
Dua bulan berlalu setelah kepergian Ammar ke Jakarta, obat ayah habis. Sakit ayah belum kunjung sembuh dengan obat yang sebegitu banyaknya dan bervariasi. Kondisi ayah semakin memprihatinkan. Dalam keadaan seperti ini, ayah mengirim sebuah SMS kepada Ammar
“Nak, aku berdoa. Kelak nanti bila engkau tiba di usiaku ini, paling tidak . . . Bumi kita masih seindah begini.”
Ayah juga sering menulis beberapa kalimat yang sangat menyentuh hati ibu. Bukan karena kasih sayangnya pada ibu, melainkan tentang hal-hal yang mengisyaratkan kematian. Puisi itu ayah dapati di buku milik Prof. Habibie, presiden ketiga Republik Indonesia. Ayah sangat suka puisi tentang keindahan alam, tapi kali ini ayah lebih memilih puisi tentang perpisahan.
Aneh, tapi itulah yang terjadi.
Selama aku masih meniti cakrawala
Sejujurnya . . .
Aku tak mendapati apa-apa
Kecuali malu yang tak terhingga
Karena . . .
Aku telah mencari sesuatu yang hampa.
Kugantung surga . . .
Kukunyah angkasa . . .
Ternyata ku tetap terurai
Dalam bias-biasnya.
Saat aku mulai menghitung keinginan,
Aku terjebak dalam ketidakpastian
Saat kumulai menghitung iman
Terpenjaralah aku . . .
Dalam keabadian.
__ADS_1
Ibu terus membuka lembar demi lembar buku catatan yang ada disamping ayah ketika ayah sedang tertidur. Ibu semakin kaget melihat kelanjutan apa yang ayah tulis.
Ingin kujumpai ujung pelangi
Tapi . . .
Dilangit mana bisa kutemui?
Dari ketinggian ini . . .
Saat salju membabat bumi.
Yang kuketahui,
Negeri ini indah sekali.
Tapi kuhayati . . .
Seolah-olah sepi tak berarti.
Jika engkau menjauhi kami,
Begitulah gusti.
Teknologi macam apa lagi,
Yang bisa dan ampuh
Tuk mengobati kerinduanku . . .
Pada Ilahi Robbi . . .
Wajah jelita, cantik, dan berseri
Masih ingin kudapati . . .
Esok dan esoknya lagi . . .
__ADS_1
Itu pun sebeleum dijemput mati.
Senjaku telah datang
Tetapi,
Akankah dekat sudah . . .
Waktuku perpulang.
Ibu meneteskan air mata, ia tak kuasa membaca apa yang ada di buku catatan ayah. Hingga pada suatu malam.
Ayah kembali mengerang kesakitan. Hampir seumur hidupnya, ayah tidak pernah terlihat sepucat ini. Ibu pun segera membawa ayah ke rumah sakit. Tidak lupa, ibu menelpon Ammar agar segera pulang. Ibu juga menyuruh pakde untuk menjemput Azmy di pesantren. Sekarang, Ammar dalam perjalanan menuju kampung halamannya.
Malam ini malam Jum’at, ibu teringat ucapan ayah sore itu.
“Bu, alangkah indahnya jika seseorang dapat wafat di hari Jum’at, apalagi malamnya.”
Ayah masih terbaring lemah tak berdaya dengan senyum mengembang di bibirnya.
“Bu, sebelum aku meninggal, aku ingin melihat foto kita bersama untuk terakhir kalinya.” Kata Ayah mengejutkan Ibu.
“Aduh, Yah. Jangan ngomong begitu lagi. Sebentar lagi pasti sembuh kok.” Kata ibu tegas.
Ibu segera mengambil handphone dan menuruti keinginan ayah. Ibu menunjukkan beberapa foto keluarga secara utuh. Ada foto Ammar dan Azmy ketika masih balita. Ada foto ayah sendiri. Ada foto ayah dan ibu berdua.
Ayah tersenyum
“Bu, aku titip anak kita. Aku berharap engkau bisa melehat mereka berdua berbahagia dalam kehidupan mereka. Utamanya Ammar, aku berharap kau dapat melihatnya bersama pendamping hidupnya.” Setelah mengucapkan itu, ayah menutup matanya.
Ibu memeriksa ayah. Tangan ibu masih memegang erat telapak tangan ayah. Ibu menatap lekat wajah ayah. Ada setetes air mata yang menetes dari kedua mata Ayah. Senyum mengembang di bibir ayah yang mulai membiru. Tak ada sehelai napas yang keluar dari hidung ayah. Ayah sudah kembali dalam rangkulan-Nya.
Ibu ingin berteriak memanggil dokter, tetapi apa gunanya. Ibu juga ingin berteriak sekencang mungkin, tetapi tidak bisa merubah keadaan. Ibu hanya bisa pasrah. Waktu menunjukkan pukul setengah dua belas malam. Tiga puluh menit lagi hari berganti, sesuai apa yang dikatakan ayah sore itu.
“Terima kasih ya Rabb, engkau telah memisahkan kami dengan keadaan berbeda. Aku berada di alam yang fana dan suamiku telah berada di alam dan dimensinya yang baru. Jika sampai waktunya, hidup kami di alam dunia akan selesai dan langkah baru di alam baru segera dimulai. Jadikanlah kami manunggal di sisi-Mu karena cinta sejati yang murni, suci, sempurna, dan abadi karena-Mu.”
Belum sempat Ammar datang, ayah sudah pergi untuk selamanya.
__ADS_1
Belum sempat Azmy pulang, ayah sudah pamit untuk mendahuluinya.
Ayah, pribadi yang selalu nampak ceria dalam setiap lini kehidupan, kini harus rela berpulang untuk menghadap Sang Pencipta. Kehendak Ilahi memang terkadang rancu, tapi begitulah namanya takdir. Tidak ada yang tau.