Saat Aku Harus Memilih

Saat Aku Harus Memilih
Bab 18 Rahasia Artyo


__ADS_3

"Holy?" Artyo terkejut melihat wajah Holy yang berada dekat dengan wajahnya.


Holy hanya bisa terdiam menahan napas dan matanya tidak bisa berkedip dalam beberapa detik. Dia sangat terkejut melihat Artyo yang tiba-tiba terbangun ketika dia ingin mengambil surat yang berada samping kepala Artyo.


"Kok kamu udah datang?" tanya Artyo yang kemudian bangun dari posisi tidurnya.


Holy masih terdiam.


"Hei, Holy kamu baik-baik saja?" tanya Artyo lagi dengan suara lembut sambil memegang pundak Holy.


"Eh iyaa, aku baik-baik saja kok," Holy akhirnya menjauh dan kembali ke tempat duduk. "Maaf sudah membangunkanmu, aku tadi cuma mau beresin kamarmu yang sangat berantakkan ini." Holy menutup rasa terkejutnya dengan merapikan buku-buku Artyo yang ada di atas meja.


"Hahaha lucu banget sih mukamu Ly kalau lagi keget gitu," Artyo bangun dari tidurnya. "Kita kan janjiannya malam, kok kamu udah datang aja jam segini?" tanya Artyo yang melihat jam dinding yang masih menunjukkan pukul tiga sore.


"Emang nggak boleh?"


"Bukannya gitu, aku hanya belum beres-beres, makanya kamarnya masih berantakan gini," kata Artyo yang kemudian mengambil kertas yang ada di tempat tidurnya. Dia menyimpan kertas itu ke dalam lemari.


"Aku kan emang datang buat bantu kamu beres-beres, hehehe," Holy tersenyum lebar, membuat Artyo berbunga-bunga.


"Makasih ya Ly, udah mau datang lagi ke sini. Maaf saat kamu datang aku malah tidur."


"Aku yang minta maaf Tyo, aku yang nggak pernah datang ke sini dan nengokkin sahabatku yang paling baik ini."


"Hahaha, yaudah aku beres-beres dulu baru mandi ya." Mereka berdua pun membereskan kamar itu bersama-sama.


Setelah semuanya sedikit rapi, Artyo pun keluar kamar untuk mandi di kamar mandi yang berada di lantai bawah, karena kamar mandi di kamarnya sedang rusak. Pada saat itulah Holy yang masih penasaran dengan kertas tadi mulai membuka lemari tempat Artyo menyimpan kertas itu.


Ternyata kertas itu adalah surat dari kampusnya, yang menyatakan bahwa Artyo lulus tes dan berhak mendapatkan beasiswa untuk melanjutkan kuliah di Jerman. Seketika Holy merasa senang sekaligus sedih.


"Apakah ini yang akan Artyo katakan sampai-sampai dia memaksa untuk bertemu? Apakah dia akan pergi ke Jerman dan meninggalkan aku?"

__ADS_1


Perasaan Holy menjadi campur aduk, dia menyimpan surat itu kembali ke lemari. Lalu dia terduduk dengan tatapan kosong sambil menunggu Artyo balik dari kamar mandi.


Terdengar langkah kaki Artyo yang sedang menaiki tangga, Holy pun bersiap dengan seribu pertanyaan di kepalanya.


"Holy, kamu diajakin ngeteh tuh sama Ibu. Kamu turun duluan nanti aku nyusul setelah ganti baju."


Artyo membuyarkan semua pertanyaan dalam pikiran Holy. Dengan hanya memakai celana boxer dan handuk di kepalanya, Artyo seolah memperlihatkan perutnya yang sixpack dan berkilau karena sisa-sisa air dari rambutnya. Untungnya Holy bisa menyadarkan dirinya dan dia segera turun untuk menghampiri Ibu Artyo.


***


"Tante, Artyo mau pindah kuliah di Jerman ya?" tanya Holy ketika sedang berdua bersama Ibu Artyo di halaman belakang sambil menikmati teh hangat.


"Iya Ly, minggu depan dia harus berangkat ke Jerman."


"Tante serius?" Holy sangat terkejut sampai-sampai gelas yang dia pegang hampir jatuh.


