
Riuh teriakan para penonton semakin meriah, semakin malam konser itu semakin ramai. Bintang tamu yang ditunggu-tunggu sebentar lagi akan naik panggung. Penonton mulai dipenuhi oleh cowok-cowok yang berlomba untuk mendekati panggung. Mereka semakin mendesak, membuat para penonton wanita memilih untuk mundur.
Holy pun memilih untuk mencari tempat yang aman. Dia dan Rere yang sempat terpisah akhirnya bertemu lagi.
"Holy kayaknya aku sama Reno mau duluan, soalnya kami mau makan, tadi nggak sempat makan waktu ke sini. Kamu mau ikut nggak?" tanya Rere dengan wajah kelelahan sambil menggandeng tangan Reno.
"Pengen ikut sih, tapi aku harus ketemu Natan dulu," jawab Holy.
"Oke, nanti kalau udah ketemu Natan kamu nyusul aja, aku sama Reno mau makan di food court 24 jam. Nanti kabarin ya kalau jadi nyusul, Daaah," Rere sedikit terburu-buru, tanpa menunggu jawaban Holy dia berbalik dan melangkah pergi.
"Dah Holy," kata Reno yang kemudian mengikuti langkah Rere. Dia pun merangkul pinggang Rere agar tidak terpeleset karena Rere terlihat berjalan sedikit sempoyongan saking laparnya. Mereka berdua pun pergi meninggalkan Holy sendiri.
"Hati-hati ya kalian," seru Holy dengan wajah khawatir.
Holy menyalakan HP-nya, dia belum juga mendapatkan balasan dari Natan. Dia menelepon untuk ketiga kalinya juga tidak diangkat. Holy pun mengambil keputusan untuk menghampiri Natan di belakang panggung.
"Permisi mau tanya dong Natannya ada di dalam nggak?" tanya Holy kepada seorang laki-laki yang sedang duduk sendiri di pintu belakang panggung. Dia menguatkan dirinya agar tidak takut demi bertemu Natan.
"Ada, masuk aja Kak," jawab wanita yang terlihat seperti laki-laki itu. Suaranya membuat Holy sedikit terkejut karena tidak menyangka bahwa yang duduk itu adalah seorang wanita.
Holy mencoba memperhatikan dada wanita itu, "Oh iya dia memang wanita" gumam Holy dalam hati. "Makasih ya," jawab Holy senang.
Holy masuk perlahan, dia melihat beberapa ruangan kecil ada bertuliskan penampil satu, dua, dan tiga. Holy merasa itu adalah ruang untuk para penyanyi, maka dia pun melangkah lebih dalam lagi. Dia menemukan ruangan yang tertutup bertuliskan PANITIA. Holy pun masuk ke ruangan itu berharap dia dapat bertemu dengan Natan.
Dengan wajah polos, Holy perlahan membuka pintu itu. Dia melihat seorang wanita sedang duduk sambil memainkan HP. HP yang tidak asing di matanya.
"Natannya mana ya?" tanya Holy kepada wanita itu.
__ADS_1
Wanita itu menatap Holy sayup dan memberi senyuman jutek. "Natan lagi ke toilet," jawabnya singkat.
"Hei Holy, kamu kok ada di sini?" Natan tiba-tiba sudah ada di belakangnya.
"Aku nyariin kamu, kamu tuh dihubungi nggak bisa. Kamu yang nyuruh aku ke sini tapi malah dibiarin sendiri."
"Hehe maaf aku sibuk di belakang. Tadi aku kan udah ngasih kamu sebuah lagu, senengkan?" ucap Natan dengan santai tanpa merasa bersalah sama sekali.
"Seneng, tapi kalau ditinggalin seperti ini nggak jadi seneng. Ngomong-ngomong kenapa HP-mu dipegang sama cewek itu?" selidik Holy curiga.
"Oh soalnya dia mau ngabarin keluarganya kalau akan pulang agak telat, HP-nya lagi rusak. Kamu jangan mikirin macam-macam, Ly."
Holy melirik wanita yang masih duduk dengan santai sambil memegang HP Natan.
"Sayang, dia hanya teman kepanitiaan di konser ini," kata Natan yang merasa Holy mulai cemburu.
