Saat Aku Harus Memilih

Saat Aku Harus Memilih
Bab 1 Kebingungan Holy


__ADS_3

Holy terlahir dari orang tua yang biasa saja. Ayahnya memiliki warung makan mi ayam dan ibunya selalu setia membantu ayahnya berjualan. Dengan gorobak mi ayam yang berada di depan rumahnya, keluarga mereka dapat hidup berkecukupan. Cukup untuk makan sehari-hari dan menghidupi ketiga anaknya.


Holy memiliki satu kakak dan satu adik. Kakaknya bernama Heidy berusia 23 tahun yang sangat telaten dalam merawat dirinya. Semenjak lulus kuliah dan mendapat pekerjaan dia sering membeli skincare untuk merawat wajahnya. Dan berbanding terbalik dengan adiknya yang agak tomboy yang masih duduk di bangku SMA kelas 1. Walaupun tomboy, adik Holy yang bernama Sesy ini bisa dikatakan sangat cantik. Alisnya tebal dan rapi juga matanya yang bulat, semua itu asli dari lahir.


Sedangkan Holy? hmm... bisa dibilang dia anak kedua yang sangat membebaskan dirinya dalam berekspresi. Dia gadis yang memiliki rasa penasaran yang sangat kuat. Jika dia penasaran akan satu hal maka dia akan bertanya sampai dia menemukan jawaban yang memuaskan hatinya.


Gadis berumur 18 tahun ini memiliki wajah yang biasa saja tidak ada yang bisa ditonjolkan. Matanya bulat tapi bukan bulat sempurna, hidungnya tidak bisa dibilang mancung juga tidak bisa dibilang pesek, dan alis agak sedikit terlihat walaupun kurang rapi. Tapi dari semuanya itu hal yang paling terlihat dari dirinya adalah kepercayaan dirinya.


Semua kisahnya berawal saat kelulusan SMA, Holy mengalami kebingungan yang sangat membuatnya kacau dan bingung. Dia harus menentukan harus melanjutkan pendidikannya di bangku kuliah atau tidak. Orang tuanya yang hanya mengandalkan warung mi ayam meyakinkan Holy kalau mereka mampu membiayai kuliahnya, sedangkan Holy tidak mau membebani orang tuanya. Dia memiliki pemikiran untuk membuat usaha sendiri dan memiliki penghasilan sendiri.


Warung mi ayam yang diberi nama "Mi Ayam Yumyum" ini bisa dibilang cukup rame setiap hari ada saja yang makan di sana apalagi jika jam makan siang. Para mahasiswa dan karyawan di sekitar rumahnya akan datang memenuhi semua tempat duduk yang disediakan. Dari situlah orang tua Holy meyakinkan Holy untuk tidak ragu melanjutkan pendidikannya di bangku kuliah.


"Ayah, emangnya apa yang akan aku dapatkan jika aku kuliah?" tanya Holy kepada ayahnya saat mereka sekeluarga sedang menikmati makan malam.


"Tentu saja kamu bisa mendapatkan banyak ilmu. Kamu bisa memilih ingin mendapatkan ilmu apa, misalnya kamu ingin mencari ilmu untuk membuat rumah bisa masuk arsitek, kamu ingin membuat baju bisa masuk tata busana, atau kamu ingin membuat keributan kamu bisa masuk politik," jawab ayah dengan serius walaupun di akhir dia tertawa kecil.


"Ah Ayah kebanyakan nonton berita tuh yang tiap hari isinya politik," kata ibu sambil menuangkan air minum di gelas Sesy.

__ADS_1


"Hmm kalau kakak kenapa masuk sastra Indonesia?" Holy melayangkan pertanyaan kakaknya yang dari tadi sudah menyelesaikan makanannya tapi masih asik foto-foto di smartphone-nya.


"Biar bisa bikin status dan caption yang bagus di facebook dan instagram biar nanti dibayar sama Mark Zuckerberg hihihi..." jawab Heidy dengan genitnya.


"Dih mimpi lu..." sela Sesy yang masih sibuk dengan makanannya. Dan Heidy pun melayangkan tatapan sinisnya ke adik terakhirnya itu.


