Saat Aku Harus Memilih

Saat Aku Harus Memilih
Bab 23 Jauh, tapi Dekat di Hati


__ADS_3

Jerman, di musim dingin.


Seorang lelaki tinggi sedang berjalan santai mengelilingi sekitar tempat tinggalnya. Dengan menggunakan baju berlapis yang ditutup rapat dengan jaket tebal dan tidak lupa memakai syal tebal untuk menghalau angin yang ingin masuk melalui lehernya.


Lelaki itu hampir dua bulan berada di negeri orang, dan selama itu juga dia masih berusaha beradaptasi dengan cuaca yang berbeda dengan tempat asalnya. Selama dua bulan juga dia tidak pergi ke salon untuk memangkas rambutnya sehingga rambutnya hampir menutup telinganya. Selain karena belum menemukan tempat potong rambut, dia memiliki tujuan lain yaitu agar kepalanya selalu hangat di musim dingin itu.


Saat sedang asyik berjalan menikmati dinginnya malam, laki-laki yang bernama Artyo ini melihat sebuah butik yang sangat menarik. Butik yang cukup besar dengan memajang pakaian-pakaian wanita yang menggemaskan. Dia terhenti di depan butik itu cukup lama, sambil memperhatikan setiap pakaian yang terpajang.


Pada saat itu pikirannya tertuju pada satu wanita yang sering muncul dalam mimpinya. Wajah wanita itu memenuhi butik itu dan dia membayangkan wanita itu sedang memakai pakaian-pakaian yang sedang terpajang.


"Holy andai kamu di sini, pasti kamu akan memaksaku untuk masuk ke butik itu dan mencoba pakaian itu satu per satu," kata Artyo dalam hati.


"Hai Bro! apa yang kamu lakukan di sini?"


"Eh halo Brother! Hm hanya sedang menikmati suasana malam yang dingin ini," jawab Artyo sedikit gelagapan kerena terkejut melihat temannya yang bernama Dave tiba-tiba muncul.

__ADS_1


Dave adalah teman barunya yang juga merupakan mahasiswa dari Indonesia, hanya saja dia lebih dulu berada di Jerman. Mereka beberapa kali bertemu saat berkumpul sesama mahasiswa Indonesia. Dan tempat tinggal Dave tidak begitu jauh dari tempat tinggalnya.


"Tapi yang aku lihat kamu sedang memperhatikan cewek-cewek dalam butik itu, haha. Udah ngaku aja, kamu udah ketangkap basah," kata Dave yang tidak bisa menahan ketawanya.


"Waduh Bro, aku nyerah kalau gitu," Artyo hanya bisa tersenyum malu sambil menggaruk kepalanya yang tidak gatal itu.


"Ayok masuk aja, kebetulan aku juga mau nyari baju buat kado pacarku," ajak Dave.


"Enggak deh Bro, aku langsung balik aja."


Artyo pun tidak bisa menolak lagi. Dia dan Dave masuk ke butik itu sambil mencari baju yang cocok untuk pacar Dave yang ternyata memiliki postur hampir sama dengan Holy. Artyo pun menjadi semangat membantu Dave, dia berencana ketika pulang ke Indonesia, dia juga akan membelikan baju untuk Holy di tempat ini.


Selama berada di butik itu selain sibuk mencari baju yang cocok, mereka berdua juga disibukan dengan pikiran mereka yang mencoba mengingat nama. Semenjak bertemu mereka hanya sempat berkenalan sekali, dan selama itu mereka hanya saling memanggil dengan panggilan 'Bro'.


Akhirnya Deve menemukan baju yang cocok, mereka berdua pun pulang ke arah yang sama. Sebelum berpisah Dave kepikiran untuk meminta akun media sosial yang dimiliki Artyo, setelah saling mengikuti akhirnya mereka pun saling mengenal nama.

__ADS_1


Mereka berdua pun pulang dengan pikiran yang lega. Serta bisa tidur dengan nyenyak.


***


Hubungan Holy dan Artyo yang terpisah jarak dan waktu, membuat mereka berdua harus lebih bersabar. Saling mengirim pesan menjadi hal yang wajib bagi mereka berdua walaupun membalasnya tidak bisa cepat karena waktu yang tidak sama.


Sesekali Artyo menelepon dan melakukan video call ke Holy di jam dua pagi. Karena pada saat itu Holy sudah tidak begitu sibuk. Wajah Holy membuat Artyo menjadi semakin semangat untuk menyelesaikan study-nya dan segera pulang ke Indonesia.


Holy selalu memberi kabar ke Artyo tentang apa pun yang sedang dia lakukan. Terkadang muncul dalam pikiran Artyo untuk mengajak Holy melanjutkan kuliah di Jerman, hanya saja selalu ditolak oleh Holy karena dia yang masih sangat sulit menguasai bahasa Inggris apalagi dia juga harus belajar bahasa Jerman.


Walaupun Artyo tahu kalau Holy belum benar-benar putus dari Natan, tapi Holy selalu meyakinkan bahwa dia tidak mencintai Natan. Dia juga menceritakan bahwa sudah beberapa kali dia meminta putus, tetapi selalu saja digagalkan oleh Natan. Sekarang Holy dan Natan juga sudah sangat jarang bertemu. Holy selalu berharap agar Artyo segera pulang dan membantunya untuk melepaskan Natan dari hidupnya.


Artyo selalu mengatakan kepada Holy untuk bersabar karena dia akan datang dan langsung melamarnya. Artyo tidak akan melepaskan sahabat yang sangat dia cintai itu. Sudah cukup dia menahan perasaannya selama ini yang membuat dia harus berpisah dengan Holy. Mulai sekarang dia berusaha untuk selalu menyatakan cintanya agar tidak terpisah lagi.


Walapun raga mereka terpisah tapi hati dan rasa mereka semakin dekat dan semakin menyatu.

__ADS_1


__ADS_2