Runtuhnya Pesantren Impian (PINDAH TULIS)

Runtuhnya Pesantren Impian (PINDAH TULIS)
Lebih dari Sahabat


__ADS_3

Pagi menyongsong, sinar mentari pagi menembus jendela kamar Ammar. Hangatnya terasa hingga di kulit lapisan yang paling dalam. Mata Ammar perlahan-lahan terbuka. Tangannya menutupi sinar yang menerobos menuju kedua matanya. Ia merenggangkan otot-ototnya. Kehangatan pagi sangat memanjakan dirinya.


“Ahh . . .” ucap Ammar sambil melakukan peregangan tangan.


Entah kenapa ia merasa sangat malas untuk beraktivitas di pagi hari ini. Apa karena sekarang adalah hari Minggu? Ia melihat kalender di samping lemarinya, jadwalnya kosong hari ini. Tidak ada jadwal ceramah, mengisi seminar, dan hal lain yang menyibukkan dirinya. Hanya ada acara majlis sholawat yang rutin diadakan setiap malam Senin bersama pemuda-pemuda kampung.


Ammar memutuskan untuk tidur kembali, badannya sangat letih seteah mengisi seminar keorganisasian dan ceramah secara beruntun di dua tempat berbeda kemarin malam. Ia menyalakan kipas angin dan menjatuhkan diri di kasur nan empuk. Ia menyempatkan diri untuk melihat jam terlebih dahulu, masih pukul enam pagi. Ia mengatur alarm pada jam sebelas siang agar tidak kelewat jamaah salat Duhur di musalla setempat.


Sebelum tidur, Ammar melihat sekilas berita yang kemarin terjadi di televisi. Entah berita tentang olahraga, politik, ekonomi, nasional, hingga internasional. Setelah dirasa cukup, ia pun mulai memejamkan matanya perlahan. Belum sempat ia larut dalam mimpi, Ibu mengetuk pintu kamarnya.


“Sebentar, Bu.” Jawab Ammar sambil berjalan menuju pintu.


Ammar membuka pintu kamarnya.


“Ibu tolong belikan tempe, Nak.”


Ammar heran, jarang sekali Ibu membangunkannya di pagi hari hanya untuk membeli lauk sarapan. Ia berpikir, pasti ada sesuatu yang aneh hingga Ibu menyuruhnya.


“Baik, Bu.”


Ammar segera mengeluarkan sepedanya. Ia merasa malas untuk berjalan menuju warung penjual tempe yang berada tepat di ujung gang. Padahal jarak rumahnya dan warung tersebut hanya puluhan meter saja. Ia mengayuh sepedanya menuju ke sana. Ternyata tutup. Ia memutuskan untuk mencari di warung gang sebelah. Tutup juga.


Setelah mencari-cari warung yang menjual tempe ke seluruh pelosok desa Cemandi, ia pun menemukan sebuah warung kecil di dekat masjid. Ia bertanya pada pemilik warung perihal ada atau tidaknya barang yang dipesan Ibu. Ternyata tidak ada juga. Itu adalah warung terakhir yang ada di desa Cemandi. Selebihnya, hanya warkop dan toko barang.


Ammar tidak berniat untuk mencari tempe di luar desa karena rasanya tidak sesuai dengan lidah Ibu. Tempe yang dibuat warga sekitar memiliki ciri khas sendiri dalam cita rasa.


“Terpaksa deh beli tempe di kampung sebelah.” Gerutu Ammar.


Saat roda sepeda itu akan kembali berputar, ada seseorang yang tiba-tiba menepuk Ammar dari samping kanannya.

__ADS_1


“Eh kamu Lih, ngagetin orang saja. Apa kabar?”


Ternyata orang tersebut adalah Galih, teman masa kecil Ammar. Ammar tidak menyangka dapat bertemu dengannya setelah hampir sepuluh tahun lebih tidak bertatap muka. Kini, ia dapat melihat wajah itu lagi.


“Kamu banyak berubah.”


“Kamu masih sama seperti dulu, Lih. Selalu nampak sederhana.”


Dua teman lama itu kemudian berpelukan sebentar dan berbincang tentang masa lalu mereka. Ammar dulunya selalu berantakan, tidak pernah berpakaian rapi, dan rambut yang selalu panjang, kini berubah menjadi orang yang rapi serta peduli dengan penampilan. Ditambah lagi rambutnya yang selalu dicukur rapi.


Berbeda dengan Galih, penampilannya tidak berubah semenjak sepuluh tahun yang lalu, sebelum Ammar menjadi seorang santri. Ia masih suka memakai celana hitam dan kaus putih lengan panjang. Rambutnya selalu dicukur tipis dengan poni yang mengembang seperti gelombang di laut lepas. Gelang tasbih yang ada di pergelangan tangan kirinya masih tetap ia pakai. Katanya, gelang itu adalah pemberian Ayahnya sebelum meninggalkan rumah.


