Saat Aku Harus Memilih

Saat Aku Harus Memilih
Bab 24 Aku Ada untuk Mu


__ADS_3

"Artyo rambutmu sudah sangat panjang, pergilah ke salon untuk memotongnya," seru Holy tanpa menghilangkan ekspresi bahagianya. Dia sangat senang bisa melihat laki-laki yang dia rindukan itu, walaupun hanya dalam layar HP. Karena memang cukup sulit untuk mencari waktu yang tepat agar mereka berdua bisa saling menyapa lewat video call.


"Nggak mau ah, sekarang aku udah mirip artis-artis Korea gini masa disuruh potong. Emang kamu nggak suka kalau aku mirip artis Korea?" tanya Artyo yang membuat Holy tersenyum geli.


"Hihi emang ada artis Korea yang mirip kamu?"


"Ada! Tunggu aku cari gambarnya." Artyo menyandarkan HP-nya di samping buku, lalu beberapa saat fokus ke laptopnya.


"Mana mana? Aku nggak percaya, paling juga mirip abang-abang yang jualan cilok dekat sekolah dulu," seru Holy yang bermaksud mengganggu konsentrasi Artyo.


"Wahaha enak aja... Nah ini nih," kata Artyo sambil menunjukkan foto artis Korea bernama Kim Woo Bin. Dia mengganti kamera belakang lalu kamera depan berkali-kali agar Holy bisa menyamakan gambar itu dengan wajahnya.



Holy hanya bisa tertawa terbahak-bahak melihat gaya Artyo yang berusaha menyamakan gaya artis itu.


"Tidaaaak hahaha... kamu sama artis itu beda jauh, sayangg," kata Holy spontan tanpa menyadari bahwa dia baru saja memanggil Artyo dengan panggilan sayang.


Artyo pun terdiam dan menatap Holy dengan tatapan canggung. Holy yang belum menyadari apa yang barusan dia katakan masih saja tertawa, sampai dia sadar setelah melihat tatapan Artyo yang tidak biasa.


"Ada apa?" tanya Holy bingung.


"Kamu memanggilku dengan kata sayang?"


"Oh ya? Aku tidak menyadarinya."


"Iya aku mendengarnya. Apakah sekarang kita boleh saling memanggil dengan kata sayang?" tanya Artyo dengan polos sambil menahan debaran jantungnya yang cukup kencang.


"Ya tentu saja," jawab Holy dengan sedikit malu-malu.


"Baiklah sayang," kata Artyo yang terdengar sangat kaku.

__ADS_1


Walaupun mereka berdua terasa masih canggung dengan panggilan itu, tapi mereka senang dengan tingkatan baru dalam hubungan mereka.


"Bagaimana kuliah mu sayang?"


"Berjalan lancar sayang, hanya saja sekarang aku lebih sering fokus ke event-event yang diadakan komunitasku."


"Aku senang kamu bisa punya komunitas, asal komunitas itu benar-benar membantumu untuk menambah ilmu tentang fashion. Dan kuliahmu juga harus tetap diperhatikan ya," nasihat Artyo.


"Iya sayang, di komunitas ini aku jadi lebih banyak ilmu. Sekarang saja aku sedang mengikuti lomba desain, doain ya semoga menang," seru Holy.


"Iya Holy ku sayang... Aku yakin kok kamu pasti menang karena kamu selalu ada dalam setiap doaku," rayu Artyo dengan wajah menggemaskan.


"Ih apasih," Holy tersipu. "Oiya kamu gimana kuliahnya? Punya banyak temankah di sana?"


"Kuliahku juga berjalan lancar, dan aku senang di sini karena pembelajaran lebih mendalam dan menyenangkan. Walaupun aku harus lebih banyak belajar bahasa Jerman, tapi karena aku menjalaninya dengan senang maka semuanya terasa mudah. Teman-teman di sini juga menyenangkan, mereka sesekali mengajakku hangout. Mungkin dua minggu sekali biar otaknya nggak stress karena baca buku terus."


"Iya bener matanya jangan depan buku dan laptop terus, sesekali kamu berwisata di sana dan berfoto lalu fotonya kirim ke aku. Biar aku jg bisa ngerasain suasana di sana. Okey?"


