
"Ini anak saya namanya Luna, tahun ini dia akan melanjutkan kuliah di kota ini. Sebelumnya dia sempat kuliah satu tahun di sana tapi katanya dia tidak betah," kata Om Tomo dengan memulai topik pembicaraan yang serius setelah sebelumnya mereka hanya bernostalgia.
"Oh gitu, mau lanjut kuliah di mana?" tanya Ayah Artyo kepada Luna.
"Rencananya ambil Fakultas Kedokteran di Universitas Radjamada, Om," jawab Luna singkat dan jelas.
"Wah sama dong dengan anak Om dia juga mendaftar di situ," kata Ayah Artyo yang kemudian memanggil anaknya yang masih di kamar untuk datang ke ruang tamu.
"Ini loh anak Om, namanya Artyo," kata ayahnya lagi setelah Artyo sampai ke ruang tamu.
"Halo, Om Tante," sapa Artyo sambil bersalaman dengan Om Tomo dan istrinya, serta Luna. Dengan senyum kecil yang sedikit dipaksakan akhirnya Artyo mau tidak mau harus bergabung di ruang tamu.
Luna melihat Artyo cukup lama. Dia memperhatikan Artyo dari ujung kaki ke ujung kepala. "Lumayan cakep juga cowok ini," kata Luna dalam hati. Apalagi saat itu Artyo sedang memakai minyak wanginya, semakin terpesonalah wanita-wanita yang ada di dekatnya.
"Kebetulan sekali kalau begitu, semoga kalian bisa dekat dan bisa saling mengenal ya," kata Ibu Luna dengan senyum senang.
"Iya harus itu, apalagi bapaknya sahabatan gini kan," kata Ayah Artyo sambil tertawa dan menyetujui perkataan itu. "Kalau boleh tau kenapa memilih pindah ke sini dan tidak melanjutkan kuliah di sana?" tanya Ayah Artyo lagi yang ditujukan kepada Luna.
"Suasana di sana gitu-gitu aja Om, dari kecil di sana terus lama-lama bosan juga. Pengen mencari suasana baru," kata Luna.
"Sebelumnya ambil jurusan kedokteran juga?" tanya Artyo seadanya daripada dia hanya diam saja.
"Sebelumnya ambil jurusan kesehatan masyarakat, tapi karena nggak begitu sreg makanya sekarang ambil kedokteran." jawab Luna sambil menatap Artyo.
"Oh gitu," ucap Artyo singkat.
Tiba-tiba suasana menjadi hening. Mungkin karena jawaban Artyo yang sangat singkat itu. Untungnya Ibu Artyo datang menyelamatkan suasana yang hening itu dengan mengajak semuanya menuju ke ruang makan. Ibunya sudah menyiapkan menu spesial untuk dua keluarga itu makan bersama.
__ADS_1
Seketika suasana menjadi hangat kembali, Ayah Artyo dan Om Tomo menikmati makanannya dengan lahap, Ibu Artyo dan Ibu Luna makan dengan santai sambil sesekali cekikikan bareng karena melihat suami mereka yang sama-sama jago makan. Sedangkan Artyo dan Luna hanya diam dan menikmati makanan mereka.
***
Om Tomo adalah seorang pengusaha sukses di kotanya. Dia memiliki persewaan alat berat yang terkenal dan sangat lengkap. Banyak proyek-proyek besar yang sudah perusahaannya kerjakan. Karena itulah, dia dan keluarganya memiliki hidup yang sangat berkecukupan.
Dia dan istrinya sebenarnya sangat sedih ketika anak semata wayangnya itu meminta izin untuk melanjutkan kuliah di kota yang jauh dari tempat tinggal mereka. Sudah sering ibunya membujuk Luna untuk tetap tinggal di rumah dan malanjutkan kuliah di sana saja, tapi pilihan dan kemauan Luna sudah tidak bisa diganggu gugat.
Akhirnya Om Tomo dan Istrinya hanya bisa merelakan anaknya itu, serta memberikan fasilitas yang membuat Luna bisa hidup dengan nyaman selama berada di kota orang.
