Runtuhnya Pesantren Impian (PINDAH TULIS)

Runtuhnya Pesantren Impian (PINDAH TULIS)
Pemateri itu Menyimpan Rasa


__ADS_3

Ammar duduk di depan laptopnya, mulutnya komat-kamit membaca zikir pagi sambil memandangi laptop miliknya, mengoreksi materi yang akan ia sampaikan nanti.


Hari ini hari Minggu, hari dimana ia harus mengisi seminar mahasiswa baru di Universitas Islam Negeri Sunan Ampel Surabaya. Araca reunian teman sekamarnya dulu saat di pesantren juga dilangsungkan pada hari ini, tepatnya setelah magrib. Ia harus menyiapkan bahan sekaligus badan agar siap menghadapi dua acara ini, apalagi tempatnya agak berjauhan.


Waktu menunjukkan pukul tujuh pagi. Azmy tertidur pulas setelah begadang tadi malam hingga subuh tiba. Ayah sedang mencuci mobil sedannya di halaman rumah, sedangkan Ibu sedang memasak di dapur. Ammar melangkahkan kakinya menuju kamar mandi untuk bersiap-siap.


“Mas, nanti ikut pengajian di desa sebelah?” Tanya Azmy dengan mata yang masih agak merem.


“Pengajian di mana?”


“Di masjid desa sebelah.”


“Yang nyebrang jalan raya itu?”


“Iya...”


“Nggak kayaknya, mau ke Surabaya dulu.”


Ammar telah berpakaian rapi dan siap menuju UIN Surabaya. Ia berpamitan kepada ayah dan ibu, tidak lupa juga Azmy.


Empatp uberlalu, ia sudah sampai di Universitas. Di dekat gerbang sudah ada seseorang yang menyambutnya.

__ADS_1


“Cepet banget datangnya, tumben nggak telat.” Ucapnya.


“Jalanan nggak macet sih. Nggak ketemu polisi yang nyari jatah makan pagi juga.”


“Hahahah... bisa aja kamu.”


Jho, salah satu adik kelasnya saat masih kuliah di UIN Surabaya merupakan satu dari beberapa mahasiswa yang sering mengajak Ammar diskusi masalah filsafat maupun hal yang lain yang berhubungan dengan agama. Mereka berdua masuk ke sebuah gedung yang dekat dari gerbang belakang. Jho menunjukkan Ammar ruangan yang akan dipakainya untuk memaparkan beberapa kalimat, ternyata masih dibersihkan oleh panitia. Jho mengajaknya berkeliling di luar kampus.


“Kamu masih ingat Alfan?”


“Yang suka nyukur rambut itu?”


“Iya...”


“Liat itu, Mar. Itu barbershop miliknya.” Jho menunjuk salah satu barbershop di seberang jalan belakang UIN Surabaya.


“Senang juga liat teman bahagia.”


“Karyawannya juga banyak kok.”


“Hebat dia.”

__ADS_1


“Yang lebih hebat lagi itu sifatnya yang masih dermawan seperti dulu. Jarang sekali orang sukses yang masih ingat dengan kawan lama.”


“Ayo kesana, Jho.”


“Ntar, seminarnya mau dimulai ini.”


“Nanti aja wes...”


Mereka berdua kembali menuju kampus. Ruangan seminar telah dipenuhi oleh mahasiswa-mahasiswi. Mereka duduk rapi seperti menonton pertandingan sepak bola di tribun. Seminar ini bersifat umum dan tidak dipungut biaya sepeserpun. Sebenarnya, acara seminar bersifat ini tidak resmi karena yang dihadirkan bukanlah orang-orang besar yang terkenal, melainkan anak muda yang berprestasi. Seminar kali ini akan membahas tentang salat dari sudut pandang kesehatan.


Ammar dan Jho melangkah menuju kursi yang ada di depan. Disana telah duduk seorang perempuan dengan baju merah marun dan kerudung yang sama. Ammar kaget, di mejanya sudah ada notebook miliknya yang tertinggal di kereta. Ini adalah pertemuan ketiganya dengan Icha. Pertemuan yang tidak diduga.


“Pembicaranya ternyata masih muda.”


“Ganteng, ya.”


“Wah, pembicaranya boleh tuh.”


Suara bisikan para peserta seminar terdengar sampai telinga Ammar. Ia tidak mempedulikan apa yang mereka katakan. Ia menganggap ucapan itu ditujukan kepada Jho yang punya wajah mirip orang korea dengan mata sipitnya. Sepertinya ia tidak sadar ada yang cemburu mendengar perkataan peserta seminar. Pipi Icha memerah.


Apakah ini yang dinamakan cinta?

__ADS_1


Jho selaku moderator membuka acara seminar. Mula-mula, ia memperkenalkan kedua pembicara terlebih dahulu. Icha selaku pembicara pertama adalah seorang dokter lulusan UIN Jakarta yang akan melanjutkan pendidikan dengan mengambil ilmu spesialis penyakit dalam. Ammar selaku pembicara kedua adalah seorang penceramah kondang yang hobi untuk mengunjungi situs-situs bersejarah.


__ADS_2