“Sedih aku pas tau kabar Azmy sudah tiada. Apalagi bertepatan setelah tujuh harinya ayahmu meninggal.”


Ammar terdiam. Ia baru ingat tentang adik perempuannya Galih. Jika saja Azmy masih hidup, tentu saja usianya tak jauh beda dari Sinta, adik kandung Galih. Sudah sepuluh tahun sejak Ammar berangkat nyantri hingga kuliah, ia tidak pernah melihat wajah adik Galih.


“Santai aja, yang penting jangan lupa doain kedua orang tuamu aja.”


“Sekarang kamu kerja apa, Lih?” Ammar penasaran terhadap Galih tentang kesibukannya akhir-akhir ini.


“Nerusin almarhum Ayah dan Ibu.”


“Jualan obat herbal berarti?”


“Ya, gitu.”


Ayah dan Ibu Galih meninggal saat ia masih berusia tujuh tahun. Waktu itu, Sinta masih balita yang usianya menginjak dua tahun. Ayah dan ibunya mengalami kecelakaan saat pulang dari Lombok untuk melakukan penelitian tentang beberapa tanaman herbal yang ada di sana. Kapal yang ditumpangi kedua orang tuanya terkena ombak dahsyat hingga oleng tak terkendali.


Seletah tragedi tenggelamnya kapal itu, Galih diasuh neneknya Ammar. Sinta yang masih kecil tentu belum mengetahui apa yang sebenarnya terjadi pada kedua orang tuanya. Ia hanya menganggap ayah dan ibu Ammar sebagai orang tua kandungnya. Karena sebab itulah, Galih dan Ammar seperti seorang saudara sekaligus teman masa kecil yang sangat akrab.

__ADS_1


Begitu usia Sinta dirasa cukup untuk menerima kenyataan jika ayah dan ibu Ammar adalah orang tua angkatnya, Galih memberitahunya tentang kejadian sepuluh tahun silam. Memang tidak mudah untuk menerima kenyataan pahit seperti itu, tetapi Sinta sepertinya paham jika itulah yang dinamakan kehendak Allah. Tidak ada seorang pun yang dapat mengubahnya.


Karena tidak mau terus merepotkan keluarga Ammar, Galih pun memutuskan untuk berhenti sekolah setelah menamatkan pendidikan aliyahnya. Ia juga menyambut bahagia keinginan Sinta untuk menjadi seorang santriwati. Ia sangat antusias begitu mendengar adiknya berkata demikian.


“Kebun ayahmu makin luas loh.”


“Emang iya, Lih? Udah hampir setahun nggak pernah kesana lagi.”


Sepeninggal ayah, Galih lah yang sepenuhnya menjaga kebun tersebut. Sebab Ammar dan Galih adalah dua orang sahabat yang jarang bertemu, maka Ammar memberikan semua hak pengolahan kebun kepada Galih. Ia dan Sinta menempati rumah kecil milik keluarga Ammar yang ada di ujung utara desa sementara Ammar dan ibunya menempati rumah yang ada di tengah-tengah desa.


Galih dan adiknya sudah tidak menghuni rumah Ammar lagi. Mereka tinggal di rumah sendiri setelah Galih berusia lima belas tahun. Toko herbal milik ayahnya yang sudah lama tutup, kini dibuka kembali dengan pemilik dan suasana yang baru. Nama Galih perlahan-lahan dikenal di kalangan masyarakat dan terkenal sebagai ahli obat-obatan herbal. Tokonya menjadi tidak pernah sepi oleh pembeli.


“Kamu nyari apa, Mar. Kok kelihatan bingung barusan?”


“Ini ibu pingin tempe, tapi stoknya udah pada abis.”


“Nih aku baru beli, tempe Mbok Jum, favorit ibu pasti.”


Karena dibesarkan dalam keluarga Ammar, Galih menganggap kedua orang tua Ammar seperti orang tua kandungnya sendiri. Apalagi Sinta yang tak bisa lepas dari nenek yang sedari bayi sudah mengasuhnya. Tentu Galih mengetahui apa yang disukai ibunya Ammar. Oleh karena itu, ia lebih memilih memberikan tempe yang baru saja dibelinya.


“Nggak apa nih, Lih?”


“Alah kau ini, masih tanya pula. Ambil aja, udah ditunggu noh.”


“Aku pamit dulu, ya. Kasihan ibu.”


“Jangan lupa mampir ...!”


Mereka berdua berpisah, Ammar mengayuh sepedanya dengan sekuat tenaga, berharap ibu tidak menunggunya terlalu lama karena obrolan barusan.

__ADS_1


__ADS_2