
Artyo dan Luna sudah pergi dari warungnya, tapi wajah Artyo masih saja terbayang di pikiran Holy. Lebih lagi sekarang muncul wajah baru yang merusak pikirannya. Wajah orang baru yang tiba-tiba muncul tanpa permisi, dan membuat haru di hati.
Ketika malam tiba dan Sesy sudah tidur di sampingnya, Holy masih menunggu hari esok yang dia tidak tau apa yang akan terjadi. Akankah Artyo datang dan menemaninya atau dia hanya akan mengirimkan permintaan maaf lagi?
"Sebaiknya aku mendaftar sendiri saja tanpa menunggu kedatangan Artyo lagi, percuma menunggu jika akhirnya dia tidak datang juga. Yang penting aku sudah yakin dengan pilihanku, dan Artyo juga pasti akan menyetujuinya." pikir Holy.
Holy pun mengambil laptop dan mengaktifkan wifi yang tersambung di HP-nya. Dia mendaftarkan dirinya di jurusan yang dia inginkan yaitu jurusan tata busana. Dia sudah yakin kalau itu adalah pilihan terbaiknya. Walaupun kelak dia tidak akan bisa lagi bersama-sama dengan Artyo seperti saat TK sampai SMA, tapi dia percaya kalau inilah waktunya untuk dia dan Artyo memulai menjalani pilihan hidup mereka sendiri.
Holy tidak mau jika hidupnya terlalu bergantung pada Artyo, karena bisa saja besok ataupun lusa Artyo berubah menjadi tidak peduli lagi. Dan itu akan membuatnya semakin kecewa.
Malam itu Holy baru bisa tidur pukul 2 dini hari. Dia menyelesaikan segala persyaratan-persyaratan yang dibutuhkan saat itu juga. Untungnya semua persyaratan sudah siap sehingga dia tinggal mengunggahnya.
***
Hari baru telah tiba. Sesy sudah berangkat ke sekolah dengan berjalan kaki, Heidy sedang menunggu pacarnya yang akan menjemput dia dan berangkat bersama ke kantor, dan satu lagi masih mendengkur di kamar. Holy terlihat sedang tidur dengan sangat nyenyak sampai-sampai di pipinya terlihat bekas iler. Ayah dan ibunya tidak tega membangunkannya.
Akhirnya Holy terbangun, dia membuka HP-nya berharap ada pesan dari Artyo. Ternyata tidak ada. Dia pun keluar dari kamar dengan jalan yang terseok-seok seperti tidak ada semangat.
"Holy, ayo segera mandi. Nak Artyo sudah datang menjemput," teriak ibu dari luar.
"Hah?" seperti tidak percaya Holy keluar untuk melihat baik-baik apakah itu benar Artyo atau bukan. "Tunggu di situ! Aku akan segera mandi," kata Holy setelah yakin itu Artyo dan tiba-tiba saja di luar kendalinya dia menjadi semangat kembali.
***
"Holy apa yang ingin kamu katakan ke aku?" tanya Artyo saat mereka sedang dalam perjalan menuju pantai. Kali ini Artyo membawa Holy menggunakan mobil karena perjalanan mereka cukup jauh.
"Yang ingin aku katakan? Tentang apa?" tanya Holy balik. Karena terlalu banyak yang seharusnya dia katakan kepada Artyo.
"Kemarin waktu di chat katamu ada sesuatu yang ingin kamu katakan ketika kita bertemu, sekarang kita sudah bertemu dan kamu bisa mengatakan apa saja kepadaku. Aku siap mendengarkan," ucap Artyo sangat lembut.
__ADS_1
Setelah mendengar kata-kata Artyo yang menyejukkan hatinya itu, Holy mulai menggantungkan lagi rasa yang semalam sudah dia niatkan untuk dia pegang sendiri.
"Hm aku cuma mau bilang kalau aku sudah menentukan pilihanku," kata Holy dengan yakin.
"Yeah akhirnyaa... aku ikut seneng mendengarnya. Jadinya apa yang kamu pilih?" tanya Artyo dengan sangat excited.
"Aku memutuskan untuk kuliah di jurusan tata busana, karena aku lebih suka menggambar dari pada menulis dan aku ngerasa udah punya dasar untuk membuat baju karena sering membantu tanteku yang punya usaha jahit. Gimana menurutmu?"
