Runtuhnya Pesantren Impian (PINDAH TULIS)

Runtuhnya Pesantren Impian (PINDAH TULIS)
Takdir


__ADS_3

Ammar belum membuka matanya tiga hari ini. Ayah dan Ibu khawatir akan keadannya. Ia masih koma. Pakde, Bude, Mbah, dan Halim beserta kakaknya juga gak kalah risau melihat Ammar yang masih memejamkan matanya.


Suasana rumah sakit malam itu terbilang sepi, hanya suara angin malam yang mengiringi dekurang nafas pasien yang sedang beristirahat. Lorong di depan ruangan sangat sunyi.


Ibu menangis di atas bahu kanan Ammar, ia membisikkan sesuatu di telinganya.


“Nak, bangunlah jika kamu masih sayang ibumu ini.”


Ibu tak henti-hentinya menangis. Ia tidak ingin kehilangan anak sulungnya. Matanya sembab karena telalu banyak air mata yang keluar dari kelopak matanya. Alat pengukur detak jantung menunjukkan masih ada aktivitas di jantung Ammar, meskipun lemah. Ibu selalu berdoa di setiap malam untuk kesehatan kedua anaknya yang sama-sama dirawat di rumah sakit ini.


“Ayah .. Ayah ..“ Ammar terus-menerus memanggil ayahnya.


“Ayah disini, Nak.” Ucap ayah mengelus rambut Ammar.


Dahi Ammar mulai berkeringat. Dirinya terlihat memaksa kakinya untuk bergerak, tapi tidak bisa. Bibirnya terus memanggil Ayahnya. Matanya perlahan-lahan membuka.


“A..Ayah.”


“Iya, Nak. Ini Ayah.”


“Ibu.”


Ibunya masih menangis melihat Ammar yang terbaring lemah.


“Mbah, Pakde, Bude juga disini, Nak.” Ayahnya terus mengelus rambut hitam Ammar


“A..Adik mana, Yah?”


“Adikmu di kamar sebelah.”


Ingatan Ammar perlahan-lahan kembali. Ia mulai mengingat kronologi kejadian yang membuatnya berada di sini.


“Adik nggak apa-apa?”


Dalam kondisinya yang seperti ini, Ammar masih sempat memikirkan Adik semata wayangnya juga. Kasih sayangnya kepada Sang Adik hampir menyamai cintanya kepada kedua orang tuanya.


“Adikmu sudah baikan. Sekarang menjalani masa pemulihan.”


“Alhamdulillah.”


Ada sedikit kebahagiaan di mata Ammar. Mata yang jernih dan menandakan betapa kasihnya ia kepada adiknya. Kondisinya yang demikian tidak ia gubris, yang penting adiknya selamat.


Wajah Ammar berubah. Setelah mencium trotoar dan terlempar dari motor, pipi kanan Ammar tidaklah rata lagi. Perban membalut sebagian besar wajahnya. Untungnya, helm yang ia gunakan tidak lepas dari kepalanya. Mungkin kalau helm itu lepas waktu ia terlempar dari motor, ia hampir dipastikan lupa ingatan dan tidak mengenal semua yang ada di sampingnya.

__ADS_1


Tak lama kemudian, seorang dokter yang masih muda mendatangi Ammar dan keluarganya.


“Selamat malam.”


“Malam, Dok.” Jawab Ammar lirih.


“Alhamdulillah. Saya turut bahagia melihat kabar baik ini”.


“Apa anak saya baik-baik saja, Dok?”. Tanya Ibu.


“Sebentar, Bu. Saya periksa dulu”.


Dokter mengeluarkan stetoskop dan beberapa alat lain. Tidak perlu waktu lama agar dokter mengetahui kondisi Ammar yang sekarang. Dokter kemudian mengajak Ayah keluar dari ruangan untuk diajak bicara empat mata.


Lima menit kemudian, dokter Salman kembali ke ruangan. Wajah Ayah mendadak pucat. Entah apa yang dikabarkan dokter kepadanya. Wajah pucat Ayah sempat ditutupinya dengan sedikit senyum. Tetapi apa daya, sekali pucat tetap pucat. Dokter kemudian keluar ruangan setelah mengucap terima kasih.


“Ada apa, Yah?” Tanya Ammar penasaran.


“Nggak apa-apa.”


Ayah kemudian mengajak Ibu keluar ruangan. Kini hanya tersisa Mbah, Pakde, Bude, dan Ammar di dalam ruangan VIP tersebut.


“Bu, anak kita.”


Ayah mengulang apa yang dijelaskan dokter kepadanya.


“Astagfirullah.” Ibu kembali meneteskan air mata sambil menutup mulutnya dengan tangan.


“Kita yang sabar ya, Bu. Ammar pasti kuat melewati semua ini.”


Dokter tadi mengakatan bahwa ada satu pembuluh darah yang tersumbat pada diri Ammar. Pembuluh darah yang membawa asupan darah ke otak. Jika hal itu terus terjadi, maka Ammar dapat terkena jantung koroner yang bisa mengakibatkan kematian. Dokter juga berkata bahwa Ammar harus dioperasi. Ayah yang mengetahui tabiat anak sulungnya itu, mengatakan bahwa Ammar tidak mau dioperasi. Jika tidak operasi, otomatis pembuluh darahnya akan terus tersumbat dan peluang jantung koroner menyerang tubuhnya juga semakin tinggi.


