
Holy sudah sampai di kampus dengan membawa banyak beban yang masih memberatkan hatinya. Wajahnya yang pucat karena tidak memakai make up, membuat Holy terlihat berbeda dari dia biasanya. Dia yang biasanya tidak pernah lupa menggambar alis dan memakai lipstick, hari ini sangat percaya diri dengan wajah naturalnya yang hanya memakai bedak dan sedikit lipbalm.
Setiap berpapasan dengan orang-orang yang menatapnya aneh, dia hanya membalasnya dengan tersenyum. Ada satu hal yang akan dilakukan oleh Holy sampai dia tidak sempat dan tidak mood untuk memakai make up. Hari ini dia akan menemui Natan untuk menuntaskan perasaan yang mengganggunya.
Sebelum berangkat ke kampus Holy sudah mengabari Natan untuk datang ke taman kampus saat jam istirahat siang. Taman kampus merupakan tempat yang sangat teduh dan tempat yang cocok untuk para mahasiswa mengerjakan tugas bahkan berpacaran. Tidak begitu ramai dan berisik, hanya suara burung-burung yang sering terdengar.
Holy sudah duduk manis menunggu Natan. Hampir sepuluh menit dia menunggu, akhirnya Natan datang juga. Dia masih menyambut Natan dengan senyuman manis walaupun hatinya terasa takut.
"Halo sayang," sapa Natan dengan ceria dan segera mendekap Holy. "Kok hari ini kamu terlihat lebih cantik?"
"Jadi selama ini aku nggak cantik?" jawab Holy ketus.
"Bukan gitu, kamu jadi terlihat lebih fresh aja."
"Jadi kalau aku pakai make up aku nggak terlihat fresh?"
"Bukan gitu..."
"Udah cukup, aku mau langsung ngomong," sergah Holy yang semakin kesel.
"Ada apa sayang?"
"Aku mau kita putus," kata Holy dengan lantang yang membuat napasnya tersengal.
"Ada apa? Kenapa tiba-tiba minta putus?" mendengar pernyataan Holy barusan membuat Natan refleks memegang tangan Holy erat dan mencoba menatap mata Holy dengan tajam. "Apa kamu nggak suka semalam aku nyanyiin? Aku selalu berusaha dekat denganmu, aku juga selalu berusaha menjagamu?"
Holy tertunduk dan dia mulai meragu akan keputusannya, "Tapi semalam kamu benar menyebalkan, bagaimana bisa kamu yang menyeruhku datang ke konser tapi kamu nggak menganggapku ada. Setidaknya untuk membalas chat-ku walaupun singkat. Dan kamu nggak tahu betapa sakitnya hatiku ketika melihat wanita yang memegang HP-mu dengan santai, sedangkan aku beberapa kali menelepon HP itu tapi nggak diangkat."
"Holy, dia hanyaaa teman," suara Natan sedikit bergetar.
Holy mengangkat kepalanya. Menatap mata Natan, mencari sebuah kejujuran dari tatapan itu. Dia tidak bisa membaca tatapan mata bening itu, hanya saja hatinya berkata untuk tetap ingin mengakhiri hubungan mereka.
__ADS_1
"Aku tetap ingin kita putus," kata Holy dengan masih meragu.
"Sekarang kamu yang jujur, apakah ada alasan lain selain yang kamu ungkapkan tadi sampai kamu minta putus?"
"Hm aku tidak punya alasan lain," pikiran Holy tertuju kepada Artyo yang jauh di Jerman, orang yang sudah memiliki sebagian besar isi hatinya. Hanya saja dia tidak berani mengukannya kepada Natan.
"Kalau aku tidak mau putus bagaimana?" Natan menggenggam tangan Holy semakin kuat.
"Aw sakit," Holy mencoba melepaskan genggaman Natan. "Baiklah aku akan pikirin lagi."
Natan melepaskan genggamannya. "Holy aku sayang banget sama kamu. Kalau kamu mutusin aku, aku bisa sangat sakit hati."
Holy pun hanya bisa tersenyum ganjil mendengar kata-kata Natan. Dia berharap besok dia mendapatkan alasan yang tepat untuk mengakhiri hubungannya dengan Natan.
