
“Kamu lihat rumah itu, My?” Ucap Ammar sambil menunjuk suatu rumah.
Azmy hanya menganggukkan kepalanya disertai tangisan yang semakin reda.
“Rumah itu dulunya adalah milik seorang Belanda. Kini rumah itu sudah tidak berpenghuni. Meskipun begitu, rumah tersebut masih berdiri kokoh sampai sekarang. Konon, rumah itu angker karena sudah tidak ditempati selama puluhan tahun.”
Kedua kakak beradik itu memandangi rumah itu lekat-lekat. Rumah itu sangat megah dengan cat putih yang mendominasi disertai halaman yang luas tetapi tidak terurus. Temboknya banyak yang retak. Tidak sedikit dari fondasi rumah tersebut yang dimakan rayap. Anehnya, rumah itu masih berdiri kokoh tanpa ada satupun yang runtuh di dalamnya.
“Desa kita dulu itu pernah dijajah oleh Belanda. Tetapi, tokoh agama desa yang makamnya berada di masjid dan namanya diabadikan sebagai nama jalan di desa ini merupakan sosok yang paling berjasa dalam mengusir penjajah. Masjid kita tercinta, dulunya tidak akan hancur meskipun yang menghantamnya adalah bom dari Belanda. Itu sebab pendahulu kita yang berjuang sekuat tenaga demi bebas dari penjajah hingga darah tak tersisa. Di samping itu, amalan-amalan yang mereka pakai juga tidak bisa terpisahkan dari hal-hal ajaib yang terjadi.
“Negara kita pernah mengalami masa-masa kritis dahulu setelah dijajah Belanda. Terlepas dari penjajahan dari luar, negeri kita juga dijajah dari dalam. Para kiai dan tokoh agama yang diincar dan dibunuh waktu itu. Mereka dianggap sebagai musuh utama para pemberontak yang ingin menghancurkan ideologi bangsa yang berdasarkan pada asas pancasila. Hampir semua warga desa kita terkena imbasnya. Entah itu diganggu ketika diluar rumah maupun di dalam rumah. Entah sebagian dari barang mereka tiba-tiba menghilang. Entah hewan peliharaan mereka yang mati secara tiba-tiba.
__ADS_1
“Waktu itu, masih terdapat beberapa pendekar desa yang berjuang melawan para pemberontak setelah wafatnya para kiai dan tokoh agama yang ada di desa. Rata-rata pendekar tersebut merupakan santri dari para kiai tersebut. Tentu saja, ada amalan khusus yang diwariskan kepada mereka sehingga sebagian dari mereka ada yang tidak tertembus peluru, ada yang bisa menyelam dalam waktu lama, ada yang bisa menumbangkan helikopter hanya dengan kacang hijau yang dilempar. Warga desa kita, dulunya menyebut para pendekar tersebut dengan istilah “Ninja”.
“Kayak di film aja, Mas. Pake ninja-ninja segala.” Tangis Azmy telah menghilang.
“Lho, ini benar adanya. Cerita ini sudah turun temurun.”
Azmy mengangguk.
“Berarti yang ada di film itu terinspirasi dari kisah nyata?”
“Terusin, gih.”
__ADS_1
“Ninja itu asalnya dari Irak dan memiliki julukan “Assasin”. Orang Jepang mengadopsinya dan memberikan nama ninja agar berbeda dengan orang-orang Arab Timur Tengah. Nama assasin perlahan-lahan memudar dan berganti dengan popularitas ninja. Hingga akhirnya orang-orang Barat pun ikut serta memproduksi film yang berhubungan dengan ninja.
“Bertahun-tahun kemudian, kelompok ini tidak lagi terdengar dan istilah “Asassins” telah mengalami perubahan makna menjadi “Pembunuh Bayaran”. Dalam budaya pop, istilah ini diangkat ke dalam novel-novel dan layar kaca. Dalam kancah konflik di dunia Arab, anak-keturunan kelompok ini dikenal sebagai kaum Druze, suatu kelompok pro-komunis di Lebanon dan Suriah. Namun beberapa kelompok kecil masih bertahan hingga kini di sekitar wilayah tersebut.
“Assassin sebenarnya adalah lafaz dan istilah dari barat yang bersumber dari kata Hasyasyin. Hasyasyin adalah kelompok pembunuh rahasia yang terkoordinir dan terlatih dengan baik. Sebelum terjadinya Perang Salib, Hasyasyin dibentuk oleh Hassan Ibn Shabah yang tersingkir dalam suksesi di Mesir pada tahun 1090. Kemudian ia menggalang kekuatan Syi’ah di Syiria untuk membunuh para tokoh dan pimpinan Muslim Sunni (Ahlus Sunah wal Jamaah). Hassan juga membuat benteng Masyaf yang kuat di Alamut, sebelah selatan laut Kaspia dan utara Iran. Posisi benteng yang strategis ini mempermudah para hasyasyin melakukan penyusupan dan aksi pembunuhan mereka.
Azmy menganggukkan kepala tanda paham. Meskipun usianya belum genap satu dasawarsa, minatnya pada sejarah sangat tinggi. Buku-buku sejarah perang salib milik Ammar pun habis dilahap Azmy. Terkadang, bukunya tentang kisah kerajaan zaman Nabi Ibrahim dan Nabi Luth milik Ammar yang tebal pun ikut dibacanya.
“Assassins sebenarnya bukan hanya beda di permukaan, tapi memiliki perbedaan secara substansial dan doktrinal. Secara akidah sebenarnya Assassins tidak lagi bisa dipandang sebagai bagian dari kaum Muslimin karena mereka tidak mewajibkan sholat, zakat, dan puasa, sesuatu yang sangat esensial di dalam Islam.
“Benteng Alamut merupakan benteng terkuat karena berdiri di atas puncak pegunungan di mana hanya ada satu jalan untuk keluar dan masuk, itu pun sangat sulit dan terjal. Di dalam benteng yang merupakan peninggalan dari Kaisar Romawi Trajanus (98-117M) terdapat ruangan-ruangan yang membingungkan dan sebuah taman rahasia di tengahnya, di mana tidak setiap orang bisa mengaksesnya. Oleh Hassan al-Sabbah, Benteng Alamut digunakan sebagai markas besar kelompok tersebut.
__ADS_1
“Dari Alamut inilah kelompok Assassins menyebarkan terror ke seluruh lapisan kerajaan, baik dari pihak Syiah maupun lawannya Sunni-Abasiyah dan Seljuk. Masa-masa itu dikenal sebagai masa The Great Terror. Kekuatan Assassins ini demikian melegenda hingga menjadi pembicaraan kaum Salib Eropa."
Azmy mencoba mengingat kembali perkataan kakaknya. Yang ia tau, assasin adalah salah satu karakter game yang seringkali dideskripsikan sebagai penculik ataupun pembunuh bayaran yang handal. Maklum, sejak kecil sudah akrab dengan game membuatnya lebih mudah memahami istilah-istilah sejarah yang ada kaitannya dengan game yang ia mainkan.