***
Holy membaca chat dari Artyo. Dia merasa sedikit kecewa karena dia sudah berdandan dan bersiap untuk pergi. Tapi, akhirnya Holy hanya bisa memaklumi dan menghapus lagi makeup-nya. Dia pun keluar kamar dan membantu menjaga kasir di warung.
"Lho nggak jadi pergi sama Artyo?" tanya ibu kepada Holy.
"Enggak Bu, Artyo lagi ada tamu di rumahnya," jawab Holy dengan nada sedikit sedih.
Padahal hari ini Holy akan memberitahu Artyo kalau dia sudah menentukan pilihan. Dan berharap Artyo juga senang mendengar keputusannya.
Holy bisa saja memberitahu Artyo lewat chat ataupun video call, tapi buat Holy ketemu langsung lebih seru dan lebih menyenangkan. Apalagi bisa menatap mata Artyo dengan sesuka hatinya.
***
Keesokkan harinya Holy masih menunggu kabar Artyo. Dia tidak mau terjadi seperti kemarin lagi, rugi di-makeup pikirnya. Holy menunggu dan menunggu hingga siang hari ternyata belum ada kabar juga dari Artyo.
"Artyo apakah hari ini masih ada tamu lagi?" akhirnya Holy bertanya kepada Artyo melalui chat. Cukup lama Holy menunggu balasan dari Artyo. Dari informasi WA-nya dia terakhir dilihat kemarin pukul 23.00. "Hmm ngapain dia buka WA sampai malam sekali, biasanya pukul 21.00 aja dia udah tepar di tempat tidur," pikir Holy.
__ADS_1
Satu jam kemudian, HP Holy bergetar. Ternyata itu pesan dari Artyo.
"Maaf Holy aku lupa mengabari, semalam aku kelelahan. Aku disuruh menemani anak dari teman ayahku untuk berjalan-jalan mengelilingi kota. Sampai malam banget dan tadi pagi saat aku bangun, aku disuruh menemani dia lagi untuk mencari apartemen. Semoga besok kita bisa menjalankan misi kita ya!" balasan Artyo cukup panjang.
Hati Holy semakin tidak karuan, dia bertanya-tanya siapakah anak dari teman ayahnya itu? Apakah laki-laki atau perempuan. Holy sangat penasaran tapi dia mengurungkan niatnya untuk menanyakan itu.
"Oke Tyo, nggakpapa.
Iya semoga besok kita bisa melanjutkan misi kita.
Dan aku punya hal penting yang ingin aku beri tahu kepadamu," balas Holy lagi.
"Hal penting apa?" balas Artyo singkat.
"Ada deh, besok aja saat kita bertemu."
Artyo sudah tidak membalas pesan dari Holy lagi.
***
Artyo sedang di mobil sambil mengotak-atik HP-nya. Ternyata dia sedang menunggu Luna di depan hotel tempat Luna dan keluarganya tidur selama di kota itu. Dengan baju bunga-bunga dan celana jeans putih membuat Luna terlihat bercahaya saat keluar dari hotel.
Artyo melihatnya dengan tatapan biasa saja. Sejak semalam dia keluar bersama Luna dia tidak begitu excited, mungkin karena mereka belum begitu mengenal.
Awalnya Artyo sendiri kaget karena kemarin setelah mengantar Om Tomo sekeluarga kembali ke hotel, tiba-tiba saja Ibu Luna menyuruhnya untuk mengajak Luna berjalan-jalan berdua mumpung belum begitu malam. Karena Artyo adalah anak yang penurut maka dia pun mengiyakan.
Luna ternyata berbeda dari yang dia bayangkan. Setelah ayah ibunya keluar dari mobil, dia menjadi Luna yang cerewet dan banyak tanya. Sampai-sampai dia kelelahan dibuatnya.
__ADS_1
Luna juga mengajak Artyo untuk mencari tempat nongkrong yang asik untuk menikmati suasana malam di kota itu. Cukup lama mereka berbincang-bincang, hingga akhirnya Artyo tidak tahan lagi, dia sudah sangat mengantuk dan mengajak Luna untuk segera pulang. Sesampainya di hotel Luna meminta nomor WA Artyo, lalu Artyo pun pamit pulang.
Di perjalanan pulang Artyo hanya memikirkan satu orang yang membuatnya kembali bersemangat lagi, dia berharap besok bisa bertemu dengan orang itu.