"Yaudah, aku mau balik aja."
"Kamu nggak mau nganterin aku pulang?" sergah Holy yang berharap Natan mengantarnya.
"Aku harus nungguin konser ini selesai Ly, maaf aku nggak bisa antar. Kamu pesen taksi online dulu ya," wajah Natan memperlihatkan raut bersalah.
"Huh nyebelin banget! Yaudah aku juga bisa pulang sendiri." Holy kesal dan segera pergi dari tempat itu.
"Maafkan aku Ly," teriakan Natan samar terdengar.
***
__ADS_1
Holy memutuskan untuk memesan taksi online untuk pulang. Dia tidak lupa mengabari Rere agar tidak menunggunya karena dia akan langsung pulang.
Selama perjalanan Holy hanya memperhatikan jalan dengan hati panas. Dia sangat kesal melihat Natan yang tidak memperhatikannya dan membiarkan dia pulang sendiri. Padahal dia sudah bela-belain untuk datang ke konser itu demi bertemu dengan pacarnya.
Semakin lama dia memikirkan Natan, semakin kesal juga hatinya. Dia pun mulai mencari-cari alasan untuk memutuskan hubungannya dengan Natan. Dia tahu tidak akan mudah memutuskan hubungannya dengan Natan karena orang-orang sefakultasnya mengangap hubungan mereka sangat cocok ditambah lagi Natan yang terlihat sangat mencintai Holy.
Sesampainya di rumah, Holy masuk ke kamar Heidy yang sekarang dipakai oleh Sesy. Dia merebahkan tubuhnya di samping adiknya yang masih fokus main game.
"Dek kamu kok belum tidur?"
"Nggak liat apa aku lagi serius main, jangan di ganggu dulu," jawab Sesy tanpa melihat ke arah Holy.
"Mainan terus kerjaanmu," kata Holy sambil meregangkan badannya. "Oiya Dek malam ini kakak tidur di sini ya?" tanya Holy yang membuat Sesy bereaksi dan memandang kakaknya dengan heran.
"Kenapa? Kakak kan udah punya kamar sendiri."
"Aku kangen aja tidur bareng sama Adikku yang imut ini," Holy mencubit pipi chubby Sesy.
"Aw sakit!" gerutu Sesy yang masih serius dengan gamenya. "Kayaknya Kakak lagi ada masalah percintaan ya?" Sesy mematikan HP-nya dan mulai ingin tahu apa yang terjadi dengan kakaknya itu.
"Huhu iya nih Dek, aku butuh teman curhat, cuma kamu yang bisa jadi teman curhatku sekarang." Holy mengambil posisi duduk agar enak cerhatnya.
Holy pun menceritakan kejadian tadi dari A sampai Z ke Sesy. Sesy sebagai anak SMA yang sudah mengenal tentang masalah percintaan berusaha menghibur kakaknya.
Walaupun Sesy belum pernah berpacaran karena kepribadiannya yang sedikit cuek dengan laki-laki, tapi dia memiliki banyak teman wanita yang sering meminta sarannya ketika mempunyai masalah dengan pacar mereka. Sesy bisa sangat menenangkan ketika ada yang curhat dengannya dan akan berusaha memberikan saran. Entah dari mana dia belajar tentang masalah percintaan, mungkin juga dari novel-novel cinta yang sering menemaninya saat bosan bermain game.
Hari semakin larut, Sesy yang awalnya bersemangat mendengar cerita Holy menjadi semakin ngantuk dan tanpa sadar dia sudah memejamkan matanya. Holy yang sedang asik bercerita sambil memainkan rambutnya tidak sadar jika adiknya sudah tertidur. Setelah dia menengok ke arah adiknya, baru dia sadar kalau adiknya sudah tidur cantik dengan tangan yang memegang pipi.
__ADS_1
"Duh malah ditinggal tidur, pantes aja dari tadi nggak ada suaranya," kata Holy yang tertawa geli melihat adiknya.
Holy pun juga segera membersihkan wajah, mengganti bajunya dengan baju tidur, dan bersiap tidur. Holy berharap besok dia dapat berpikir lebih jernih dan menyiapkan semua keputusan dengan baik.