"Janji ya?" Holy memajukan jari kelingking kanannya ke layar HP.


"Janji," kata Artyo yang juga memajukan jari kelingking kirinya ke layar HP.


***


Di rumah Holy.


Jam menunjukkan pukul lima pagi, Ayah dan Ibu Holy sudah disibukkan dengan segala persiapan untuk warung mi ayamnya. Mulai dari ke pasar membeli sayur-sayur segar, mengambil mi di tempat langganan, dan membersihkan peralatan makan.


Holy dan Sesy kadang membantu orang tuanya, tetapi hari ini mereka berdua secara bersamaan bangun agak telat sehingga tidak bisa membantu. Saat bangun Holy dan Sesy langsung bersiap-siap untuk berangkat ke kampus dan sekolah. Holy yang sedang baik segera mengantar Sesy sampai di depan sekolahnya lalu melanjutkan perjalanannya.


"Buk dada ayah kok tiba-tiba sakit ya?"

__ADS_1


"Kenapa Yah? Ayah duduk dulu, ibu ambilin teh hangat ya!" kata Ibu yang segera ke dapur untuk mengambil gelas dan menuangkan teh. Ibu sedikit berlari menuju ruang tamu, ternyata ayah sudah pindah ke kamar. "Yah ini tehnya diminum dulu!" suruh ibu sambil menyodorkan tehnya.


Ayah hanya terdiam tanpa suara.


"Ayah udah tidur? Kok cepet banget?" ibu menyimpan tehnya di atas meja. Ibu mencoba memegang dada ayah dengan perlahan, terasa baik-baik saja. "Yah, ibu keluar sebentar ya, nanti kalau udah bangun diminum tehnya."


Saat ingin menutup pintu kamar, tiba-tiba saja ibu kembali dan memegang tangan ayah. Seperti tidak ada reaksi yang dia rasakan, ibu menjadi lemas. Dia segera menelepon rumah sakit dan membawa suaminya ke IGD.


Sayangnya suaminya sudah tidak bisa lagi diselamatkan. Dokter berkata bahwa suaminya terkena serangan jantung yang membuat hidupnya tidak terselamatkan.


Ibu menangis sejadi-jadinya. Ibu Artyo yang sempat ikut dan membantu ke rumah sakit, hanya bisa memeluk dan menenangkan. Ibu Artyo juga segera mengabari Heidy dan menyuruh Holy menjemput Sesy untuk segera datang ke rumah sakit tanpa memberitahu apa yang sedang terjadi.


***


Sampailah Holy dan Sesy di rumah sakit, dengan wajah bingung mereka melihat Ibu dan Kak Heidy sedang menangis.


"Apa yang terjadi Buk?" tanya Holy


"Nak Ayahmu sudah dipanggil Tuhan," kata ibu dengan sesenggukan serta air mata yang tidak habis-habisnya turun dari matanya.


Holy hanya bisa terdiam, kakinya lemas, dan akhirnya air matanya pecah. Holy menangis sampai hampir tak bersuara.


Sesy yang sejak tadi melihat ibu dan kakaknya menangis, hanya berlari mencari ayahnya dan mencoba membangunkan ayahnya yang sudah membeku. Setelah yakin ayahnya tidak bisa bangun lagi barulah dia berteriak dan menangis tersedu-sedu.


Mereka berempat berpelukan dan saling menguatkan satu sama lain. Sosok suami dan ayah yang mereka cintai sekarang sudah tidak bersama-sama dengan mereka lagi. Hanya kenangan ayahnya yang akan menemani mereka.


Ibu Artyo segera mengabari Artyo tentang kabar itu. Dia juga segera membantu mengurus segala keperluan untuk pemakaman dengan dibantu oleh suami Heidy.


***


Pada hari pemakaman, keluarga Holy masih sangat diliputi rasa haru dan kesedihan. Tetangga-tetangga dan orang-orang yang mengenal akan kebaikan Ayah Holy tidak hentinya berdatangan dan menghibur keluarga mereka. Rere sebagai teman Holy juga datang untuk menghibur dan menguatkan teman baiknya.

__ADS_1


Holy menerima satu pesan yang sangat menguatkan hatinya. Yaitu pesan dari Artyo yang mengatakan bahwa dia akan selalu ada untuk Holy.


__ADS_2