"Itu pilihan yang baik apalagi kamu sudah memiliki dasar ilmunya, tinggal kamu kembangkan lagi saat kuliah. Dan yang pasti kamu bisa menjadi designer terkenal dan bisa punya banyak uang seperti cita-citamu yang paling utama. Iya kan? Hahaha," kata Artyo dengan sedikit mengejek Holy.
"Haha iya dong," kata Holy membenarkan.
"Nanti waktu pulang dari pantai, aku akan bantu untuk mendaftar, oke?"
"Maaf Artyo, semalam aku udah mendaftar sendiri."
"Hmm, aku takut kamu ngebatalin lagi kayak kemarin. Bisa-bisa aku nggak jadi kuliah karena nungguin kamu,"
"Iya juga sih aku yang salah, hehe maaf ya Holy yang cantik," kata Artyo dengan merayu agar Holy tidak marah.
"Cantikkan mana sama yang kemarin? Yang namanya siapa tuh, aku lupa," Holy akhirnya terpancing untuk membahas wanita yang dibawa Artyo kemarin.
"Oh Luna? Ya cantikkan Luna lah," seru Artyo sambil tertawa dan melirik Holy. Padahal dalam hatinya berkata sebaliknya.
Holy hanya tertawa mendengar perkataan Artyo, dia membenarkan kalau Luna memang lebih cantik dari dia. Tapi dia tidak bisa memungkiri kalau hatinya sedikit tergores.
Selama perjalan menuju pantai mereka membicarakan Luna dengan segala lelucon yang mereka buat untuk menutupi perasaan mereka masing-masing.
***
__ADS_1
Dua buah kelapa muda yang terlihat sangat segar sedang dinikmati oleh Artyo dan Holy, di bawah pohon cemara yang rindang. Mereka menikmati suasana pantai yang sangat sejuk. Suara ombak menderu dengan teratur. Serta angin yang berhembus dengan santai.
Semakin lama mereka menikmati anginnya semakin jauh juga pikiran mereka terbang ke kenangan-kenangan masa kecil mereka yang indah. Saat mereka sering berangkat ke sekolah bersama, berkejar-kejaran saat salah satu dari mereka jail, dan saat mereka pulang dari sekolah dengan basah kuyup karena bermain air di kali samping sekolah. Pengalaman yang sangat menyenangkan dan tidak akan terlupakan.
"Saat kuliah nanti, kita pasti akan memiliki kesibukan sendiri-sendiri. Tapi aku berharap kita bisa terus membagi waktu untuk jalan-jalan berdua seperti ini," kata Artyo dengan wajah serius yang ditujukan kepada Holy.
"Iya tentu, aku juga sangat mengharapkan itu. Karena kamu adalah sahabat yang paling sabar dan paling setia menemaniku," balas Holy.
"Sampai kita mendapatkan pekerjaan, sampai kita menikah dengan pasangan kita masing-masing, bahkan sampai kita tua nanti, kamu janjikan untuk selalu jadi sahabatku Holy?"
"Iya tentu saja," kata Holy singkat.
Mereka terdiam sejenak dan meminum kelapa muda yang ada di hadapan mereka.
"Bagaimana denganmu Artyo? Apakah kamu berjanji untuk selalu menjadi sahabatku?" tanya Holy.
"Iya aku juga berjanji, Ly."
"Bagaimana jika nanti kita punya pasangan masing-masing, apakah pasangan kita bisa menerimanya?" tanya Holy lagi.
"Harus bisa, bahkan kita bisa mengajak mereka untuk ikut," jawab Artyo yang seperti kurang yakin.
"Benar juga, pasti akan lebih ramai dan menyenangkan," kata Holy.
Mereka berdua kemudian berjalan mendekati laut. Mereka melihat pasangan-pasangan yang sedang asik bermain air, ada juga yang sedang saling merangkul, bahkan ada yang saling lempar-lemparan pasir. Semua terlihat bahagia.
Tetapi, berbeda dengan sepasang muda-mudi yang sama-sama sedang menutup perasaannya. Menutup sebuah kejujuran yang ada di hati mereka. Kejujuran yang berusaha mereka pendam sampai waktu yang tidak terbatas.
Akankah mereka kuat menahannya?
__ADS_1