semua itu adalah rahasia Allah semata yang hanya diketahui oleh-Nya.
Semakin tinggi suatu pohon, maka semakin kencang angin yang menerpa. Pepatah itu sering kita dengar di teling kita. Tinggi suatu pohon dapat diibaratkan sebagai tingkat keimanan dan ketakwaan seseorang, sedangkan angin yang menerpa adalah cobaan yang diberikan Allah kepada seseorang sesuai dengan tingkat iman dan takwanya.
Itu pula yang dialami Ammar dan keluarganya. Begitu dahsyat ujian yang diberikan Allah kepadanya dan ibunya dengan kematian dua orang yang paling disayangi mereka. Ammar tetap berserah diri kepada Allah dengan semua keputusan-Nya yang terbaik sementara ibu terus bersabar meskipun air matanya terus mengalir membasahi pipinya hingga menetes ke tanah.
Laksana sebuah pohon, itulah yang mungkin dihadapi Ammar dan ibunya sekarang. Berawal dari satu akar, tumbuhlah batang kecil. Dari batang itulah cabang dan ranting terlahir, kemudian membentuk suatu pola agar pohon itu nampak indah.
Jikalau pohon yang tinggi itu sanggup menahan guncangan angin yang dahsyat, maka ia akan terus hidup dan tumbuh menjadi pohon yang semakin tinggi. Tentunya angin yang menerpanya kemudian lebih hebat dan kencang dibandingkan angin yang menerpanya sebelumnya. Jikalau pohon tersebut tidak kuat menahan guncangan angin yang dahsyat itu, niscaya ia akan roboh dan mati.
Ibnu Athaillah dalam kitab Al-Hikam menyatakan : Robba ‘umrin ittasa’at amaduhu wa qollat amdaduhu, wa robba ‘umrin qolilatin amaduhu katsirotin amdaduhu! Yang artinya ; Adakalanya umur itu panjang masanya tetapi sedikit manfaatnya, dan adakalanya umur itu pendek masanya tetapi banyak manfaatnya.
Banyak orang yang menyatakan jika golongan pertama adalah orang yang sering mengumbar hawa nafsunya. Walaupun kelihatannya ia memiliki umur yang panjang, tetapi hakikatnya adalah pendek. Sementara untuk golongan yang kedua yaitu orang yang senantiasa berdzikir kepada Allah. Yang selalu mengingat-Nya di setiap waktu.
__ADS_1
Allah sengaja menyiapkan usia yang sedikit kepada hamba-Nya yang selalu beriman dan bertakwa kepada-Nya. Hal itu karena Allah tidak membiarkan hamba kesayangan-Nya tercebur ke dalam jurang maksiat yang dalam. Oleh karena itu, Allah memberinya umur yang sedikit yang mana umur tersebut ia gunakan senantiasa untuk beribadah kepada-Nya.
Rahasia lain di mana Allah menganugerahkan umur yang panjang pada seorang ahli maksiat, tidak lain dan tidak bukan adalah untuk memberinya tenggang waktu untuk bertaubat. Pintu taubat seorang hamba selalu terbuka selama ruh belum mencapai tenggorokan hingga ubun-ubun kepala.
Sebesar apapun dosa seorang hamba kepada Tuhannya, pasti akan diampuni-Nya kecuali as-syirku billah, beribadah selain-Nya. Itu terjadi karena Allah adalah Maha Pengampun. Dia adalah Maha Pemberi Kasih Sayang kepada seluruh makhluk.
Ibu tertidur setelah beberapa lama dihibur oleh Ammar dengan kata-kata yang menyejukkan hati. Matanya terlihat sedikit membengkak karena air mata yang dikeluarkan sangatlah banyak. Pun tangan ibu juga terlalu capek melayani mata yang tak kunjung usai bersedih.
Ammar hanya bisa pasrah kehendak Tuhan. Berapa banyak cobaan, berapa banyak rintangan, berapa banyak pula kesedihan, itu semua pasti rencana Tuhan. Ia tak berhak mengatur.
Pakde Ghofur, lek Ipul, dan pak Salam masih duduk-duduk di depan rumah. Tak lama, Ammar keluar ikut mendampingi mereka.
“Biasanya orang yang baru meninggal suka mampir kembali melihat kondisi keluarga sesaat setelah ia pergi.” Ucap Ammar dengan wajah penuh kesedihan.
“Aku ingat ucapan ayahmu dulu jika orang yang baru meninggal selalu menjenguk keluarganya kembali selama tujuh hari pasca dikuburkan.”
Ammar menatap langit, berharap bintang di atas sana dapat menyampaikan salam permintaan maaf untuk adiknya yang terakhir kali. Belum sempat ia memberi kebahagiaan yang lebih untuk Azmy, Tuhan berkata lain.
Udara malam Jumat kali ini benar-benar sejuk. Dedaunan di depan rumah melambai-lambai ria terkena angin. Berbeda dengan pohon Anggrek dan Kamboja di bawah jendela kamar Azmy, mereka nampak lesu dan menunduk, pun bunganya tidak lagi harum. Ammar berjalan ke sana mengelus tiap bunga yang hampir layu dan berbisik lembut,
“Azmy memang sangat baik ya, sampai-sampai kalian pun ikut sedih.”
__ADS_1
Bunga itu bergerak tertiup angin, mengelus lembut punggung tangan Ammar. Mereka seolah-olah membalas,
“Karena Azmy kami disini, karena dia pula kami bahagia dan memekar indah.”