Holy masih diliputi kebingungan. Dia punya cita-cita tapi cita-citanya hanya ingin bisa menghasilkan uang sendiri, tapi tidak tahu dengan cara seperti apa.


***


Keesokan harinya tepat hari Minggu Holy memulai harinya dengan bersiap-siap menuju rumah temannya yang berada tidak jauh dari rumahnya hanya sekitar 500 meter. Namanya Artyo. Cowok yang paling terkenal di SMAnya yang juga merupakan mantan ketua OSIS. Dia tidak begitu tampan, tapi dia memiliki kharisma sehingga banyak wanita yang mengaguminya. Tapi tidak dengan Holy, mereka hanya teman dari kecil, mereka sering bermain bersama, bahkan semenjak TK sampai SMA mereka selalu satu sekolah.


Holy datang ke rumah Artyo, menyapa Ayah Ibu Artyo yang sedang berada di depan rumah dengan senyum ceria dan tangan kanan yang diangkat. "Halo Om Tante, sedang apa?" basa basi yang sering dia katakan walaupun dia sudah melihat apa yang sedang dilakukan oleh lawan bicaranya.


"Ini lagi nanem bibit cabe, Ly," jawab ibu Artyo.


"Hayo kamu pasti mau bantuinkan sini sini?" kata ayah Artyo sambil menyodorkan cangkulnya.

__ADS_1


"Hahaha... enggak Om saya nanem cabe-cabean aja nanti," jawab Holy dan langsung kabur ke dalam rumah dan menuju kamar Artyo.


Sesampainya di depan kamar Artyo, Holy langsung masuk dan mengagetkan Artyo yang sedang asik memperhatikan ikan cupangnya yang berlengak-lenggok bagai model di dunia binatang.


"Apaan sih Ly, kamu gangguin quality time-ku sama Beti aja," kata Artyo dengan ketus.


"Tyo kamu harus bantuin aku sekarang juga! Aku harus lanjut kuliah atau kerja atau bikin usaha sendiri? Aku bener-bener bingung. Kamu enak udah punya cita-cita jadi dokter dan aku yakin kamu bisa masuk karena kamu pinter dan orang tuamu juga mampu membiayai," kata Holy dengan bicaranya yang cepat sambil mengambil posisi duduk di tempat tidur Artyo yang kosong. "Kalau aku pas-pasan banget nilai sekolah nggak ada yang benar-benar tinggi dan yang aku suka. Paling ya pelajaran sejarah itu pun hanya suka ceritanya pas disuruh ngafalin ya nggak bisa."


"Holy coba pelan-pelan ngomongnya ya... Ini kan emang waktu untuk daftar di universitas negeri tinggal satu minggu lagi, tapi bukan berarti kamu harus stres dan terburu-buru, pikirkan perlahan-lahan. Dalam enam hari kamu bisa survei apa yang akan membuatmu bersemangat dalam menjalani hidup."


Holy terdiam.


"Yang membuatku bersemangat dalam menjalani hidup? Aku bersemangat saat memakai baju yang matching dari ujung kaki sampai ujung kepala. Aku bersemangat saat melihat orang lain percaya diri. Aku bersemangat saat orang berterima kasih kepadaku. Semua yang membuatku bersemangat apakah bisa menghasilkan bagiku?" pikiran Holy melayang ke antah-berantah.


"Bagaimana jika enam hari yang tersisa ini kamu pakai untuk mencari jawaban dari pertanyaanmu? Aku sebagai temanmu siap membantumu." Artyo meyakinkan Holy kalau dia siap membantunya. Artyo sendiri sudah menyelesaikan semua persyaratan dan pendaftarannya di fakultas kedokteran di salah satu universitas ternama di kota mereka. Sehingga dia tinggal menunggu pengumuman selanjutnya.


Holy menatap Artyo dengan kagum, dia merasa sangat terbantu dengan saran-sarannya.

__ADS_1


Mereka berdua pun merencanakan segala sesuatu yang harus dilakukan besok.


__ADS_2