Saat Aku Harus Memilih

Saat Aku Harus Memilih
Bab 3 Perasaan Apakah Ini?


__ADS_3

Holy membenamkan kepalanya di bantal, dia merasa ada sesuatu yang aneh dengan jantung dan perasaannya. Sepanjang perjalanan pulang dari mal ke rumahnya jantungnya berdetak kencang seperti orang yang habis lari sepuluh putaran di lapangan sepak bola. Karena itu lah dia mengajak Artyo untuk segera pulang dan tidak melanjutkan misi mereka di hari ini.


Artyo hanya mengikuti perintah Holy. Dia sebenarnya bingung kenapa tiba-tiba wajah Holy berubah semenjak dari salon. Mereka juga belum sempat berdiskusi tentang apa yang mereka dapatkan dari salon itu. Artyo hanya takut terjadi apa-apa dengan Holy. Maka dari itu mereka pun segera pulang dan di perjalanan dia tidak henti-hentinya melirik Holy dan sesekali menanyakan apa yang terjadi. Namun Holy hanya memegang dadanya dan berkata "tidak apa-apa". Sebelumnya dia tidak pernah melihat Holy seperti itu.


Artyo mengantar Holy sampai ke depan rumah dan Holy pun langsung turun kemudian berlari kecil menuju kamarnya.


***


Pikiran Holy masih terbayang wajah Artyo dengan gaya rambut barunya, walaupun dia sudah berusaha menangkalnya dengan video-video lucu dari beranda twitternya.


Saat jantungnya sudah berdetak seperti biasa, dia meyakinkan dirinya bahwa perasaan tadi hanya perasaan yang biasa terjadi saat dia dipanggil guru BK ketika makan di kantin saat jam pelajaran atau perasaan ketika melihat uang jajan yang tinggal 5.000 saat mau bayar batagor yang harganya 10.000. Hanya perasaan kaget yang tidak bisa terkontrol.


"Besok pasti perasaanku biasa saja ketika melihat Artyo," kata Holy meyakinkan dirinya. Dia pun membuka whatsapp-nya dan mengirim pesan kepada Artyo kalau besok mereka harus melanjutkan misinya. Tanpa berharap centang duanya berubah jadi warna biru, Holy yakin kalau Artyo akan datang menjemputnya besok.


***


Keesokkan harinya tepat pukul 9 pagi Artyo datang dengan mengendarai motornya. Dia takut kalau-kalau Holy kemarin menjadi tidak enak badan karena itu pertama kalinya Artyo membawa Holy naik mobilnya setelah dia mendapatkan sim A.


"Nak Tyo sini duduk dulu," seru Ibu Holy yang sedang membersihkan meja di warungnya.


"Iyaa tante, Holynya lagi apa tan?" tanya Artyo dengan ramah sambil mengambil posisi untuk duduk.


"Dia tadi bantu-bantu nyiapin bahan-bahan di warung, tapi sekarang sepertinya sudah selesai mandi." Ibu Holy tiba-tiba terdiam. "Nak Tyo kemarin tidak terjadi apa-apa kan? Soalnya semenjak pulang kemarin dia kebanyakan di kamar, tadi aja waktu bantuin lebih banyak melamunnya."


"Nggak ada apa-apa kok tante, mungkin Holy masuk angin aja di mal," jawab Artyo dengan ragu dan tertawa kecil.

__ADS_1


"Hahaha anak tante satu itu emang agak kampungan, kaget ketemu mal," balas Ibu Holy dengan bercanda. Mereka berdua pun tertawa dan kembali berbincang-bincang.


Tidak lama kemudian Holy pun muncul.


"Lagi bicarain aku ya?" katanya dengan ceria sambil menutupi perasaannya yang tidak karuan saat melihat Artyo yang sedang menunggunya.


Ibu dan Artyo terdiam melihat penampilan Holy, ayahnya yang sedang melayani pelanggan pun ikut menengok anaknya yang baru saja keluar. Dengan baju model dress panjang selutut yang terbuat dari bahan kaos berwarna merah maroon dengan dipadukan jaket jeans. Serta lipstik merah yang cukup berani sehingga menciptakan kesan yang sangat mencolok, membuat Holy terlihat lebih tua 5 tahun dari umurnya.


"Artyo ayo kita berangkat sekarang," kata Holy tanpa memedulikan tatapan semua orang yang melihatnya.


"A...a...yo Ly," jawab Artyo dengan sedikit terbata.


