
“Azmy ...” Teriakan ibu dari dalam kamar Azmy.
Ammar, Pakde Ghofur, dan Pak Salam sontak kaget mendengar teriakan tersebut. Mereka yang sedang asyik mengobrol di teras, seketika berlari masuk ke kamar Azmy.
“Kenapa, Bu?” Tanya Ammar sedikit terengah-engah.
“A-adikmu, Nak.” Jawab ibu lirih.
“Kenapa Azmy?”
Ibu hanya diam tanpa suara.
Ammar yang penasaran sekaligus panik, mencoba melihat adiknya dari jarak yang lebih dekat.
Ia memeriksa detak jantung adiknya. Tidak ada denyut.
Ia menempelkan jari telunjuknya ke hidung Azmy. Tidak ada hembusan apapun.
“Innalillahi wa inna ilaihi roji’un.” Ammar menundukkan kepala diikuti beberapa air matanya yang menetes di baju adiknya.
Azmy meninggal.
Adik kandungnya telah tiada.
Berawal dari ayah, kini ia harus ditinggal adik semata wayangnya.
__ADS_1
Azmy terbaring lemah di kasur, seluruh badannya lemas. Keringat terlihat samar di dahinya. Tangannya dingin hingga kakinya. Wajahnya memucat. Bibirnya mulai membiru. Ia telah pergi meninggalkan dunia untuk selamanya.
Malaikat maut ternyata tak memberi salam apapun ketika datang menjemputnya. Bahkan untuk sekedar memberi pertanda kedatangannya pada Ammar yang sedang berbicara di teras rumah saja enggan. Tidak ada angin, tidak ada hujan, pun kondisi malam yang sangat tenang dengan langit bertabur bintang.
Malam Jumat, malam yang sangat sacral bagi sebagian orang, tak terkecuali Ammar. Malam di mana Ammar harus bermimpi bertemu kakek saat ia sudah divonis meninggal. Malam di mana adik tersayangnya pulih dari sakit akibat kecelakaan. Malam di mana ia harus berpisah dengan ayahanda tercinta. Malam di mana ia harus ikhlas ditinggal adik satu-satunya yang ia miliki. Malam di mana ia harus berpisah dengan dua orang terdekat yang paling dicintai dan disayanginya. Malam yang penuh duka.
Kesedihan yang dialami Ammar semakin memuncak ketika mengetahui adiknya kini telah tiada. Dua peristiwa malam Jumat itu menjadi pukulan telak untuk batinnya. Tentu saja, ibu pasti lebih terpukul dengan kenyataan pahit ini. Hampir saja ia pingsan akibat shock jika Ammar tidak segera menenangkan tangisannya.
Azmy meninggalkan dunia yang fana dengan senyum mengembang di bibirnya. Wajahnya mengisyaratkan jika ia sudah merasa bahagia sebelum ruhnya diangkat dari jasadnya.
“Sing sabar, Le.” Pakde Ghofur menenangkan Ammar selaku anak dari gurunya.
Pakde Ghofur keluar menuju teras rumah menemui tetangga dan kerabat yang lain kemudian menceritakan apa yang sedang terjadi di kamar Azmy. Sontak mereka semua terkejut dengan apa yang diceritakan pakde.
“Sebaiknya sih segera dikubur nggak usah nunda besok.” Ucap Pak Salam.
“Iya, mumpung masih jam delapan ini. Langitnya juga cerah.” Jawab tetangga yang lain.
“Baiklah, bagi tugas.” Pakde Ghofur mengatur keseluruhan prosesi pemakaman. Mulai dari menyiarkan berita meninggalnya Azmy, memandikan, mengkafani, imam salat, hingga yang bertugas mengubur.
Pak Salam dan tetangga Ammar yang lain menyiapkan tempat untuk memandikan jenazah Azmy. Pakde Ghofur berangkat ke rumah nenek serta kerabat-kerabat yang lain. Lek Ipul menyiarkan berita meninggalnya Azmy dari musalla dekat rumah hingga ke masjid desa.
Beberapa orang mulai berdatangan ke rumah Azmy, tidak menyangka kabar duka beruntun itu terjadi. Kebanyakan dari mereka juga kaget. Baru saja tahlil setelah hari ketujuh meninggalnya ayah berlangsung, kini harus disusul dengan berita kesedihan yang baru.
“Kenapa harus secepat ini, Nak?” Tanya ibu pada Ammar.
__ADS_1
Ammar hanya diam dalam kesedihannya. Ia mencoba untuk tetap tegar.