"Loh kamu baru tau? Tante kira Artyo sudah kasih tau," jawab Ibu Artyo yang juga ikut terkejut.


"Tante lebih sedih lagi, Ly. Anak satu-satunya akan meninggalkan rumah, tapi Tante sama Om berusaha mendukung apa pun cita-cita Artyo asal dia serius menjalaninya."


"Aku setuju sama Tante, hanya saja kenapa cepet banget?"


"Lebih cepat lebih baik, Ly. Semoga pulangnya juga jadi lebih cepat," Ibu Artyo tersenyum dan Holy pun ikut tersenyum walaupun sedikit terpaksa.


Artyo menghampiri Ibunya dan Holy. Mereka bertiga tidak banyak bicara, hanya menikmati teh dengan pikirannya mereka sendiri-sendiri. Akhirnya Artyo mengajak Holy dan mereka berdua pun berpamitan.


***


Sampailah mereka di Kedai Ice Cream Gelato. Mereka duduk bersebelahan sambil menghadap kaca besar yang sedang memperlihatkan pemandangan senja yang sangat indah. Waktu yang tepat untuk mereka berdua menikmati es krim.


__ADS_1


"Holy apa yang sedang kamu pikirkan?" tanya Artyo saat melihat Holy sedang menatap langit senja dengan tatapan kosong.


Holy perlahan menatap Artyo, "Kamu ingat nggak dulu waktu SD sampai SMP aku selau memanggilmu kakak? Itu karena aku merasa kamu seperti kakak laki-lakiku dan kamu juga mengatakan bahwa aku adik perempuanmu. Tapi setelah SMA kita mulai mengenal kata sahabat, dan kita sudah tidak lagi saling memanggil kakak-adik. Kuliah ini apakah kita bisa mengubah kata sahabat menjadi kata yang lebih lagi?" Mata Holy mulai berkaca-kaca.


Artyo hanya terdiam mendengar kata-kata Holy, tapi dia tidak melepaskan tatapannya.


"Selama ini aku tidak pernah memikirkan apa yang terjadi jika kita berdua terpisah," air mata Holy tidak bisa ditahan lagi.


Melihat itu Artyo pun tersadar bahwa Holy sudah tau apa yang ingin dia katakan.


"Ibu udah cerita ya sama kamu?" Artyo mengambilkan tisu untuk menghapus air mata Holy. "Awalnya aku nggak yakin bisa lulus dan mendapat beasiswa di Jerman. Aku juga sebenarnya takut berpisah dengan Ayah, Ibu, terutama kamu Ly. Tapi setelah melihat kamu yang sudah mulai melupakan aku semenjak berpacaran dengan Natan, aku menjadi yakin untuk mengambil kesempatan itu. Aku yakin kamu akan tetap bahagia walau tanpa aku di sampingmu. Aku juga yakin Natan bisa menjaga kamu dengan baik."


Tangis Holy semakin deras, untung saja saat itu kedainya sedang sepi. Hanya mereka berdua yang berada di lantai atas dan satu keluaga kecil yang berada di lantai bawah.


"Tapi kenapa baru kasih tau aku sekarang? Sedangkan tinggal seminggu lagi kamu akan berangkat," kata Holy dengan masih sesenggukkan.


"Maaf Holy," Artyo memeluk Holy dengan lembut. "Aku nggak bermaksud begitu, aku sendiri pun sebenarnya belum siap mengatakan ini." Artyo melepaskan pelukannya.


"Kalau begitu apa yang bisa aku bantu untuk persiapanmu ke Jerman?" tanya Holy dengan tangis yang sudah sedikit reda karena pelukan Artyo.


"Semua udah disiapin sama kampus, aku hanya tinggal membeli jaket tebal dan baju-baju hangat, karena di sana sedang musim dingin."


"Okey aku ikut!" seru Holy.


"Emang dibolehin sama Natan?" ledek Artyo.


"Harus boleh, aku harus menghabiskan waktu sama kamu selama kamu masih di sini."


"Hahaha makasih ya Ly. Kamu nggak perlu terlalu sedih, aku cuma beberapa tahun kok di sana dan jika liburan aku akan pulang ke Indonesia," kata Artyo sambil membelai rambut Holy.


Hari itu pun mereka habiskan dengan sangat manis bersama es krim yang juga manis.

__ADS_1


__ADS_2