Runtuhnya Pesantren Impian (PINDAH TULIS)

Runtuhnya Pesantren Impian (PINDAH TULIS)
Pingin Soto


__ADS_3

“Lihat . . . Ada pesawat.” Teriakan Azmy membubarkan halusinasi Ammar tentang masa lalu mereka berdua. Memang masa lalu yang indah dalam kebersamaan.


Kakak beradik yang sudah memasuki masa remaja dan dewasa itu saling bertatap muka. Mereka seolah-olah ingin menyampaikan sesuatu tetapi lidah mereka seakan-akan tertahan sampai Ammar dapat membuka mulutnya.


“Pemandangan disini indah sekali, tidak berubah dan masih sama dengan sepuluh tahun yang lalu. Semuanya masih asri, tanpa adanya polusi. Seger banget.”


Ammar menunjuk ke salah satu rumah di ujung sawah, "Masih ingat rumah itu?"


"Inget sih, dulu kan sering main petak umpet disana."


Ammar tersenyum.


"Eh iya mas, aku masih penasaran kenapa rumah itu dibiarkan di persawahan kayak gini? Kenapa harus disini padahal nggak ada rumah lagi selain itu?"


“Gini, My, rumah itu dulunya adalah milik seorang Belanda. Kini rumah itu sudah tidak berpenghuni. Meskipun begitu, rumah tersebut masih berdiri kokoh sampai sekarang. Konon, rumah itu angker karena sudah tidak ditempati selama puluhan tahun.”

__ADS_1


Kedua kakak beradik itu memandangi rumah itu lekat-lekat. Rumah itu sangat megah dengan cat putih yang mendominasi disertai halaman yang luas tetapi tidak terurus. Temboknya banyak yang retak. Tidak sedikit dari fondasi rumah tersebut yang dimakan rayap. Anehnya, rumah itu masih berdiri kokoh tanpa ada satupun yang runtuh di dalamnya.


“Iya, rumah orang Belanda itu tetap terlihat mewah tetapi rumputnya telah memanjang.”


Meskipun Ammar berada di Jakarta dan Azmy berada di Pacet, mereka berdua tidak pernah melupakan kenangan indah yang terlanjur melekat di memorial otak mereka. Pemandangan itu seakan-akan seperti sebuah slide foto yang mana mereka hanya mengatur otak mereka masing-masing untuk menampilkan potret sepuluh tahun yang lalu.


Begitu damainya suasana saat itu. Masa kanak-kanak yang penuh dengan permainan dan keceriaan. Layang-layang yang hanya terbuat dari rotan yang sudah dipola kemudian dibungkus dengan kertas warna-warni pun dapat menjadi hal yang sangat menarik bagi mereka. Hal tersebut menjadi hiburan tersendiri ketika rasa susah menyerang.


Berbeda dengan zaman sekarang yang semua serba canggih. Layang-layang, kelereng, dan permainan masa lalu yang lain perlahan-lahan terkikis oleh gadget, smartphone, laptop, dan alat modern abad dua puluh lainnya.


Kini, semua itu tinggal kenangan. Benda-benda masa kecil Ammar dan adiknya hanya berfungsi sebagai hiasan di gudang. Mulai dari kelereng yang ditaruh di botol, benang layang-layang yang dikumpulkan dalam satu wadah, hingga beberapa barang-barang yang biasa mereka berdua gunakan untuk menghilangkan kesedihan mereka.


Ammar dan Azmy segera melangkahkan kaki kembali ke rumah. Dedaunan yang melambai mencoba mengoper angin agar dapat menyentuh baju mereka yang basah oleh keringat sehabis lari pagi. Peluh Azmy menetes ke tanah dan ia terlihat capek namun tetap memaksa staminanya.


"Habis ini makan banyak enak kayaknya." Celetuk Ammar.

__ADS_1


"Wah, aku pingin soto di deket pertigaan sana."


"Oke, ntar abis ngeringin keringat di rumah langsung berangkat ke sana."


"Siap."


Benar sekali dugaan Ammar, hari ini ada jadwal tentara yang berlatih di sekitar sawah. Untungnya mereka sudah keluar dari komplek persawahan TNI itu. Coba tidak, mereka entah dihukum push up sampai puluhan kali, tidak jarang sampai ratusan.


Azmy tertawa melihat ada beberapa temannya yang belum sempat meloncat dan harus kena teriakan tentara karena melanggar aturan. Ammar tetap asyik berlari sambil memandangi burung-burung berkicau di setiap ranting yang mereka lewati.


Lima belas menit berlalu, mereka sudah siap dan berganti kaos karena basah oleh keringat.


"Kita nyoba soto yang di deket pom bensin sana aja."


Ammar mengangguk, menyetujui permintaan adiknya.

__ADS_1


Sesegar angin pagi perdesaan, begitu juga pikiran mereka berdua. Fresh, segar, tanpa adanya beban pikiran. Saat-saat kritis sudah mereka lalui bersama keluarga. Kini, tinggal memetik kebahagiaan yang dihasilkan dari peristiwa tersebut.


Motor melaju, kini Azmy yang menyetir karena tidak melewati jalan raya antar kota. Angin pagi daerah persawahan memijat manja setiap padi yang sedang berbuah. Hama padi yang biasanya mengganggu, kini ikut bergoyang bersama menikmati udara pagi nan segar di perdesaan ini. Semua ceria, begitupula kakak beradik itu.


__ADS_2