Runtuhnya Pesantren Impian (PINDAH TULIS)

Runtuhnya Pesantren Impian (PINDAH TULIS)
SMS Mengejutkan


__ADS_3

Ammar bangun dan berganti pakaian. Ia sudah mandi sejak pukul tiga tadi. Sehabis salat Subuh, ia kembali mencari referensi sejenak hingga Ayahnya memanggil,


“Ayo berangkat.”


Ammar berangkat menuju pesantren Azmy. Kaos bola dan celana pramuka adalah pakaian yang sering dipakainya ketika berangkat menuju pesantren. Tak lupa kopyah putih dan sandal jepit kumal melengkapi pakaian kesederhanaannya. Sebaliknya, ayahnya memakai baju koko dengan celana hitam rapid dan ibunya menggunakan satu set gamis tampak anggun.


Perjalanan kira-kira menempuh waktu dua jam. Letak pondok Azmy berada di kaki sebuah gunung, tepatnya gunung Welirang di kecamatan Pacet dan dikelilingi pepohonan yang rindang. Ammar yang merupakan alumni tak pernah bosan untuk menikmati suasana sekitar pesantren. Bahkan kalau mungkin, ia ingin tiap bulan sekali datang kesana.


HP Ammar berdering, ada SMS masuk.


“ini nomornya Ammar ya?”


“Maaf, siapa ya?”


“Ini Icha, yang di kereta kemarin.”


Ammar kaget, darimana Icha tau nomornya. Ia termasuk orang yang jarang sekali memberikan nomor pada orang lain, meskipun itu teman seangkatannya sendiri.


“Dapet nomorku dari mana, Cha?”

__ADS_1


“Maaf ya sebelumnya, kemarin pas kartu namamu jatuh aku nyatet nomormu.”


“Wah, kesempatan dalam kesempitan.”


“Hehehe, Notebookmu juga kemarin ketinggalan, sekarang masih kubawa.”


Ia teringat jika sebelum tidur ia sempat membaca ulang apa yang dicatat profesor padanya. Yang membuatnya lebih khawatir lagi, Icha membuka beberapa penggalan puisi yang ia tulis ketika senggang. Dilihat teman sekamarnya aja malu, apalagi seorang perempuan.


“Nitip dulu.. Tolong jangan dibaca isinya”


“Nggak, santai aja. Aku nggak bakal buka tanpa seizin pemiliknya.”


 “Okedeh.”


Ammar bersyukur tidak seorang pun tau isi dari notebook miliknya itu, bahkan teman-teman akrabnya juga tak tau. Kalaupun missal ada seorang yang mengetahui isi notebooknya, Ammar pasti akan sangat malu karena puisi yang ditulisnya rata-rata menggunakan bahasa alay yang tak sesuai dengan tabiatnya sehari-hari.


Mentari mulai menyapa dunia, senyum hangatnya menemani sedan putih yang sedang melaju agak cepat. Mobil berbelok ke sebuah rumah makan yang tampak sederhana tetapi bernuansa seperti tahun 80-an. Dinding kayu yang terlihat tua, ornament yang terkesan kuno, serta desain jadul yang diterapkan membuat para pengunjung seakan nostalgia dengan suasana yang disuguhkan. Ammar tersenyum sendiri membayangkan masa-masa kecilnya. Masa-masa dimana ia hanya tahu tentang bermain dan bercanda tanpa ada beban hidup sedikitpun.


“Silahkan dipilih mau pesan apa.”

__ADS_1


Suara seorang pelayan berkulit kecoklatan dengan wajah yang ramah. Pakaiannya sesuai dengan tema yang ada di rumah makan ini, pakaian era 80-an. Menu makanannya bervariasi, mulai dari tahun 80-an hingga makanan modern cepat saji yang umumnya beredar di kota-kota besar Indonesia.


Tak lama menunggu, makanan dan minuman yang dipesan sudah datang. Ibu memesan pecel lele, ayah wader goreng, dan Ammar memesan gurami bakar. Untuk minumnya, merka sepakat untuk menikmati teh hangat sembari dinaungi hangatnya sinar mentari pagi. Usai makan, mereka melanjutkan perjalanan menuju pesantren.


Ammar mulai mengantuk. Tidurnya malam tadi tidak nyenyak sama sekali. Pikirannya seperti terbebani dengan suatu tanggungan. Ia memutuskan untuk tidur.


Belum sempat ia memejamkan mata, Hpnya kembali berbunyi. Kali ini dari Didin, temannya sejak kecil.


“Woi pulang kapan? Gapernah kau ngabari aku kalau pulang.”


“Kemarin, Boy. Sekarang masih perjalanan ke pesantren.”


“Ohh..Oke .. Kalau sudah siap mengajar lagi, kabari aku, nanti kusampaikan pada anak-anak musalla.”


“Oke, Din.”


Didin, teman kecil sekaligus rekan mengajarnya di musalla selalu menantikan kepulangannya dari Jakarta. Tidak hanya dia, anak-anak yang mengaji pun tak henti-hentinya bertanya tentang kepulangan dirinya. Ammar membayangkan perubahan di wajah anak-anak desa itu setelah enam bulan lamanya. Sesekali ia tersenyum sendiri.


Ammar memejamkan matanya kemudian larut dalam mimpi-mimpinya.

__ADS_1


Dedaunan pagi berjatuhan di pinggir jalan menanjak daerah pegunungan ini. Hijau pepohonan memanjakan mata setiap orang memandang. Kabut tipis akibat hujan tadi malam ikut menghiasi pagi yang cerah nan indah ini.


__ADS_2