Runtuhnya Pesantren Impian (PINDAH TULIS)

Runtuhnya Pesantren Impian (PINDAH TULIS)
Azmy, Pemilik Hati Malaikat


__ADS_3

Azmy membuka mata, ia melihat tangannya penuh dengan perban. Ibu dan Halim tertidur pulas di atas kursi dengan kepala bersandar di atas perutnya. Ia mencoba menggerakkan kakinya, tidak bisa. Hanya rasa sakit yang ia rasakan. Tangan kirinya mati rasa. Ia kembali mencoba, kali ini dengan lebih banyak tenaga lagi berharap tangan kanannya dapat bergerak.


“Ah...” Rintihnya.


Suara Azmy membuat Halim dan Ibu terbangun. Ibu segera mengingatkan Azmy.


“Jangan banyak gerak dulu. Masih belum dibolehin dokter.”


“Ini dimana, Bu?”


“Kamu dirumah sakit. Kamu tadi tertabrak mobil waktu pulang dari pengajian.”


Azmy mencoba mengingat kembali apa yang dialaminya. Semakin kuat ia mencoba memikirkan kembali kecelakaan itu, semakin sakit pula kepalanya. Bayang-bayang akan mobil box pengangkut barang menghantui pikirannya. Ia tidak tau kenapa harus mobil box yang ada di bayangannya. Perlahan ia mengumpulkan puzzle memori sebelum dirinya ditabrak lari itu. Bukannya tersusun, puzzle itu malah berantakan. Akhirnya ia memutuskan untuk tidak mengingat lagi apa yang telah menimpanya.


“Tangan kiriku susah digerakin, kenapa?” Tanya Azmy.


“Waktu jatuh tadi, tangan kirimu jadi tumpuan. Jadi, untuk sementara jangan dipaksa buat gerak dulu.” Ibu mengelus rambut anak bungsunya.


Halim tidak kuasa melihat kondisi Azmy sekarang. Air matanya selalu menetes tiap ia melihat sahabatnya yang terbaring tak berdaya.

__ADS_1


“Kamu kok disini, Lim?”


“Iya, My. Aku kesini sama kakakku. Dia sekarang di ruangan Mas Ammar”


“Mas juga disini?”


“Iya, My. Masmu ada disini.” Jawab ibu halus


“Sekarang dia dimana, Bu?”


Sebenarnya Ibu tidak tega untuk menceritakan kondisi Ammar. Ibu tidak ingin membebani pikiran Azmy dengan mengabarkan tentang kakaknya. Dengan melihat Azmy yang masih lemah dan tidak berdaya, ibu tidak ingin membebani anak bungsunya itu pikiran yang lebih berat.


Ibu menatap mata Azmy yang penuh harap. Ibu merasa kasihan jika tidak memberitahukan keberadaan kakaknya. Ibu akhirnya pasrah akan keadaan. Logika ibu kalah akan hati nuraninya. Ternyata ibu lebih tidak tega lagi melihat Azmy yang akan kepikiran tentang kakaknya kenapa tiba-tiba ada di rumah sakit. Karena takut akan menimbulkan tanda tanya yang lebih besar lagi, ibu memutuskan untuk angkat bicara.


“Masmu ada di ruangan sebelah. Ia masih koma.” Ucap Ibu lirih.


“Mas koma, Bu?” Suara Azmy juga tak kalah lirih. Matanya menyiratkan kesedihan mendalam.


“Iya. Kamu yang sabar ya. Mungkin ini ujian sebuah keluarga.”

__ADS_1


“Nggak apa kok, Bu. Jika kita sanggup melewatinya Tuhan pasti menaikkan derajat kita sekeluarga. Tuhan Maha Mengetahui apa yang akan terjadi kelak dan semua pasti ada hikmahnya.”


Perasaan haru Halim semakin menjadi, ia tidak menyangka Azmy akan berkata sedemikian. Berpikiran dewasa disaat kritis seperti ini sudah menjadi ciri khas Azmy. Memang tidak ada jalan lain kecuali bersabar menghadapinya.


Ibu setuju dengan pernyataan Azmy. Tidak ada gunanya meratapi kesedihan yang sedang terjadi dengan kesedihan yang lain. Bukannya tambah tenang, hal tersebut malah menjadi beban pikiran baru. Yang bisa dilakukan adalah berusaha sekuat tenaga diiringi doa agar lekas diberi kesembuhan. Tentunya kita harus menaruh pikiran positif tentang semua yang direncanakan Tuhan. Tuhan tidak tidur dan selalu mengawasi tiap-tiap hamba-Nya.


“Ayah dimana?”


“Ayahmu sama Mas.”


Azmy dan Ammar sama-sama berada di lantai dua rumah sakit. Ayah dan Ibu sengaja menempatkan mereka di dalam ruangan ICU agar mendapatkan perawatan yang intensif.


“Ruang ICU? Apa nggak salah dengar?” Batin Azmy. Tetapi ia percaya pasti ada seorang malaikat penolong bagi keluarganya.


Azmy merasa badannya sangat susah untuk digerakkan, terutama tangan kirinya yang tidak terasa apapun. Yang ia takutkan bukanlah kelumpuhan di beberapa bagian tubuh, tetapi ia belum bisa memberi manfaat orang banyak dari bagian yang kini sudah tidak berasa lagi, utamanya tangan kirinya.


Tepat di sisi kiri tempat Azmy berbaring, ada jendela yang memperlihatkan sebuah pohon besar yang menjulang melebihi lantai dua tempatnya dirawat. Ia berpikir, daun yang jatuh saja tak pernah membenci angin yang menerbangkannya, kenapa kita sebagai manusia membenci Tuhan yang sudah merancang adegan penuh hikmah ini?


Azmy memejamkan mata, berdoa berharap agar semuanya diberi keselamtan dan kesehatan agar dapat berkumpul seperti sediakala. Ibu mengelus lembut rambut Azmy, tidak tega melihat anaknya yang baru menginjak masa remaja ini harus merasakan dua cobaan berat dalam satu waktu.

__ADS_1


__ADS_2