
Begitu selesai membaca pesan dari Pak David, Ammar segera memberitahu ibunya kabar gembira tentang beasiswa Leiden itu. Ia segera melangkahkan kaki menuju dapur tempat ibu sedang memasak sarapan.
“Bu, aku dapat beasiswa.”
“Wah, beasiswa apa?” Ibu tak memalingkan muka dari tempe yang berendam.
Ammar ragu untuk menyampaikan. Ia berpikir ulang. Ketika beasiswa ini diambilnya, maka ibu akan tinggal sendirian di rumah. Sungguh sedih jikalau melihat ibu kandung hidup sebatang kara tanpa ada yang menemani. Terlebih, ibu sudah memasuki usia kepala lima.
Ammar memberanikan diri untuk menyampaikan perihal beasiswa tersebut kepada ibu. Ia berharap jika ibunya dapat memahami keinginannya untuk melanjutkan studi di luar negeri jika ada kesempatan. Tak ada satu pun kalimat yang terlewat, semua sudah disampaikan.
“Menuntut ilmu itu bagus banget, ibu bakal terus mendukung. Toh udah diperintah di al-Quran maupun hadits, mana mungkin ibu ngelarang.”
Ammar tampak antusias mendengar jawaban ibu.
“Tapi banyak juga hadits tentang birrul walidain, tentang berbuat baik pada orang tua, apalagi untuk seorang ibu. Sekali lagi ibu nggak pernah ngelarang keinginan kamu, Nak, malahan ibu mendukung dan selalu mendoakan. Tapi, rumah ini bakal kelihatan lebih longgar lagi ketika beasiswa itu kamu ambil.”
Ammar terdiam sejenak, berpikir bahwa semua yang dikatakan ibu adalah kenyataan. Jika ia harus pergi untuk mengambil beasiswa itu, otomatis ibu akan sendiri di rumah. Tapi kan ada Galih? Ada Sinta juga yang bisa ikut kesini?
Kasih ibu itu luas. Seluas-luasnya kasih ibu pada semua yang diasuhnya, entah itu anak tiri, santriwati ayah yang sekarang diasuh ibu, anak-anak TPQ yang dibimbingnya, tetap saja kasih sayang terbesar adalah untuk anak kandungnya, darah dagingnya.
“Belanda bagus banget kok sejarahnya, cocok buat kamu. Apalagi literatur Jawa kuno yang tersimpan rapi beserta naskah aslinya.”
Dugaan Ammar benar, ibu pasti tidak merestui kepergiannya. Ibu menolaknya dengan halus. Ibu tidak mau menyakiti hati Ammar. Bahasa yang digunakan ibu untuk menolak permintaan Ammar sangat menyentuh hati. Ammar sadar jika memang itulah kehendak Ilahi. Ia harus menerima dengan lapang dada. Ia tidak ingin menjadi anak yang durhaka kepada orang tua. Ia hanya diam.
“Terus berpikir ilmu itu baik, tapi apa pernah Ammar mikir tentang menikah?”
Ammar kaget, pertanyaan yang menyerupai sindiran itu sangat membekas dalam hatinya. Mungkin benar kata ibu, ini memang waktunya untuk mencari separuh imannya yang masih semu. Tapi siapa? Ia terus menunduk. Merenungi apa yang dikatakan ibu barusan.
Saat itulah Ammar memahami jika mendengar adalah kebutuhan yang lebih mendasar daripada melihat dan menjawab dalam puasa yang begitu panjang. Karena itulah, beban seorang tunarungu jauh lebih berat daripada beban seorang tunanetra dan tunawicara. Sebab, suara dan kata-kata adalah unsur yang akan memberikan kehangantan pada manusia.
__ADS_1
“Dengar, Le. Ibu ikhlas kamu untuk pergi ke Belanda, tapi ibu minta satu hal. Ibu pingin lihat kamu di atas pelaminan, tersenyum bahagia dengan calonmu kelak. Toh nanti kalau kamu jadi ke Belanda, ibu juga ada teman di rumah.”
Ammar diam, ia rela dengan segalanya. Ia rela karena dibalik itu semua ada takdir Ilahi. Kalaulah memang pesan dari titah takdir ini adalah untuk mencari separuh iman yang belum kunjung datang, lalu untuk apa ia harus mengadukan pertanyaan?
Untuk apa Ammar harus memaksa orang yang memang telah dititahkan untuk melarangnya seperti ini?
Apakah Ammar patah hati? Marah?
Mengapa tidak?
Namun, kehidupan ini menyimpan saat-saat yang sedemikian rupa hingga hati yang retak dan kesedihan yang mendalam pun hilang dalam seketika karenanya.
Saat ini bukanlah saat yang tepat untuk berdebat dan mempertanyakannya. Terlebih lagi Ammar sudah menjadi seorang yatim yang masih memiliki seorang ibu sehingga segalanya bukanlah untuk dirinya semata, melainkan untuk kebahagiaan ibunya. Hal itulah yang terpenting.
“Kamu tidak perlu tergesa-gesa untuk menentukan pilihanmu. Ibu juga tidak memaksamu untuk segera memilih. Sebenarnya, ibu sudah punya satu nama yang cocok. Semua terserah Ammar. Ibu memberi kebebasan untuk mencari yang kamu sukai. Kamu yang menentukan. Ibu hanya ingin yang terbaik untukmu.” Ibu seolah-olah mengetahui apa yang ada dalam pikiran Ammar.
