
Di pagi hari yang cerah dan burung-burung mulai berkicau dengan merdunya. Matahari pun mulai bersinar dan memancarkan cahayanya. Melalui sela-sela pohon, cahayanya masuk ke dalam kamar wanita yang lumayan cantik bernama Holy. Dengan rambut yang berantakkan dan wajah yang berminyak menambah kesilauan matahari pagi di kamarnya.
Holy segera bangun dari tidurnya dan bergegas ke kamar mandi. Dia harus bersiap-siap memulai misi yang sudah dipersiapkan bersama Artyo. Setelah terjadi rebut-rebutan kamar mandi dengan kakaknya yang juga buru-buru untuk berangkat ke kantor akhirnya Holy selesai juga. Dan Heidy harus mengalah kepada adiknya. Walaupun jam masuk kantor pukul sembilan tapi Heidy terbiasa mandi pukul tujuh, karena dia harus melakukan ritual makeup-nya dengan sangat detail. Butuh sekitar satu jam untuk menyelesaikan makeup dan tiga puluh menit perjalanan menuju kantornya. Begitu terus setiap harinya.
***
Holy memakai baju kasual yang berwarna putih polos dengan celana jeans hitam yang baru bulan lalu dia beli untuk mengganti jeans hitam lamanya yang sudah pudar. Setelah sedikit berdandan memakai bedak, liptint, dan sedikit alis untuk menajamkan matanya dia pun segera keluar rumah serta tidak lupa memakai sepatu sneakers putih kesayangannya. Kemudian dia pun berpamitan kepada orang tuanya. Namun karena orang tua Holy sedang sibuk menyiapkan peralatan dan bahan-bahan untuk warung mi ayamnya, mereka pun tidak begitu mendengarkan ketika anak keduanya itu berpamitan.
***
"Tyoo... aku datang," teriak Holy di ujung jalan ketika melihat Artyo sedang menyiapkan mobil yang akan mereka pakai untuk pergi ke suatu tempat.
Artyo hanya tersenyum manis melihat Holy berlari-lari menuju ke arahnya. Setelah Holy menjadi lebih dekat ternyata senyum di wajah Artyo semakin lebar, entah karena dia melihat Holy yang berlari-lari hingga berkeringat atau karena melihat Holy lebih cantik dari biasanya.
"Yuk langsung masuk mobil aja biar adem."
"Oke" kata Holy dengan singkat karena masih terengah-engah.
"Kamu kenapa sih buru-buru banget ke sininya?" tanya Artyo setelah melihat Holy sudah lebih tenang.
"Kan kemarin kamu bilangnya kita berangkat pagi. Apa aku salah?"
"Enggak salah hanya saja ini kepagian, tempat yang akan kita tuju juga belum buka jam segini," kata Artyo sambil menahan tawanya.
__ADS_1
"Hah... terus kenapa kamu suruh aku masuk mobil?" tanya Holy yang tidak mengerti maksud Artyo.
"Aku tadi lagi bersihin mobil dan mumpung kamu datang, aku mau minta tolong bantu bersihin sampah dalam mobil ini soalnya udah lama nggak dipake jadi agak kotor."
"Wah parah lu, Yo, aku udah wangi gini disuruh bersihin mobil," keluh Holy. Tapi dengan terpaksa Holy pun membantu Artyo membersihkan mobilnya.
Setelah selesai membersihkan mobil, Holy beristirahat di teras sambil minum teh dan makan roti yang dibawakan Ibunya Artyo. Sambil menunggu Artyo yang masih mandi.
***
"Jadi hari ini tujuan pertama kita adalah ke mal, di mana kita akan mensurvei butik dan salon, kamu siap?" tanya Artyo setelah mereka berdua sudah berada dalam mobil.
"Siaaap dong!" jawab Holy dengan semangat. Semangatnya semakin meningkat karena minyak wangi yang dipakai Artyo sangat menyegarkarkan.
Berbeda dengan butik di sebelahnya, didominasi oleh anak-anak muda terlihat mulai dari anak SMP sampai anak kuliahan datang ke butik yang bernama "Uniklo" itu. Bajunya lebih berwarna muda dengan model yang lebih masa kini.