Setelah berpamitan mereka pun naik motor dan memulai perjalanan menuju tempat wisata yang ada di kota mereka.


Dalam hati, Holy merasa sedikit kecewa saat melihat ternyata Artyo membawa motor bukan mobil yang kemarin. Tapi Holy tetap berusaha biasa saja karena biasanya juga mereka kalau pergi berdua selalu naik motor. Hanya saja dia harus lebih berhati-hati dengan outfit yang dia pakai hari ini.


***


"Hmm setelah aku pikir-pikir kalau aku nyari kerja dengan ijazah SMA aku hanya mendapat pekerjaan seadanya. Nah kalau aku bikin bisnis, aku masih belum ada modal dan belum jelas juga mau bikin bisnis apa." Holy menarik napas panjang sejenak. "Orang tuaku juga sangat mendukungku untuk melanjutkan kuliah. Mungkin sekarang aku hanya perlu menentukan mau ambil jurusan apa dan untuk mendapatkan uang aku bisa mengisi waktu kosongku dengan jualan. Jualan mi ayam contohnya."


"Yaahh... Hahahaha"


Mereka pun tertawa bersama. Suasana yang awalnya dingin menjadi kembali hangat.


***

__ADS_1


Tibalah mereka di tempat wisata yang mereka tuju. Tempat yang menyimpan banyak sejarah tentang kota mereka. Kota yang dulunya adalah sebuah kerajaan dengan beberapa raja yang pernah memimpin. Yang sampai sekarang tempat itu masih sering digunakan untuk kegiatan-kegiatan para keturunan raja.


Untuk masuk ke tempat itu tidak memerlukan rupiah yang banyak, sehingga setiap harinya selalu ada wisatawan lokal bahkan wisatawan asing yang datang. Mereka datang dengan tujuan yang berbeda-beda, ada yang datang untuk belajar tentang sejarah dan ada juga yang hanya ingin berfoto-foto dan mengunggahnya di media sosial mereka.


Holy dan Artyo mulai berkeliling di tempat itu, Holy lebih banyak memperhatikan wisatawan-wisatawan asing yang sedang mendengarkan penjelasan dari pemandu yang mungkin sudah mereka sewa khusus untuk menemani dan menerjemahkan ke bahasa asal mereka. Sedangkan Artyo lebih terkagum-kagum dengan barang-barang yang terpampang dan yang memang sengaja dipamerkan sebagai bukti peninggalan-peninggalan di masa lampau.


"Tyo, menurutku orang yang bisa bercerita di depan orang banyak dengan sangat lancar dan seperti sudah di luar kepala, itu keren..." seru Holy yang membuat Artyo refleks melihat apa yang dilihat Holy.


"Ya tentu saja, tapi semuanya itu mereka peroleh dengan tidak instan. Pasti mereka sering berlatih dan mungkin di awal mereka pernah lupa, sehingga dari lupa itulah membuat mereka berusaha untuk selalu mengingat," jawab Artyo.


"Aku mau seperti itu!" seru Holy. "Aku pasti akan sering diperhatikan, apa yang aku katakan akan menjadi informasi bagi yang mendengarkan, dan aku ingin apa yang aku katakan itu bermanfaat."


"Apakah kamu ingin seperti ibu-ibu yang sedang menjelaskan di depan wisatawan asing itu?" tanya Artyo


"Iya, dan itu artinya aku harus belajar bahasa Inggris hmmm..."


Holy menatap Artyo yang lebih tinggi sekitar tujuh senti darinya dengan tatapan bimbang. Dia ragu karena bahasa Inggrisnya sangat buruk. Artyo pun membalas tatapan wanita di sampingnya dengan lembut.


Artyo memberikan semangat kepada Holy dengan tatapannya dan berkata "Semua itu bisa kamu pelajari, Ly. Kamu bisa belajar dari mana saja karena sekarang sudah banyak aplikasi yang bisa membantumu belajar bahasa Inggris maupun bahasa asing lainnya." Artyo menjelaskan dengan cukup panjang tanpa melepaskan pandangannya dari Holy.


Holy tersenyum dan mencoba menatap ke arah lain.


***


Matanya berbeda, tidak lagi seperti dulu.

__ADS_1


Dulu biasa saja. Aku bisa menatapnya dengan lama tanpa ada getaran sedikitpun. Tapi kenapa sekarang tatapan itu membuatku masuk ke dalam dunia yang berbeda?


__ADS_2