
Suara tahlil menggema di rumah Ammar. Hari ini adalah hari ketujuh pasca meninggalnya ayah. Kesedihan di hati Ammar dan ibu masih tersisa. Bagaimana tidak, ibu yang menemani ayah selama dua puluh tahun lebih, kini harus merelakan dirinya untuk ditinggal kekasih hidupnya. Yang lebih parah, Azmy, adik Ammar itu terbaring di kamarnya karena beban pikiran yang menimpanya.
“Dek, kamu jangan terlalu banyak mikir. Ingat-ingat pesen dokter dulu pas kamu dibolehin pulang.” Ammar terus mengusap rambut hitam adiknya.
“Aku masih ingat kok. Aku kasihan sama ibu. Ibu harus menanggung beban hidup keluarga.”
“Kamu yang sabar, ibu pasti bisa melewatinya. Ibu nggak sendirian kok. Kamu jangan mikir yang nggak-nggak pokoknya.”
Ibu masuk kamar dengan mata sembab karena menangis.
“Biarlah semua ini ibu yang nanggung, My. Kamu harus sembuh. Orang-orang di pesantren masih mengharapkanmu. Kamu jangan terlalu mikir.”
“Mas Ammar siap bantu ibu kapanpun. Kamu cepat sembuh biar ibu nggak tambah sedih.” Ucap Ammar dengan memaksakan senyum.
Sakit Azmy kambuh lagi. Terkadang ia tiba-tiba pingsan saat mengambil minum di kulkas maupun sedang salat. Kadang ia sadar kembali seketika. Kadang juga mengingau sendiri di malam hari. Hal itulah yang membuat Ammar selalu memikirkan kondisi adiknya yang semakin hari makin buruk karena ditinggal ayah.
“Azmy nggak sakit apa-apa, Bu. Azmy masih sehat. Mending uang peninggalan ayah digunakan untuk pembangunan pesantren. Nggak banyak sih, tapi itu lebih berguna.”
Ucapan Azmy barusan sangat menyentuh hati ibu dan Ammar.
Darah ibu sedikit naik. Ia merasa jika Azmy sudah tidak memerlukan perhatiannya lagi. Kesalahpahaman itu yang membuat ibu sedikit naik pitam. Tiba-tiba saja ibu membentak Azmy dengan nada suara yang agak tinggi
__ADS_1
“Istighfar, Bu. Istighfar.” Ammar menenangkan ibu.
Ibu mengucap istighfar kemudian meminta maaf kepada Azmy.
“Bu, barusan waktu pingsan tadi aku mimpi lihat ayah melambaikan. Ayah mengajak pergi entah kemana. Ayah berkata jika aku sebentar lagi akan menyusul.”
Air mata ibu menetes. Apakah anak bungsunya itu mengigau?
Air mata ibu mengalir semakin deras membasahi kedua pipinya. Ibu tak kuasa melihat kondisi Azmy yang terbaring lemah tak berdaya. Ibu keluar dari kamar Azmy karena kepalanya mendadak pusing.
Apakah itu sebuah isyarat untuk ibu dan Ammar dari ayah?
Bagaimana jika isyarat yang dikatakan Azmy itu benar adanya?
“My, kamu istirahat saja. Nanti malam tak bangunin salat Isya.”
“Nggak usah, lima menit lagi azan Isya. Aku takut bablas sampai Subuh.”
Ammar mulai menyadari apa yang dikatakan oleh adiknya. Kata-kata yang tentu menurut orang lain biasa saja. Dibalik tolakan Azmy untuk dibangunkan, ada sebuah maksud tersembunyi dari penolakannya itu. Air mata Ammar hampir menetes tetapi ia masih kuat menahan agar air mata itu tidak keluar dari kedua bola matanya. Ia hanya menunggu adiknya mengatakan apa maksud dari penolakan tersebut.
Ammar masih menunggu adiknya membuka mulut. Untuk makan, Azmy tidak kuat melakukannya sendiri. Tak terasa, azan isya sudah berkumandang. Orang-orang yang ada di depan rumah pamit terlebih dahulu untuk menunaikan salat Isya berjama’ah di musalla. Karpet telah tergelar di teras rumah untuk pelaksanaan tahlil tujuh harinya ayah setelah salat Isya nanti.
