
Holy dan Natan semakin dekat. Natan sering menghampiri Holy di kampus saat jeda jam kuliah bahkan ketika jam kosong. Natan yang biasanya hanya nongkrong di kantin dan di ruang UKM sekarang punya kebiasaan baru yaitu menemani Holy di perpustakaan.
Rere yang merasa jadi orang ketiga kadang memilih untuk menjauh dan memerhatikan Holy dari jauh. Dia takut temannya diapa-apain sama Natan. Tapi kadang Holy yang menyuruh Rere untuk tetap bersama-sama dengan mereka, karena kalau ada Rere suasana menjadi lebih seru kata Holy.
Saat di kelas Rere sering menanyakan hubungan Holy dengan Natan yang menurutnya belum jelas.
"Ly, kalian berdua sebenernya udah pacaran belum sih?"
"Kepo ya? Tanya aja sama Natan," ucap Holy yang masih fokus mendengar penjelasan dosen.
"Aku temenmu loh, masa iya aku tanyanya sama Kak Natan," Rere berpura-pura sedih. "Tapi kalau itu maumu baiklah aku akan tanya sendiri sama Kak Natan." Rere pun buru-buru mengambil HP-nya.
"Eh...eh... jangan, jangaan..." teriak Holy yang membuat dosen dan teman-teman sekelasnya menengok ke arahnya. Holy pun menjadi salah tingkah dan hanya bisa senyum-senyum sambil minta maaf. "Huh gara-gara kamu nih, aku jadi malu-maluin gini," kata Holy kesal dengan suara yang hanya bisa didengar Rere.
"Hahaha rasain makanya jangan pelit-pelit info kalau sama aku," bisik Rere. "Gimana kalian berdua udah pacaran belum?" Rere masih belum menyerah.
"Hm belum jelas sih, tapi di chat dia udah panggil-panggil aku 'Beb'," jawab Holy senyum-senyum.
"Kok belum? Harus segera diresmikan dong kalian udah lama jalan bareng."
"Baru juga dua minggu Re, dan aku juga masih menikmati masa-masa pendekatan ini."
"Masa sih baru dua minggu? Kok aku berasa udah dua bulan ya. Hihi..." Rere menertawakan kebodohannya.
Jam pelajaran selesai, dosen dan teman-temannya sudah keluar dari kelas. Tapi Holy dan Rere masih asik ngobrol.
"Kamu tau Re selama ini aku sama Natan kalau ketemuan cuma di kampus, soalnya dia seperti belum berani ngajak aku ketemuan di luar."
"Kamu nggak ngasih kode-kode gitu buat diajakin keluar?"
"Nggaklah, aku ngikutin arusnya aja," ucap Holy santai. "Oiya Re minggu depan Kakak pertamaku mau nikah, kamu datang ya..." ajak Holy dengan semangat.
"Kak Heidy? Di manaaa?" jawab Rere yang nggak kalah semangat.
"Aku lupa nama gedungnya, nanti aku kabarin lagi. Pokoknya kamu harus dateng karena banyak makanan yang menunggumu."
__ADS_1
"Kamu tau aja kalau anak kos butuh asupan daging hajatan," Rere tertawa bahagia.
"Dasar anak kosan! Yaudah yuk pulang."
Hari mulai petang, kampus mulai sepi, hanya tersisa kenangan yang menanti hari esok dan kenangan barunya.
***
Hari pernikahan Heidy pun tiba. Para tamu mulai berdatangan, wedding organizer mulai sibuk dengan segala tugas-tugasnya, Heidy bersama suami mulai menyiapkan senyuman yang manis untuk menyambut para tamu.
Dibaluti dengan gaun berwarna emas dan mahkota kecil di kepalanya menambah kecantikan Heidy di malam itu. Ayah Ibu dari kedua mempelai juga sangat serasi. Ditambah lagi dengan dekorasi yang indah, makanan yang menggoda, dan alunan lagu yang menciptakan kesempurnaan pesta itu.
Tante dan Om dari kedua mempelai sedang menyambut tamu di pintu masuk. Sesy dan sepupu-sepupu sedang asik mainan game di HP mereka masing-masing. Sedangkan Holy sedang menunggu tamu undangannya dengan sabar.