***
Holy mencoba lebih cuek kepada Natan. Dia tidak ingin memberi perhatian lebih dan dia hanya akan membalas pesan Natan seadanya. Dia berharap perlakuannya membuat Natan tidak betah dan menjauh darinya.
Komunitas itu sering membagikan informasi tentang event-event fashion show yang sedang berlangsung dan juga beberapa lomba fashion. Bahkan mereka juga sering mengadakan fashion show untuk kalangan anggota mereka sendiri, karena komunitas mereka yang masih terkenal di kalangan kampus saja.
Holy menjadi semakin semangat mengejar mimpinya setelah bergabung di komunitas itu. Dia juga sering mengajak Rere untuk ikut bergabung di komunitas itu, hanya saja Rere lebih memilih menghabiskan waktu bersama pacarnya. Rere hanya sering memberikan semangat kepada Holy, saat Holy sedang mengikuti event lomba ataupun harus membuat busana yang akan ditampilkan di fashion show sekomunitas.
Holy dan Rere sedang asyik duduk di sebuah cafe baru dekat kampus mereka. Holy sedang menyiapkan desain untuk mengikuti sebuah event lomba nasional.
"Rere menurut ini bagus nggak?" Holy memperlihatkan desainnya kepada Rere.
"Bagus Ly! tapi mungkin bagian lengannya terlalu menonjol sehingga menutup pola bagian pinggangnya," jawab Rere dengan memainkan pencil di mulutnya.
"Okey deh akan ku perbaiki. Makasih Re udah mau bantuin," Holy seperti ingin mengecup pipi temannya itu.
"Eits, nggak boleh ini hanya untuk pacarku," kata Rere sambil terkekeh.
__ADS_1
"Huh, dasar bucin," keluh Holy yang akhirnya ikut tertawa.
"Eh tunggu, akhir-akhir ini aku udah jarang liat Natan datangin kamu di kampus, ke mana dia?" tanya Rere yang membuat Holy terdiam sejenak.
"Mungkin dia lagi mengejar mata kuliah yang tertinggal," jawab Holy dengan perasaan bodo amat.
"Kalau dia punya cewek lain kamu nggak sakit hati?"
"Enggaklah aku sih membebaskan dia mau dekat sama siapa aja, mau nyari pacar baru juga nggakpapa."
"Kamu yakin? Nanti kamu sedih trus nangis-nangis lagi sama aku. Susah loh dapat cowok setampan Natan yang juga punya jiwa kepemimpinan dan juga kelihatan sayang banget sama kamu."
"Iya sih aku juga nggak menyangka bisa berpacaran sama cowok yang hampir sesempurna itu. Tapi ada hal yang masih mengganggu pikiranku, aku merasa tertekan selama pacaran dengan dia. Aku nggak bisa bebas mengerjakan apa pun yang aku suka. Dan setelah mulai menjauh dari dia baru sedikit demi sedikit aku bisa menemukan kesenanganku lagi."
"Berarti intinya sekarang kamu senang kalau Natan juga menjauhimu?"
"Hehe iya," Holy tersenyum sampai memperlihatkan sederet giginya yang putih itu.
"Tau gitu, dulu aku rebut aja si Natan dari kamu. Hahaha..."
Holy tiba-tiba melihat Reno muncul dari pintu masuk cafe, Reno terlihat ingin mengagetkan Rere dari belakang. Holy hanya bisa senyum-senyum menahan tawanya setelah melihat wajah Reno berubah setelah mendengar kata-kata Rere.
"Oh jadi mau rebut Natan?" sahut Reno yang mengagetkan Rere.
"Eh sayangku udah datang. Hehehe becanda loh, mana mungkin aku rebut Natan sedangkan aku udah punya pacar seganteng kamu." Rere mulai merangkul pacarnya dan berusaha membuat pacarnya kembali tertawa.
"Ehem, masih ada aku nih. Mesra-mesraannya nanti aja kalau udah berduaan."
"Maaf ya Ly, mesra-mesraan adalah kelebihan kami," kata Rere dengan genit.
Holy hanya bisa menggeleng-gelengkan kepalanya melihat perilaku temannya itu.
__ADS_1