Diluar rumah, beberapa tetangga dan kerabat telah menyiapkan prosesi pemandian jenazah. Ammar pamit pada ibunya di kamar, ia harus memandikan jenazah adiknya didampingi oleh Pak Salam, Pakde Ghofur, dan Lek Ipul. Kain kafan yang akan digunakan Azmy sudah disiapkan di kamarnya.
Ammar memandangi adiknya lekat-lekat. Sembari menuangkan air, ia memandangi seluruh tubuh adiknya yang bersih tanpa terlewat setitik pun. Air matanya kembali pecah saat melihat wajah adiknya yang tersenyum. Ia dan tiga orang lain yang memandikan Azmy berada dalam keheningan yang agak lama sesaat setelah basuhan yang terakhir.
Azmy telah selesai dimandikan, kini ia harus dikafani. Ibu tak kuasa menahan air matanya saat ikatan pertama. Tangisnya tumpah di kain kafan yang putih bersih itu. Ibu menangis tanpa suara di samping Azmy. Ia memanggil-manggil nama anak bungsunya dari dalam hati. Ammar yang ada di sebelah ibu mencoba meredakan air mata ibu yang terus menetes. Mata ibu semakin sembab karena kebanyakan menangis.
Ammar mengelus pundak ibunya. Ia semakin iba ketika melihat mata ibu yang semakin memerah. Ibu yang baru satu minggu ditinggal suami yang menemaninya selama lebih dari dua puluh tahun, kini harus merelakan dirinya untuk ditinggal orang terdekat untuk kali kedua. Tentu orang yang memiliki kesabaran biasa mungkin sudah menyerah terhadap keadaan yang menimpanya sekarang.
Rasulullah saja merasakan kesedihan yang mendalam ketika ditinggal oleh dua orang yang beliau sayangi. Dua orang yang selalu mendampingi beliau dalam berdakwah, yang selalu melindungi beliau dari kejaran kaum kafir Makkah. Dua orang tersebut adalah Siti Khadijah, istri beliau dan Abu Thalib, paman beliau.
Pantas saja jika Rasulullah sedih ditinggal istrinya, Siti Khadijah. Istri beliau yang merelakan seluruh hartanya untuk kepentingan Islam. Yang ikhlas diajak untuk hidup sederhana setelah menikah. Yang selalu mengabdikan dirinya untuk Islam dan kaum muslimin melebihi perempuan manapun.
Sementara paman beliau, Abu Thalib, adalah orang yang telah mengasuh beliau sepeninggal kakek beliau, Abdul Muttholib. Ia juga yang melindungi beliau dari kejaran orang-orang kafir Makkah selama berdakwah sebelum hijrah ke Madinah. Ia juga yang menjadi wali ketika beliau menikah, dan yang paling disayangkan oleh beliau karena seumur hidupnya, Abu Thalib belum pernah sekalipun mengucapkan dua kalimat syahadat.
Makhluk pilihan, terbaik, pemimpin para Nabi dan Rasul saja merasakan kesedihan mendalam ketika berpisah dengan orang yang beliau cintai. Apalagi dengan orang biasa yang tidak mempunyai sifat ma’shum[1] seperti beliau, yang tingkat kesabarannya sangat jauh dari tingkat kesabaran beliau juga. Pastinya mereka merasakan kesedihan yang tiada terkira karena cinta mereka akan dunia sangat berbeda dengan Rasulullah, meskipun beliau ditegur oleh Allah tidak lama kemudian karena terlalu bersedih ketika ditinggal paman serta istri yang beliau cintai.
“Memang pilihan yang terbaik ketika tertimpa suatu cobaan dari Tuhan adalah pasrah terhadap apa yang sudah digariskan oleh Allah sejak zaman azali. Ketetapan Allah tidak serta merta membawa keburukan bagi para hamba-Nya. Allah Maha Pengasih. Allah Maha Adil. Allah Maha Penyayang. Allah Maha Bijaksana.” Ammar coba menghibur ibunya dengan kutipan pidato ayah dulu.
“Allah selalu memberikan yang terbaik bagi para hamba-Nya yang beriman dan bertakwa. Yang senantiasa bersabar dalam menghadapi cobaan dari-Nya. Setiap sesuatu yang diberikan Allah kepada makhluknya pasti mempunyai hikmah tersendiri dan itu hanya Dia-lah yang mengetahuinya.”
Tangis ibu perlahan mereda, tapi itu tak cukup untuk membendung air mata yang terus mengalir. Ammar hanya bisa menyemangati ibu sambil memandang wajah damai adiknya itu. Ia sebenarnya juga bersedih, tapi akan lebih bersedih lagi jika harus melihat ibundanya sedemikian rupa. Ia memilih menunda kesedihan demi memberi harapan baru untuk ibu.
[1]Terhindar dari perbuatan dosa.
__ADS_1