"Rere akhirnya kamu datang juga!" sambut Holy ketika melihat Rere di pintu masuk. Selang beberapa menit akhirnya Natan juga datang dengan menggunakan kemeja putih dan jas hitam terlihat simpel dan rapi. Mereka bertiga pun duduk bersama di meja khusus untuk teman-teman Holy.
"Kalian berdua terlihat serasi," goda Rere yang melihat Holy menggunakan dress berwarna putih dan Natan dengan kemeja putihnya.
"Kamu juga serasi dengan dekorasi malam ini berkilau bagaikan emas, sayangnya nggak ada yang dampingi," balas Natan.
"Ih sombong, lihat aja nanti aku kenalin dengan pacarku yang lebih ganteng dari Kak Natan. Yakan Ly?" kata Rere yang nggak mau kalah.
"Eh Ly, kok nggak fokus sih?" Rere mengagetkan Holy.
"Hah? Kenapa?" Holy kebingungan.
"Kamu masih nungguin siapa?" tanya Natan perlahan.
"Nungguin sahabatku harusnya dia datang sama keluarganya," kata Holy dengan sedikit sedih.
"Mungkin lagi di jalan, nikmatin dulu aja pestanya," hibur Natan.
"Hm baiklah, ayo diambil makanannya," Holy mempersilakan kedua temannya itu.
"Ini yang kutunggu-tunggu dari tadi," kata Rere dan mengambil setiap menu yang disiapkan.
__ADS_1
***
"Artyooo, aku pikir kamu nggak akan datang," seru Holy dan langsung menghapiri serta memegang tangan Artyo.
"Maaf Ly, tadi di jalan kena macet parah."
"It's okay, yang penting kamu datang. Oiya Om dan Tante mana?"
"Itu lagi di depan salaman sama Ayah Ibumu dan Kak Heidy."
"Yaampun aku nggak lihat mereka lewat. Tyo sini aku kenalin sama temen-temenku."
Artyo pun berkenalan dengan Rere dan Natan. Perhatian Artyo jatuh kepada Natan, "Jadi ini kakak tingkat yang pernah bantuin Holy? Sedekat apa mereka berdua sampai Holy mengundangnya ke pesta ini? Apa mereka sudah pacaran?" pertanyaan-pertanyaan itu muncul di pikiran Artyo.
Mereka berempat pun makan bersama. Rere menikmati makanannya dengan lahap. Natan dan Artyo juga menikmati makanannya, tetapi secara tidak langsung mereka terlihat sedang memberikan lirikan-lirikan seperti sedang melirik lawannya. Holy yang memerhatikan Artyo dan Natan menjadi bingung dengan apa yang akan terjadi.
"Oiya aku mau kenalin, Artyo ini sahabatku dari TK, rumah kami berdekatan jadi sering satu sekolahan hanya waktu kuliah aja yang berbeda," kata Holy memecah keheningan.
"Artyo kuliah di mana?" tanya Natan yang dari tadi penasaran dengan sosok Artyo.
"Kuliah di Universitas Radjamada," jawab Artyo singkat.
"Oh nggak jauh-jauh bangetlah sama kampus kita Ly, jurusan apa?" tanya Natan sambil memakan buah di depannya.
"Jurusan kedoteran. Anda sendiri jurusan apa?" tanya Artyo dengan sopan.
"Saya jurusan teknik informatika. Tapi kalian berdua masih sering jalan bareng? Kan rumahnya masih deketan," tanya Natan yang masih penasaran.
"Lumayan sering kok, aku sama Holy sering jalan-jalan buat makan malam bareng," ucap Artyo yang bermaksud untuk membuat Natan cemburu.
"Itu dulu ya sebelum disibukkan dengan tugas-tugas kuliah," sela Holy.
"Iya sih, tapi nanti kalau udah nggak sibuk bakal sering lagi. Oiya kalau boleh tau kalian berdua udah pacaran?" tanya Artyo yang tidak bisa lagi menahan dirinya untuk bertanya.
Rere yang sedang menikmati es krim tiba-tiba terbatuk.
__ADS_1
Holy dan Natan saling tatap-tatapan berharap salah satu dari mereka menjawab pertanyaan itu.
Artyo dan Rere menunggu jawaban dari mereka berdua.