“Hanya keajaiban yang bisa menyelamatkan Ammar.” Itulah kata dokter yang terakhir sebelum mengakhiri percakapan singkatnya dengan Ayah.


Ibu hanya bisa diam. Ia mungkin bisa membujuk Ammar untuk dioperasi. Tetapi apa daya, pendiriannya selalu kuat.


“Dokter juga bilang, mungkin Ammar hanya dapat bangun selama beberapa menit karena ada beberapa mili darah yang dapat lolos ke otak. Setelah itu, ia akan koma kembali.”


Ibu agak kaget mendengar kalimat terakhir Ayah. Ibu memutuskan untuk kembali ke dalam dan memanfaatkan waktu sebaik mungkin untuk berbicara dengan Ammar.


Mbah, Pakde, dan Bude keluar dari ruangan, di dalam hanya ada Ammar dan Ibu.


“Lapo.o awakmu pucet iku mau, Le[1].” Mbah bertanya kepada Ayah.

__ADS_1


Ayah menceritakan penjelasan dokter untuk yang kedua kalinya.


“Ammar itu orangnya sangat baik, sangat perhatian kepada anak-anak di desa. Ia bahkan rela mengajar mengaji anak desa dengan cuma-cuma.” Pakde Ghofur mengenang jasa Ammar.


“Iyo, Anakmu itu orangnya sangat ramah. Warga desa semuanya bahagia ketika ia datang. Kata-katanya selalu didengar mereka.” Kata Bude.


Ayah semakin tenggelam dalam kesedihannya.


“Warga merasa tentram jika Ammar pulang dari Jakarta. Pengajian rutin berjalan kembali, beberapa anak-anak desa juga ikut mengaji tiap sore. Bahkan, untuk sekelas preman di dekat pasar saja ikut bangga.”


Ayah menyadari jika Ammar sangat dibutuhkan khalayak umum, utamanya warga desa Cemandi. Jika Ayah pergi keluar kota atau menghadiri undangan ceramah di masjid lain, pasti jadwal pengajian rutin di desa libur, apalagi jadwal mengaji kitab kuning. Ammar lah yang menggantikan ayahnya mengisi posisi itu. Tidak hanya pengajian warga desa saja, ia tidak takut untuk berdakwah pada para preman pasar.


Di desa Cemandi, tepatnya di ujung desa di dekat jalan yang menuju ke tempat pemancingan yang sudah tidak dibanguni rumah warga, terdapat pemukiman kecil yang agak asing bagi warga Cemandi. Itu adalah markas dimana preman tersebut berkumpul. Mereka memang akrab dengan warga, tapi tak jarang mereka juga meresahkan karena sering mengganggu gadis desa yang lewat sendirian naik motor.


Mereka tidak henti-hentinya mengajak warga untuk mengikuti keyakinannya. Meskipun hampir tidak ada warga yang terpengaruh, mereka semua tidak pernah menyerah.


Pak Wahyu adalah seorang yang paham ilmu agama melebihi yang lain di desa Cemandi. Sosok Ayah yang menjadi seorang pahlawan bagi warga, utamanya dalam hal dakwah dan menyampaikan kebenaran.


Buah yang jatuh tak jauh dari pohonnya, pepatah itu membuktikan bahwa kecerdasan Pak Wahyu dalam hal agama juga menurun kepada anak sulungnya.


Ammar adalah seorang anak emas di desa Cemandi. Dimana Ayahnya pergi keluar untuk sebuah keperluan, dirinyalah yang selalu ditunjuk sebagai pengganti untuk mengisi pengajian rutin setiap selesai salat Isya’.


“Kita hanya bisa berdoa, semoga Allah memberikan Ammar umur panjang dan kuat menghadapi cobaan ini.” Ucap Mbah diikuti kata amin di setiap yang mendengarnya.


Ibu dan Ammar berbincang-bincang dalam waktu yang agak lama. Ayah sempat heran dengan Ibu. Ibu seperti mempunyai firasat akan kehilangan anak sulungnya itu. Tetapi Ayah segera membuang pikiran tersebut jauh-jauh karena Ayah selalu berharap yang terbaik untuk Ammar.


“Ammarrr . . . . . . .” Ibu berteriak diiringi isak tangis yang membuat orang-orang di depan kamar VIP itu kaget. Sontak mereka segera masuk ke kamar Ammar.


“Kenapa, Bu?”. Tanya Ayah gopoh.


Ibu tidak kuat menjawab pertanyaan Ayah. Ibu hanya bisa memeluk Ammar yang matanya kembali terpejam kuat-kuat. Alat pendeteksi menunjukkan tidak adanya aktivitas di jantung Ammar. Pakde Ghofur berlari memanggil dokter.


“Anak kita, Yah . . Anak kita.” Ibu histeris sambil menggoyang tubuh Ammar yang tidak bergerak sama sekali.


“Sabar, Bu. . Sabar.” Ayah mencoba untuk menenangkan Ibu.


Tak lama, Pakde datang diikuti dokter yang membawa peralatan lengkap. Dokter mencoba memberi aliran listrik ke jantung Ammar berharap jantung tersebut bisa kembali berfungsi.


Satu kali percobaan, nihil.


Dua kali, tetap nihil.


Yang terakhir pun nihil.

__ADS_1


“*I*nnalillahi wa inna ilaihi roji’un”. Ucapan dokter sangat membekas di hati semua yang ada di ruangan VIP itu.


__ADS_2