Semua orang dari kedua butik itu terlihat bahagia ketika membawa tentengan keluar dari butik.
Tidak terasa mereka berdua sudah menghabiskan lima belas menit di tempat itu. Tanpa disadari oleh Holy ternyata Artyo pergi ke satu lantai di atas mereka, dia membeli snack "ayam pokpoy" yaitu ayam crispy yang bumbui dan minuman susu dengan topping boba yang sedang hits. Setelah itu, dia kembali ke tempat Holy dan mereka pun menikmatinya bersama. Holy sudah terbiasa dengan perlakuan Artyo yang tiba-tiba hilang dan datang-datang membawa makanan. Kadang saking seringnya dibawain makanan, Holy jadi tidak enak dan dia sering membalasnya dengan membawakan mi ayam buat Artyo dan keluarganya.
"Ly, menurutmu siapa yang paling bahagia dari orang-orang di butik itu?" tanya Artyo memulai diskusi mereka.
"Tentu saja pemilik butik itu, karena mereka mendapatkan uang dari setiap barang yang dibeli. Kalau menurutmu?"
"Kalau menurutku orang yang membuat baju-baju itu, yang mendesainnya hingga menjahitnya."
__ADS_1
"Tapi mungkin mereka nggak mendapat keuntungan sebanyak yang didapati oleh pemilik butik itu."
"Iya bener, tapi keahlian mereka bisa sangat menguntungkan."
"Contohnya?"
"Mereka mendapatkan kebebasan dalam membuat sesuatu, bebas menentukan model yang ingin mereka buat. Bukan hanya tentang uang tapi tentang kebebasan berkarya."
Holy mengangguk menyetujui perkataan Artyo. "Aku suka kebebasan, hahaha..." kata Holy dan menutup diskusi mereka tentang butik.
Mereka menuju tempat ke dua. Yaitu sebuah salon yang berada di lantai yang sama dengan butik tersebut hanya saja mereka harus agak sedikit berjalan ke depan mal. Salon itu melayani pria maupun wanita, mulai dari potong, creambath, smoothing, coloring, dan lain-lain. Artyo masuk ke dalam salon itu dan diikuti oleh Holy dari belakang.
"Kesempatan banget ya potong rambut di saat kita sedang menjalankan misi," bisik Holy.
"Mau gimana lagi rambutku udah mulai gondrong dan kadang gerah. Ini juga salah satu cara menjalankan misi," kata Artyo dengan setengah suara.
"Yaudah aku tunggu di situ ya," sambil menunjuk kursi di pojokan ruangan yang dikelilingi cermin sehingga terlihat luas.
Sambil memperhatikan Artyo yang sedang dilayani oleh seorang wanita yang terlihat piawai menggunakan gunting dan alat cukuran, Holy terlihat senyum-senyum sendiri melihat wajah Artyo yang sangat tegang seperti takut telinganya terpotong. Dulu waktu SMA Artyo siswa yang paling jarang kena teguran karena rambutnya selalu rapi, tapi Holy tidak tahu kalau sedang potong rambut wajahnya setegang itu.
Di salon itu juga ada seorang laki-laki seumuran ayahnya yang sedang menikmati pijatan kepala dari seorang karyawan. Ada juga seorang wanita muda yang rambutnya sedang diwarnai. Serta para karyawan yang memakai seragam rapi dan senyum yang melekat di bibir mereka mambawa suasana salon menjadi bersahabat. Ditambah lagi alunan lagu yang membuat pelanggan betah berlama-lama di salon itu.
Akhirnya selesai juga ketegangan Artyo. Dia berjalan menuju tempat duduk Holy dengan wajah yang lebih fresh dan senyumannya yang canggung. Di mata Holy, Artyo terlihat bersinar seperti baru turun dari kayangan. Dan membuat jantungnya berdetak lebih cepat dari biasanya.
Apakah yang sedang dirasakan Holy itu adalah .....
__ADS_1