Runtuhnya Pesantren Impian (PINDAH TULIS)

Runtuhnya Pesantren Impian (PINDAH TULIS)
Kakek Tua dan Pesan Rahasia


__ADS_3

Ammar membuka mata, kesadarannya kembali. Badannya terasa sangat berat untuk digerakkan. Ia menyibakkan pandangan ke sekelilingnya. Tempat yang tidak pernah ia pijak sebelumnya. Ia melihat sebuah jalan setapak satu arah. Di kanan kirinya ada pepohonan yang mengikuti jalan satu-satunya tersebut. Rumah-rumah yang kosong ditinggal pemiliknya. Ia takut. Ia tidak tahu apa yang harus dilakukannya.


Dalam keadaan takut yang sangat, Ammar dapat menggerakkan kakinya setelah bersusah payah. Setitik cahaya kemudian muncul di ujung jalan setapak itu. Awalnya ia takut untuk bergerak, ia pun memberanikan diri untuk melangkah ke tempat cahaya tersebut berada.


Ammar mendapati bulu kuduknya berdiri. Angin malam yang semilir ikut menambah suasana mencekam di sana. Lampu remang yang terpasang setiap dua meter memberinya secercah cahaya yang menerangi perjalanannya. Terlihat pepohonan di kiri kanannya. Tiada satu rumah pun yang nampak, pun hanya beberapa lampu jalan yang remang di setiap sepuluh meter sepanjang jalan setapak ini. Seperti dongeng, tapi inilah yang sedang ia lihat.


Cahaya itu perlahan-lahan mendekati Ammar. Ia berada dalam kondisi takut yang sangat. Ia mencoba melangkahkan kakinya untuk mundur, tidak bisa. Kakinya seakan-akan lumpuh dan tidak bisa digerakkan sama sekali, tetapi ia tetap kuat untuk berdiri. Bukan hanya kaki, bahkan seluruh badannya ikut-ikutan lumpuh. Ia akhirnya pasrah dengan keadaan.


Cahaya itu semakin dekat dengan Ammar. Dengan jarak beberapa langkah itu, ia bisa mengetahui bahwa cahaya itu adalah seorang lelaki.


Seseorang itu terus mendekat. Semakin dekat. Hingga jarak antara Ammar dan orang bercahaya itu hanya satu langkah.


“A..Anda siapa?” Tanya Ammar terbata-bata.


“Kamu jangan takut, Nak. Kamu pasti mengenalku.” Jawab orang itu.


Cahaya pada diri orang misterius itu perlahan-lahan memudar. Akhirnya nampak bahwa sosok itu adalah seorang lelaki tua yang mengenakan pakaian serba putih dengan tongkat yang membantunya untuk berjalan.


Ammar mengamati tongkat yang dipegang lelaki itu dengan seksama. Ia seperti tidak asing dengan benda itu. Ia baru sadar jika benda itu berada di atas lemari Ayahnya. Ayah selalu merawatnya dan tidak membiarkan debu menempel di atasnya.


Ammar mengarahkan pandangannya ke seluruh tubuh lelaki berbaju serba putih tersebut. Dari bawah ke atas, postur tubuh lelaki itu mirip dengan seseorang yang familiar dalam hidupnya. Sandal bakiak yang dipakainya pernah dipakai Ayahnya untuk pergi mengisi pengajian di masjid desa.


“Kakek?” Ammar mencoba menebak lelaki misterius itu.


“Iya, aku kakekmu.”


Seketika keheningan terjadi, Ammar tidak menyangka akan bertemu dengan kakeknya.


“Ini dimana, Kek?” Tanyanya penasaran.


“Ini alam kakekmu. Belum waktunya kamu sampai sini, tapi takdir berkata lain.” Kakeknya merangkulnya kemudian berjalan menyusuri jalan setapak itu.

__ADS_1


“Ikut aku, terbanglah.”


Ammar mengikuti langkah kakeknya. Kakek kemudian terbang menuju angkasa. Ia ragu. Apakah ia bisa terbang seperti kakek?


Ia pun mencoba dan akhirnya bisa.


Sepanjang perjalanan, kakek hanya diam tak bicara sepatah kata pun. Ammar juga tidak berani membuka percakapan. Hingga ia sampai di suatu tempat.


“Kita berada di awan langit. Kamu bisa melihat langit menjulang dari timur ke barat.” Kakek menunjuk sekelilingnya.


Kakek kembali berjalan. Kini, kakek berjalan sejajar dengan Ammar.


“Sudah sekian lama kakek tidak melihatmu. Kakek sudah pamit waktu usiamu baru dua tahun. Bagaimana keadaan Ayah Ibumu?”


“Alhamdulillah, Kek. Baik.”