__ADS_1
Ammar membantu adiknya untuk mengambil wudu. Azmy hampir tidak bisa berjalan dengan normal. Kakinya terkadang kaku karena penyumbatan darah ke otaknya beberapa bulan silam juga berdampak pada bagian tubuh yang lain. Otak memang pusat seluruh gerakan manusia. Wajar saja, jika sakit Azmy dapat menjulur ke seluruh tubuh tanpa bisa diperkirakan terlebih dahulu. Azmy pun terpaksa salat dengan duduk karena takut tiba-tiba terjatuh saat salat.
Sakit Azmy kembali kambuh semenjak ayah meninggal. Beberapa hari yang lalu, pengurus pesantren membeli izin kepada Azmy untuk pulang karena kondisinya yang tidak stabil ditambah kepergian ayahnya yang sedikit menimbulkan sesak di hatinya. Badan Azmy sering mengeluarkan keringat dingin diikuti panas serta pusing yang tiada henti. Pihak pesantren memberi izin hingga sakit yang dideritanya benar-benar sembuh.
Pihak pesantren sengaja memberi izin lama kepada Azmy dibanding santri-santri yang lain. Bagi Azmy, ketinggalan pelajaran formal merupakan hal yang biasa karena dia tidak terlalu peduli dengan materi formalnya di pesantren. Meskipun begitu, ia bisa menjadi peringkat kedua di mata pelajaran formal.
Bagaimana tidak, waktu pelajaran sedang berlangsung di kelas, Azmy tiba-tiba roboh. Begitupula ketika mendapat tugas untuk azan, ia tiba-tiba pingsan sebelum menyelesaikannya. Pihak kesehatan pesantren sudah angkat tangan karena kondisinya yang semakin memburuk, apalagi setelah ayahnya meninggal.
Kondisi Azmy makin hari makin memprihatinkan. Badannya bertambah kurus. Nafsu makannya tiba-tiba menghilang. Halusinasinya semakin menjadi-jadi. ia makin sering mengingau dikala tidur. Yang lebih memprihatinkan, ia sering berteriak di tengah malam. Bukan teriakannya yang membuat Ammar dan ibu heran, melainkan apa yang dikatakannya sesudah berteriak.
Azmy sering bercerita jika ada orang asing yang memakai baju serba hitam mendekati dirinya di tengah malam. Hal itu terjadi setiap hari sehingga membuat Ammar tidak pernah tidur di malam hari untuk mengawasi Azmy jika ia berteriak ataupun sedang mengalami mimpi buruk.
Hingga kini, Azmy belum dapat melakukan aktivitasnya secara normal. Ia juga tidak mau pergi ke dokter untuk diperiksa. Jangankan dokter, ke tetangga yang ahli pengobatan tradisional pun tidak mau. Obat-obat yang dicarikan Ammar dari bahan-bahan herbal milik ayahnya dulu juga tidak ada yang disentuhnya sekalipun. Ia tidak mau dioperasi untuk membenarkan pembuluh darah di otaknya itu.
Azmy adalah orang yang agak keras kepala. Usulan orang lain yang baik baginya, terkadang dianggapnya buruk. Operasi yang menurut ibu itu baik untuk menyembuhkan penyakitnya malah dianggap tidak baik karena tidak memasrahkan semuanya kepada Allah. Ia malah berpendapat jika uang operasi itu disumbangkan ke masjid atau ke panti asuhan agar lebih berkah.
“Kemaslahatan umat itu baik, tapi alangkah lebih baik lagi kalau yang memberi maslahat itu haruslah sehat wal afiyat.”
Usai salat, Ammar pergi ke ruang tamu menemani beberapa tetangga dan kerabat yang akan melaksanakan tahlil tujuh harinya ayah. Azmy berada di kamar menulis sesuatu di secarik kertas. Ia kemudian melipatnya dan meletakkan kertas tersebut di tumpukan baju bekasnya di lemari bagian bawah, berharap dapat dibaca oleh seseorang. Tingkah lakunya aneh. Menulis secarik kertas dan menyelipkannya di tumpukan baju bekas seperti orang yang akan meninggalkan wasiat saja.
Malam ini sangat mendung, tidak seperti hari-hari sebelumnya. Hanya di hari ketujuh pasca wafatnya ayah malam kembali mendung. Hal ini sama persis terjadi malam hari ketika ayah pergi untuk selamanya.
__ADS_1
Apakah malam ini adalah pertanda jika ada yang akan pulang lagi ?
Pulang bukan sembarang pulang; kepulangan yang pasti akan dilakukan semua makhluk bernyawa di dunia. Setelah kepulangan tersebut, semua perbuatan akan diukur baik buruknya. Kepulangan yang mengantarkan manusia menuju alam baru nan kekal disana.