Ammar segera kembali ke kamar dan mengambil ponselnya. Ia mencari nomor Pak David dalam kontak teleponnya.
“Assalamu’alaikum, Pak.”
“Wa’alaikumsalam.”
“Mohon maaf,Pak. Saya pribadi tidak dapat menerima tawaran yang tidak memungkinkan untuk datang dua kali ini. Saya masih punya seorang ibu yang membutuhkan keberadaaan saya di sini. Bagi saya, kebahagiaan ibu adalah hal yang mutlak, tidak dapat digantikan dengan yang lainnya.”
“Keputusan yang berat ya, Mar. Kalau saya jadi kamu, pasti milih untuk bersama ibu di masa-masa tua beliau. Gimana lagi, saya hanya mendoakan yang terbaik saja buat kamu.”
“Sekali lagi saya minta maaf, Pak.”
“Ngapain meminta maaf kalau keputusan yang kamu buat adalah yang terbaik?”
__ADS_1
Ammar hanya diam di seberang telepon Pak David.
“Sekolah itu baik, tapi mengabdikan diri untuk seorang ibu adalah yang terbaik. Kuliahmu bisa dilanjut kapanpun dan dimanapun, tapi apakah bakti pada ibu bisa ditunda? Tidak. Selagi ada waktu bersama ibumu, gunakanlah sebaik mungkin, Mar.”
“Enggeh, Pak. Saya juga awalnya mikir gitu. Pas ngungkapin ke ibu perihal beasiswa ini, eh ibu jawabnya gitu. Sindiran halus banget.”
“Pesan saya hanya satu, Teruslah mengabdi kepada ibumu. Jangan pernah kau menyakiti hatinya. Buatlah ia bahagia di masa tuanya. Kebahagiaan itu bisa menjadi jaminan kebahagiaanmu di dunia dan bekalmu di akhirat kelak. Utamanya ibu, Rasulullah menyuruh umatnya untuk mengabdi kepada ibu tiga kali terlebih dahulu kemudian ayah. Itu berarti tanda seberapa pentingnya peran ibu dalam dunia ini.”
“Makasih, Pak. Nasehat Bapak sangat mengenang untuk saya. Semoga Bapak selalu diberkahi oleh Allah dan dimudahkan segala urusan Bapak, terutama dalam penelitian Bapak.”
Pak David mengamini dalam hati.
Setelah beruluk salam, Ammar menutup telepon dari Pak David. Nasehat dari dosen pembimbingnya itu ia tancapkan kuat-kuat dalam hatinya. Mengalir seperti minyak yang melumasi bagian yang dilaluinya. Menggerakkan hatinya yang kaku agar senantiasa licin untuk melakukan hal yang baik serta diridhoi Allah. Memacu dirinya untuk terus menebar benih-benih kebaikan pada orang lain.
Pengabdian sejati bukanlah pengabdian kepada bangsa dan negara. Pengabdian sejati adalah kepada orang tua kita yang telah melahirkan dan mendidik kita dengan menghiasi masa-masa tua mereka dengan kebahagiaan tiada tara.
Pengabdian kepada bangsa dan negara dapat diwujudkan dengan banyak cara. Di era globalisasi yang serba cepat dan tersedia ini, kita tidak bisa mengabdi dengan mengangkat senjata melawan musuh-musuh yang menjajah dan para penghianat. Itu adalah cara lama yang dapat menyebabkan kita kalah dalam sekejap mata. Pengabdian yang beguna sekarang ini adalah dengan secercah tinta pena yang tersisa. Dengan menghabiskan waktu untuk terus membaca dan membaca, bukan dengan mengorbankan harta dan nyawa.
Sedangkan pengabdian kepada kedua orang tua yang melahirkan dan merawat kita hanya dapat dilakukan dengan satu cara saja. Dengan berbakti kepada mereka, menuruti segala kemauan mereka meskipun itu merugikan bagi kita dan selagi tidak bertentangan dengan ajaran agama.
Dan jika keduanya memaksamu untuk mempersekutukan Aku dengan sesuatu yang engkau tidak mempunyai ilmu tentang itu, maka janganlah engkau menaati keduanya, dan pergauilah keduanya di dunia dengan baik, dan ikutilah jalan orang yang kembali pada-Ku. Kemudian hanya pada-Ku tempat kembalimu. Maka akan Aku beritahukan kepadamu apa yang telah kamu kerjakan[1]
Kebahagiaan orang tua di atas apapun, begitulah prinsip yang sering kita dengar. Menurunkan ego dan merelakan kebahagiaan pribadi demi melihat seutas senyum dari ibu meskipun hanya sebentar, akan lebih terasa menyejukkan dari kepuasan pribadi.
Sembilan bulan mengandung, membawa kita dalam perutnya, lantas bertaruh nyawa ketika masa melahirkan tiba. Setelah itu menyusui dan merawat sedari kecil. Mengajari apapun yang tidak kita ketahui hingga jadilah seperti sekarang. Kita yang hanya mengorbankan sedikit harapan dalam hidup, tidak akan pernah dapat menggantikan kasih seorang ibu sejak kita dalam kandungan.
__ADS_1