Setelah beberapa langkah menyusuri langit, mereka berdua sampai pada sebuah tempat. Ammar melihat dua buah pohon yang berbeda. Satu yang besar dan mempunyai daun yang layu, yang satunya kecil dan daunnya masih hijau kokoh.


Ammar mengangguk.


“Apa maksudnya dua pohon itu, Kek?” Ammar tidak kuat menahan rasa penasarannya.


“Lihat pohon yang kiri. Pohon itu kecil dan daunnya masih hijau cerah. Tetapi perlu kau ketahui cucuku, akar-akar pohon itu sudah rapuh dan perkiraan umurnya pasti tidak lama.”


Ammar berpikir sejenak.


“Sementara yang besar, dilihat dari luarnya nampak layu dan mungkin usianya tidak lama lagi. Tetapi jika dilihat dari dalamnya, akar pohon itu masih kuat tertancap di tanah. Jika angin kencang menerpanya pun, tidak menuntut kemungkinan pohon itu berdiri tegak.”


“Saya masih tidak mengerti, Kek.”


“Dua pohon besar itu berasal dari jenis yang sama, tetapi umur keduanya berbeda. Tidak menuntut kemungkinan jika yang muda mati terlebih dahulu sebelum yang lebih tua.” Kakek melanjutkan ucapannya sembari meneruskan langkah kakinya.

__ADS_1


Ammar terus mengikuti langkah kaki kakeknya. Kakek terus melangkah tanpa menengok kebelakang sekalipun. Langkah kaki kakek bertambah cepat. Kakek kemudian melayang ke langit di atasnya. Langit itu perlahan-lahan terbuka seakan-akan memberikan jalan kepada kakek ke sana.


“Kemana, Kek?”


Kakek tetap diam. Ammar pun mencoba mengikuti kakeknya naik ke langit berikutnya. Belum sempat ia masuk ke langit itu, ada sebuah dinding kasat mata yang mencegahnya untuk naik. Ia pun terjatuh ke tempatnya semula. Langit itu kembali tertutup oleh awan putih.


“Kakeeekkk...” Teriaknya dari tempatnya berpijak. Tetap tidak ada suara yang menjawab. Sudah tidak mungkin ia menyusul kakeknya.


Ammar menoleh ke segala arah. Tidak ada seorangpun. Ternyata suara tersebut berasal dari langit di atasnya. Itu adalah suara kakek.


“Ammar, belum waktunya kamu menyusul kakek. Perjalananmu masih panjang. Banyak orang yang menantimu di bawah sana.” Suara kakek menggema sepanjang mata memandang, “Pergilah ke tepian langit, ikuti angin semilir itu, kelak dirimu menemukan sesuatu yang bermanfaat.”


Ammar menuruti apa yang dikatakan kakeknya. Ia kembali berjalan menyusuri langit. Dibalik itu, ia juga berpikir jika langit ternyata punya ujung. Ia tidak memerdulikan rasa penasarannya. Yang ia tahu, kakeknya dulu adalah orang yang paling jujur. Itu ia dapat dari ucapan Ayahnya saat ia masih MTs dulu.


Ammar terus berjalan, matanya melihat ke sekeliling. Ia memejamkan mata, dan tiba-tiba berada di rumah sakit.


“Icha …” Suaranya lemah. Ia mencoba menepuk pundak Icha. Nihil.


Ia melihat jasadnya berbaring dengan wajah yang dibalut perban. Disampingnya ada Icha yang tertidur di telapak tangannya. Sementara Halim dan Azmy tidur di karpet yang digelar di dekat pintu masuk ruangannya. Ayah dan ibu pulang ke rumah karena ada yang perlu dibereskan.


Ammar mengedipkan mata dan seketika ia kembali berada di langit, berpijak di atas awan.


“Apakah itu yang dimaksud kakek?” Ucapnya dalam hati ketika ia melihat sebuah amplop kecil yang mengeluarkan cahaya.


“Mungkin ini adalah barangnya”


Belum sempat ia menyentuh barang yang ditunjukkan oleh Kakek. Ia terjatuh dari langit. Awan itu tiba-tiba terbelah sendiri dan dirinya pun jatuh. Ia tidak berani melihat ke bawah. Ia hanya bisa berdoa agar dirinya baik-baik saja. Ia pun kembali mendengar suara dari langit. Lain halnya dengan yang pertama, kali ini suaranya bukan berasal dari kakek, melainkan dari orang lain yang tidak dikenalnya.


“Ammar, ini bukan alammu. Kau belum waktunya menginjakkan kakimu disini. Kau harus kembali. Banyak orang yang menunggumu. Keluargamu, kerabatmu, warga desamu, dan orang lain yang masih mengharapkan jasa-jasamu. Kau harus bisa berjuang untuk hidupmu. Dirimu dibutuhkan disana.”


Ammar seketika pingsan setelah mendengar suara tersebut.

__ADS_1


__ADS_2